Thursday, October 12, 2017

Sumber- Sumber Akhlak Menurut Agama Islam


Darimana Sumber Akhlak dalam Islam?

Akhlak sebagaimana juga aqidah dan syariah mempunyai nilai-nilai tersendiri, meskipun demikian dia tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Garis-garis akhlak dalam Islam mengandung pokok­-pokoknya saja ia terdiri dari dua, yaitu: "Akhlak sesama makhluk dan akhlak makhluk dengan Khaliknya. Akhlak terhadap makhluk ini juga terbagi kepada akhlak terhadap diri sendiri, masyarakat dan tetangga, serta akhlak terhdap sesama manusia (flora dan fauna)".
Dari penjelasan diatas bahwa manusia selalu memperhatikan dirinya, dan senantiasa bersama untuk menyelamatkan serta memelihara hidupnya agar tetap aman dan bahagia. Berdasarkan reality inilah manusia memenuhi berbagai kebutuhan hidup guna mencapai bahagia dan rasa aman. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak mungkin akan tercapai dan dipenuhi dengan cara hidup sendiri untuk ini ia memerlukan relasi atau hubungan (interaksi) dengan manusia lainnya. Dengan demikian selain sebagai makhluk individu, manusia disebut juga sebagai makhluk sosial, karena itu muncul suatu sifat dan pengertian dan saling memenuhi kewajiban untuk tidak merugikan orang lain. Hal di atas sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al- Qashash  ayat 77  yang  berbunyi sebagai berikut:

وابتغ فيما اتك الله الدارالاخرةولاتنس نصيبك من الد نيا واحسن كما ا حسن ا لله ا لياك ولا تبخ دفي الارض ان الله لا يحب المفسدين (القصص :77)




Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan Allah kepadmu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS. Al-Qashash: 77).

Berdasarkan ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa manusia disamping statusnya sebagai makhluk sosial, dia juga merupakan seorang hamba Allah SWT yang dituntut senantiasa untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain dalam hidupnya ini manusia dituntut untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta wajib berakhlak kepada penciptanya, kepada sesame manusia bahkan kepada alam semesta ini. Imam Al-Ghazali memberi pedoman atau acuan yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk diteladani sebagai berikut:

Pentingnya hubungan akhlak dengan iman, dan iman adalah kaedah yang benar, iman sebagai dasar segala kebaikan dan kebenaran didunia serta keselamatan di akhirat. Masalah akhlak tidak kalah pentingnya dari amalan yang lain, dalam pembinaan harus dapat petunjuk serta nasehat-nasehat secara terus menerus agar dapat meresap dalam hati dan merekat dalam ingatannya, hingga menjadi keyakinan bahwa iman, kebaikan dan akhlak adalah unsur-unsur yang erat kaitanya, tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.

Dalam sebuah Hadist Rasullullah SAW bersabda:


عن ابي هريرةرضي الله عنه ان ر سو ل الله صل ا لله عليه و سام قال: ا كمل ا لمؤ مين ا يمانا ا حسنم خالقا (رواه البيهقي)

Artinya: "Dari Abu Hurairah.ra. Bahwasanya Rasullullah bersabda: Sebaik­baiknya iman orang mukmin yang baik adalah akhlaknya". (HR. Baihaqi).

Dari sabda Nabi diatas, dapat dipahami bahwa manusia yang mempunyai akhlak yang baik akan senantiasa dihargai dan dihormati oleh orang lain maka sebaliknya orang yang mempunyai akhlak yang jahat dia akan dibenci dan tidak akan disukai dalam masyarakat. Sebagaimana dipahami bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna susunannya bila dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Dengan segala unsur yang ada, manusia mempunyai bakat atau potensi untuk meningkatkan statusnya ke taraf yang lebih mulia, apabila potensi itu dikembangan dan dipergunakan sesuai pada tempatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Tin ayat 4 sebagai berikut:

لكد خلكنا الانسا ن في احسن تقويم (التين :4)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik­baiknya. (Q.S. At-Tin: 4).

Dari pengertian ayat diatas membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan oleh Allah SWT bila dibandingkan dengan makhluk yang lain. Meskipun demikian manusia juga mempunyai kecendrungan kearah martabat yang lebih rendah, yaitu hewan. Bahkan lebih rendah lagi, apabila manusia tidak memelihara dan tidak menggunakan potensi jasmaniah dan rohaniah sesuai dengan petunjuk yang sudah Allah berikan.

Dari uraian diatas dapat dibuat kesimpulan bahwa, dasar-dasar pembinaan akhlak telah digariskan dalam firman Allah dan hadist Rasullullah SAW. Manusia sebagai makhluk yang paling sernpurna mempunyai potensi untuk lebih mulia dan juga memungkinkan menjadi makhluk yang paling hina. Kedua hal tersebut ditentukan oleh akhlak manusia itu sendiri. Jika manusia itu memiliki akhlak yang mulia maka ia dapat mengangkat martabatnya keposisi yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT, namun jika seorang manusia mempunyai akhlak yang buruk, maka ia telah merendahkan martabatnya melebihi dari posisi binatang yang paling hina.  

Oleh sebab itu maka umat Islam harus melandaskan sikap dan tingkah lakunya kepada Al-Qur'an dan meneladani akhlak Rasullullah SAW agar mereka dapat hidup bahagia didunia dan akhirat. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an merupakan sumber akhlak. Sumber akhlak dalam al-qur'an tercermin dalam sikap dan perilaku Nabi SAW. 

Baca Juga:
Membentuk Moralitas Kaum Remaja Masa Kini

 Dampak Negatif Ketidaksiapan Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pembinaan Anak