Wednesday, October 18, 2017

Peningkatan Sumber Daya Manusia di Era Ini

Dengan prioritas peningkatan sumber daya manusia, memandang bahwa Indonesia adalah bagian dari dunia Internasional yang harus mempersiapkan diri dalam pergulatan global yang penuh kompetitif. Karena dengan tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, Indonesia bisa survive di tengah pertarungan ekonomi dan politik Internasional yang terus kian kompetitif.

Dunia modern dalam transisi pendidikan menuntut beberapa daya dan kemampuan dari bangsa kita, khususnya manusia yang menjadi sumber dari berbagai daya tersebut. Dengan demikian, harus menumbuhkembangkan secara optimal daya-daya seperti daya saing (kompetisi) yang terkait dengan sifat-sifat inisiatif, kreativitas, keuletan dan kecerdasan. Meningkatkan daya saing, akan membawa ke dalam wawasan keunggulan, yaitu cara pandang seseorang atau masyarakat yang melahirkan cara berpikir, bersikap dan berprilaku yang senantiasa mengupayakan hasil maksimal dari potensi yang ada.


Dalam era globalisasi, kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari sisi besarnya jumlah produksi materi yang dihasilkan. Karena era kontemporer, corak hidup berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sumber daya manusia selalu siap dipandang dan dinilai dalam persfektif sains. Olehnya itu, rendahnya kualitas sumber daya manusia lazim pula dikaitkan dengan rendahnya produksi. Dengan demikian, kualitas sumber daya manusia sangat urgen untuk senantiasa ditingkatkan demi pengembangan produksi yang menjadi asset bagi eksisnya suatu bangsa di tengah pergumulan global.
Kualitas sumber daya manusia memiliki parameter sebagai kontrol evaluasi, ketika kualitas sumber daya manusia tersebut tidak sesuai tuntutan zaman, maka perlu pembenahan secepat mungkin dengan melakukan action dan internalisasi sesuai profesi dan orientasi seseorang. 

Menurut  Wahyud Richwiyanto, kualitas sumber daya manusia setidak-tidaknya dibentuk oleh beberapa komponen, yaitu komponen pendidikan, komponen jasmani dan rohani, komponen prilaku nyata, komponen penyebaran (aspek geografis). Beberapa komponen di atas, memberikan gambaran bahwa kualitas sumber daya manusia terakumulasi dan dipengaruhi oleh bagaimana kualitas atau prestasi pendidikan, kesempurnaan atau keutuhan jasmani dan rohani secara integral, etos kerja yang menjadi kultur dan mission hidupnya serta situasi dan kondisi lingkungan dimana ia berada. 

Menjadi manusia yang berkualitas merupakan hal yang berat. Untuk mendekati ke arah sana membutuhkan proses baik secara sistematik maupun secara dinamik, dengan pendekatan elektik holistic. Yakni memandang kesatuan manusia dengan lingkungannya, sementara manusia sendiri sebagai kesatuan bio-psiko-sosial, terdiri atas unsure – unsur biologis, fisik, mental dan sosial budaya. Hal ini terejawantahkan ke dalam rumusan GBHN RI tahun 1993 dengan mengidentifikasi cirri-ciri manusia yang berkualitas yaitu :

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab, produktif, sehat jasmani dan rohani. 

Kualitas sumber daya manusia yang unggul menjadi tuntutan dan kebutuhan zaman. Era kontemporer merupakan personofikasi dari era modern, yang tentunya membutuhkan manusia yang berkarakter sesuai warna zamannya. Oleh karena itu, Alex Inkeler menelorkan gagasannya dengan menentukan ciri – ciri manusia modern, yaitu sebagai berikut :



Senada dengan penjelasan di atas, Syahrin Harahap menambahkan dari sisi geo-kultural dan structural sebagai sebuah hirarki stratum menjadi manusia yang unggul. Olehnya itu, ia berpendapat bahwa cirri-ciri manusia berkualitas adalah :

Memiliki iman dan taqwa serta moralitas, tanggung jawab pribadi dan sikap jujur, fisik jasmani yang sehat, menghargai ketepatan waktu, etos kerja yang tinggi, visi yang jelas mengenai masa depannya, menghargai dan memiliki ilmu pengetahuan.
 
Sedangkan menurut Emil Salim, bahwa mengenai kualitas manusia lebih menekankan pada aspek potensi yang terakhir dari kesempurnaan jasmani dan keagungan rohani. Hal ini beliau mengelompokkan kualitas manusia dengan dua kategori yaitu :

Kualitas fisik (badaniyah) yakni ukuran dan bentuk badan, daya atau tenaga, kesegaran dan kesehatan jasmani; kualitas non-fisik (bathiniah) yakni kualitas pribadi yang melekat pada diri, hubungan dengan pihak lain, kekaryaan seperti produktivitas, disiplin, keswadayaan, keswakaryaan, dan wawasan masa depan. 

Prototype sumber daya manusia yang berkualitas dalam persfektif ke-ilahi-an, memberikan aksentuasi pada pola kehidupan yang seimbang. Keseimbangan merupakan spectrum nilai bagi masyarakat yang religius. Dengan relevansi kemajuan, sumber daya manusia senantiasa bertitik tolak pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan pemantapan iman dan taqwa (Imtaq). Sumber daya manusia adalah manusia yang memiliki kualitas yang seimbang, beriman, berilmu (beriptek) dan beramal saleh, cakap baik secara lahiriah maupun bathiniah, memiliki kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional. Dengan analisis dan pembahasan di atas, penulis memandang bahwa prototype sumber daya manusia berorientasi pada keseimbangan teosentris, dan antroposentris.