Wednesday, October 25, 2017

Penularan Penyakit Kusta dan Cara Mengobatinya


Cara penularan penyakit kusta

Meski pun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas penularan didalam rumah tanggan kontak/hubungan dekat dalamwaktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan.Berjuta-juta basil yang dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita kusta pausibasilar yang tidak diobati , dan basil terbukti dapat selama 7 hari pada lendir hidung yang kering.


Ulkus kulit pada penderita kusta pausibasilar dapat menjadi sumber  penyebar basil.Organisme kemungkinan masuk melalui saluran pernafasan atas dan jugamelalui kulit yang terluka.Pada kasus anak-anak dibawah umur 1 tahun, penularannya diduga melalui plasenta. Masa tunas sangat bervariasi antara 40 tahun, umumnya 3-5 tahun.Dua pintu keluar dari mycobakterium leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung.Telah dibuktikan bahwa kasus pausibasilar menunjukakn adanya sejumlah organisme didermis kulit.

Timbulnya penyakit bagi seseorang tidak mudah,dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain:

Faktor sumber penularan Penyakit Kusta

Sumber penularan adalah penderita penyakit  kusta tipe  multibasilar.

Faktor kuman kusta
kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1-9 hari tergantung pada suhu atau cuaca , dan diketaui hanya kuman utuh saja yang dapat menimbulan penularan.
Faktor daya tahan tubuh
sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta

Diagnosis Penyakit Kusta

Secara umum diagnosis kusta ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, bakterioskopik dan histopalogik. WHO menganjurkan pemeriksaan klinis untuk memudahkan pelaksanaan dilapangan, dan membagikannya menjadi tipe pausibasilar ( PB ) dan multibasilar (MB).

Dibuat diagnosis tipe PB bila didapatkan lesi kurang dari 5 buah dengan 1 gangguan saraf tepi. Sedangkan tipe MB bila didapatkan lebih dari 5 lesi, dengan gangguan saraf tepi lebih dari 1 cabang saraf.

Pemeriksaan bakterioskopik.

Pemeriksaan BTA dapat dilakukan dengan kerokan jaringan kulit, hembusan nafas hidung, atau usapan dan kerokan mukosa hidung.

Pemeriksaan histopatologik

Bila pemeriksaan bakteroskopik memberikan hasil negative, sedangkan klinis masih meragukan, maka pemeriksaan penunjang dilakukan dengan biopsy dan pemeriksaan histopatologik. Keuntungan pemeriksaan ini ialah dapat terlihat  perubahan histologik penyakit kusta tahap awal, pada saat gambaran klinis belum jelas benar.

Pemeriksaan serologic


Pemeriksaan serologic kusta  didasarkan atas terbentuknya anti body pada seseorang yang telah terinfeksi basil kusta. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat, khususnya pada kasus subklinis.
Pemeriksaan serologic yang sering digunakan ialah :

Uji MLPA ( Mycobacterium posticle agglutination )
Uji ELISA (Enzime Linked immune – sorbent assay ).

Pengobatan Penyakit Kusta

Pengobatan penyakit kusta dilakukan dengan dapson sejak tahun 1952 diindonesia,memperhatikan hasil yang cukup memuaskan, hanya saja pengobatan  monoterapi  sering mengakibatkan timbul masalah resistensi, hal ini disebabkan oleh karena:

Dosis rendah pengobatan yang tidak teratur dan terputus akibat dari lepra reaksi.
Waktu makan obat sangat lama sehingga membosankan akibatnya penderita makan obat tidak teratur.

Selain penggunaan DDS(Diamino difenil sulfon) pengobatan penderita kusta dapat menggunakan lamprine, rifamfisin, prednison, sulfat feros dan vitamin A (untuk menyehatkan kulit yang bersisik).Setelah penderita menyelesaikan pengobatan MDT sesuai dengan peraturan maka ia akan menyatakan  RFT (Relasif from Treatment), yang berarti tidak perlu lagi makan obat MDT dan dianggap sudah sembuh.