Friday, October 6, 2017

Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam pembinaan etika remaja

Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam pembinaan etika remaja

Ketika anak dilahirkan yang tebersit dalam hati adalah ingin menjadikan anak tersebut menjadi anak yang shaleh. Untuk mewujudkan itu semua, maka proses pendidikan yang dijalani anak tersebut harus benar. Remaja akan terbiasa berprilaku dengan apa yang dialaminya ketika mereka masih anak-anak Remaja akan terbiasa dengan apa yang diajari dan terbiasa dengan apa yang dialami ketika ia masih anak-anak.

Namun yang mewujudkannya, mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu, ayahpun mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mendidik dan membimbing anak untuk mengenal siapa Tuhannya, Nabinya dan apa-apa yang diajarkan dalam al-Qur'an dan al-Hadist.



Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 78 :

Dan allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahlu: 78)

Allah SWT menjadikan pada diri manusia daya plastisitas (kemampuan menerima kebaikan maupun keburukan) yang didasari suatu hikmah rahasia ilahi yang Dia kehendaki atas umat manusia. "Anak merupakan tahapan awal untuk melangkah ke tingkat remaja."  Bila anak terbiasa dengan kebaikan maka ketika remaja dia akan terbiasa dengan kebaikan. Maka orang tua sangat mempengaruhi etika remaja dalam lingkungan keluarga.

Oleh karena itu Nabi SAW memerintahkan para orang tua untuk melatih dan menganjurkan anak untuk taat dan berbuat yang ma’ruf.  "Rasulullah menganjurkan orang tua untuk mendidik anak-anak supaya mendirikan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukul mereka jika mengabaikannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkan (tempat tidur) mereka." Hal ini merupakan langkah pembiasaan dalam melatih kebaikan dan kebiasaan itu akan dibawanya ketika ia dewasa.

Semuanya itu demi membiasakan anak-anak untuk berdisiplin ketika anak tersebut menjadi remaja dan dewasa. Rasulullah juga bersabda: “Jika seorang anak telah dapat membedakan tangan kanannya dari yang kiri maka suruhlah ia shalat." Ini adalah petunjuk Nabi SAW bagi para orang tua dalam hal mendidik anak-anak mereka untuk beribadah, agar kelak mereka menjadi self disciplined dan merasa ringan menunaikan ibadah.

Abu A’la mengatakan bahwa “Para pemuda itu tumbuh dan berkembang dengan perilaku yang telah dibiasakan oleh kedua ibu bapaknya. Pemuda tidak dapat ditaklukkan oleh akal semata, melainkan oleh pembiasaan beragama dari orang-orang terdekatnya.”

Pendidikan anak-anak merupakan kewajiban yang sulit dan berat, demikian pula mengajak mereka kepada kebaikan, dan mengarahkan mereka kepada amal shalih yang berguna dalam berbagai bidang kehidupan. Namun hal itu merupakan kewajiban sebagaimana firman Allah SWT dalam Qur'an Surat At- tahrim ayat 6 yang menyatakan  

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." 

Oleh sebab itu jika seorang anak berada di lingkungan rumah (keluarga) yang istiqamah (seluruh anggotanya berpegang teguh pada agama mereka dan akhlak mulia, kedua ibu bapaknya berkomitmen kepada ilmu, akhlak dan adab), niscaya ia tumbuh dan berkembang menjadi shalih dan istiqamah pula. Hal sebaliknya juga dapat bisa saja terjadi karena Allah menjadikan dua jalan kepada hambanya.



Hal-hal yang perlu dijauhi oleh orang tua ketika mendidik anak remaja antara lain :
Otoriter
"Otoriter adalah merupakan suatu sikap yang terjadi pada orang tua yang merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah yang terbaik untuk anak-anaknya, tanpa pernah memperdulikan perasaan si anak." Hal ini sangat bertentangan dengan sifat remaja yang ingin memulai sesuatu dengan keinginannya sendiri dan ingin pendapatnya diterima. 

Kontradiktif 
"Kondradiktif adalah sifat yang berlawanan, bersikap kontradiksi, atau bertentangan." Sifat ini bisa kita lihat dari ketidaksesuaian antara ucapan dengan perbuatan yang dilakukan orang tua di hadapan anak. Hal ini sangat mempengaruhi etika mereka ketika mereka beranjak dewasa. 

Overprotektif 
"Overprotektif adalah suatu sifat cemas yang berlebihan yang dimiliki oleh orangtua terhadap anak-anaknya." Bagi setiap orang tua, anak adalah permata paling berharga yang harus dilindungi setiap saat sampai ia beranjak remaja. Selalu ada rasa cemas apabila anak yang sudah remaja bergaul atau mulai sibuk dengan kegiatan luar rumah, yang pada hakikatnya rasa cemas itu memang beralasan, takut anaknya salah dalam pergaulan.

Namun orang tua harus menyadari sifat cemas atau rasa protektif yang berlebihan akan membuat remaja tertekan dan merasa tidak bebas melakukan sesuatu. Merasa hidup selalu dibawah naungan dan baying-bayang kecemasan orang tua. Overprotektif orang tua terhadap anak akan mengakibatkan remaja tidak bisa mendapatkan jati dirinya karena mereka tidak menjadi diri sendiri. 

Interaksi yang buruk 
"Interaksi yang buruk merupakan hubungan orang tua dengan anak yang mengalami broken home." Ada kemungkinan disebabkan oleh kesibukan orang tua dalam pekerjaan atau karirnya sehingga jarang berkomunikasi dengan anak-anaknya. "karena rumah bagaikan syurga karena adanya suasana keakraban dan kekeluargaan dan bisa jadi rumah bagaikan neraka karena tidak adanya suasana keakraban dan kekeluargaan.

Maka peran orang tua sangat mempengaruhi etika remaja yang cikal bakalnya adalah pada masa anak-anak. "Keluarga merupakan tempat pertama kali anak melakukan fungsi sosialisasinya." Proses yang terjadi antara anak dan orangtua tidaklah bersifat satu arah, namun saling mempengaruhi satu sama lain. Artinya, anak belajar dari orangtua, sebaliknya, orangtua juga belajar dari anak. Proses sosialisasi yang terjadi dalam keluarga lebih berbentuk sebagai suatu sistem yang interaksional. Bahkan hubungan antara suami dan istri pun akan mempengaruhi perkembangan anak. Pola pengasuhan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis remaja. 

Orangtua yang cenderung otoriter, dimana mereka menghendaki anak untuk selalu menuruti keinginan orangtua tanpa ada kesempatan bagi anak untuk berdialog, akan menghasilkan pemuda yang cenderung cemas, takut, dan kurang mampu mengembangkan keterampilan berkomunikasinya. Sebaliknya, orangtua yang cenderung melepas keinginan anak akan menyebabkan anak tidak mampu mengontrol perilaku dan keinginannya dan dapat membentuk pribadi anak yang egois dan dominan.  


Sebagai jembatan dari kedua pola pengasuhan yang ekstrem tersebut, maka pola pengasuhan demokratislah yang dapat menjadi solusi terbaik bagi para orangtua untuk dapat mengoptimalkan perkembangan psikologis anaknya. "Orangtua yang demokratis menghendaki anaknya untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan bebas namun tetap memberikan batasan untuk mengendalikan perilaku mereka." 
Dalam hal ini, cara-cara dialogis perlu dilakukan agar anak dan orangtua dapat saling memahami pikiran dan perasaan masing-masing. Hukuman dapat saja diberikan ketika terjadi pelanggaran terhadap hal-hal yang bersifat prinsip. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa hukuman tersebut harus disertai dengan penjelasan yang dialogis agar anak mengerti untuk apa mereka dihukum dan perilaku apa yang sebaiknya dilakukan. 

Jadi yang harus diberikan orang tua terhadap anak untuk menciptakan etika yang baik adalah :
  1. "Membiasakan anak berakhlak Islami dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku dan sebagainya, sehingga semua kelakuannya menjadi terpuji menurut Islam." Karena remaja akan terbiasa dengan apa yang dilakukan pada mereka masih berusia anak-anak.
  2. "Menanamkan etika malu" karena malu pada tempatnya akan memberikan pengaruh etika yang baik dan membiasakan minta izin keluar/masuk rumah, terutama ke kamar orang tuanya, teristimewa lagi saat-saat zhahiirah dan selepas shalat Isya.
  3. "Berlaku kontinuitas dalam mendidik, membimbing dan membina mereka." Karena apabila dalam mendidik dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi kebiasaan ketika ia beranjak remaja. Demikian juga dalam penyandangan dana dalam batas kemampuan, sehingga sang anak mampu berdikari.
  4. "Berlaku adil dalam memberi perhatian, washiyat, biaya dan cinta kasih kepada semua mereka." Karena keadilan dan kebijaksanaan dalam memperhatikan anak-anak akan menciptakan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan dalam rumah tangga. Sehingga remaja merasa diperhatikan oleh orang tuannya. Dan remaja akan mendengar kebaikan dari orang tua.
Untuk itu para orang tua selayaknya memperhatikan masalah-masalah penting tentang pendidikan anak seperti hal-hal berikut ini:
  1. "Menumbuhkan jiwa kehambaan pada anak." Pada dasarnya tujuan pokok dalam mendidik anak adalah untuk menumbuhkan dan membangkitkan jiwa kehambaan dalam diri mereka. Menyiramkan dalam jiwa mereka dan senantiasa membiasakan sikap tersebut. Merupakan nikmat Allah adalah mereka diciptakan dalam fitrah Islam, tugas kita hanya menjaga, mengontrol dan memperhatikan agar tidak mernyimpang dari fitrahnya.
  2. "Menanamkan rasa cinta terhadap Allah. menanamkan dalam jiwa anak rasa pengagungan, kecintaan dan tauhid (pengesaan) kepada Allah. memperingatkan mereka dari berbagai kesalahan dalam hal akidah dan keyakinan, jangan sampai mereka terjerumus di dalamnya. Biasakan pula mereka melakukan amar makruf dan nahi munkar.
  3. "Menekankan keteraturan menunaikan Shalat." Shalat adalah kewajiban paling penting dan banyak manfaatnya bila dilakukan dengan benar dan ikhlas. Oleh karena itu orang tua harus tegas dan disiplin menanamkan kebiasaan shalat kepada anak-anaknya. Dalam sebuah hadist, nabi bersabda “ Perintahkan anak-anak kalian shalat saat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannnya ketika berumur sepuluh tahun.
  4. "Mendidik anak adalah ibadah." Seorang ayah dan ibu tatkala mendidik anak, memberi nafkah, menjaga hingga larut malam, mengawasi dan menggajar mereka, maka saat itu dia sedang melakukan ibadah kepada Allah.
  5. "Ikhlas dalam mendidik anak." Mendidik anak harus dengan ikhlas, jangan semata-mata karena tujuan duniawi. Mendidik anak diniatkan untuk mencari pahala disisi Allah. Adapun profesi, pekerjaan, kedudukan dsb akan ikut dengan sendirinya. Contoh menyekolahkan anak ke Fakultas Kedokteran dengan niat agar dapat membantu kaum muslimin.
  6. "Tidak melupakan doa." Para Nabi dan rasul telah berdoa untuk kebaikan anak dan istri-istri mereka dengan doa-doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Berapa banyak orang yang tersesat, akhirnya mendapat petunjuk dengan sebab doa.
  7. "Mencari penghasilan yang halal." Karena nafkah dari harta yang haram akan mempengaruhi perilaku anak.
  8. "Teladan yang baik. Sudah menjadi keharusan bagi orang tua melakukan untuk dirinya sendiri sebelum menyuruh anaknya melakukan. Tauladan merupakan suatu cara dalam menampakkan tingkah laku kepada remaja. Remaja akan mengikuti teladan yang baik yang dinampakkan orang tua. "
  9. "Memilih metode yang terbaik." Orang tua perlu memahami metode-metode mendidik anak melalui membaca,
  10. "Kesabaran orangtua." Orang tua harus berusaha sabar dalam segala hal. Ada pun hidayah adalah urusan Allah SWT. Orang tua tidak boleh berputus asa dan harus terus berusaha dalam kondisi apapun.
  11. "Memperhatikan bakat, minat dan kemampuan anak." Orang tua hendaknya memperhatiakan kelebihan, bakat, minat dan perbedaaan masing-masing anak, dan bersikap adillah terhadap mereka. Ini penting untuk tumbuh kembang anak secara optimal.
  12. "Memasakan anak-anak untuk melakukan hal-hal baik dan positif." misalnya olah raga, rekreasi (untuk menghargai alam), bersedekah dan untuk lebih menghargai hidup dan mengasah empati mereka agar anak sekali-kali diajak ke panti asuhan, melihat anak-anak terlantar.
"Menanamkan kedisiplinan dalam segala hal. Ini sangat penting untuk menghadapi hidup yang penuh tantangan. Dengan kedisiplinan dalam segala hal maka ketika ia beranjak dewasa mereka akan mengikuti disiplin dalam beretika. "
Baca Juga:
Peranan Sumber Daya Manusia dalam Kehidupan
Trik Untuk Menjadi Pria Idaman
DAMPAK NEGATIF KETIDAKSIAPAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK
MEMBENTUK MORALITAS KAUM REMAJA MASA KINI 
Membentuk Moralitas Kaum Remaja