Sunday, October 8, 2017

DAMPAK NEGATIF KETIDAKSIAPAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK



Tak bisa dipungkiri bahwa pola asuh yang tidak tepat akan membuahkan perkembangan anak yang tidak optimal. Anak tumbuh jadi pribadi agresif, tidak bisa mandiri, dan tipis rasa percaya dirinya. Menurut Evi Elviati, Psi., banyak hal yang menjadi faktor penyebabnya. Salah satunya adalah ketidaksiapan orang tua mendapatkan buah hati.
Seberapa jauh soal ketidaksiapan orang tua memperoleh anak perlu ditelusuri jauh ke belakang sebelum mereka menikah. Umumnya mereka tidak tahu atau tidak memikirkan secara matang bagaimana rencana jangka panjang setelah menikah. Semisal apakah mau punya anak atau tidak. Lalu jika ya, kapan sebaiknya memiliki anak. Apakah segera setelah menikah, ataukah ditunda lebih dulu sampai mereka merasa mapan, baik secara mental maupun finansial.

PEMICU KETIDAKSIAPAN


Secara mental ketidaksiapan orang tua bisa dipicu oleh beberapa penyebab, seperti umur orang tua yang terlalu muda, masih sekolah/kuliah, serta tidak tahu bagaimana caranya mendidik anak. Sementara dari faktor finansial umumnya lebih karena kondisi keuangan keluarga yang belum mendukung. Entah suami belum punya pekerjaan tetap, suami/istri sedang sibuk mengejar karier, melanjutkan pendidikan, ataupun sudah punya banyak anak. Semua hal tersebut bisa menjadi pemicu ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran si kecil di tengah-tengah mereka, apalagi mendidiknya.





Padahal ketikdaksiapan ini akan berbuntut panjang. Pasangan suami istri seperti ini jadi tidak pernah mandiri. Pasalnya, mereka akan selalu menggantungkan segala sesuatunya pada orang tua mereka dalam pengasuhan si kecil. Jika ketergantungan tersebut dalam batas-batas wajar mungkin tidak terlalu jadi masalah. Artinya, kakek-nenek si kecil hanya merupakan pihak yang dimintai bantuan untuk sementara waktu.

Saat merawat si kecil, contohnya, pasangan muda memerlukan figur tempat bertanya. Nah, orang tua sebagai sosok yang telah banyak makan asam garam alias lebih berpengalaman tentu bisa dijadikan tumpuan. Idealnya, setelah belajar banyak dari orang tuanya, pasangan muda ini haruslah tetap belajar merawat anaknya sendiri.

AKIBAT KETERGANTUNGAN BERLEBIH 

Jika ayah dan ibu memiliki ketergantungan berlebih pada kakek-nenek tanpa mau belajar sedikit pun bagaimana caranya merawat dan mengasuh anak, orang tua sendirilah yang sebetulnya bermasalah. Apalagi jika bantuan yang diberikan tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga bantuan finansial. Jika kebiasaan tidak sehat semacam ini dibiarkan, dikhawatirkan kemandirian pasangan sebagai orang tua pun jadi terhambat. Sementara pasangan suami istri juga tidak terbebas dari bayang-bayang orang tuanya.
 
Konsekuensinya, pola asuh yang diterapkan mau tidak mau lebih "berbau" konsep kakek-neneknya dan bukannya pola asuh si orang tua. Namun ketergantungan berlebih ini sering membuat pasangan muda enggan protes karena sungkan. Kalau mereka protes, mungkin saja kakek-nenek akan melepaskan cucunya tanpa pengasuhan sama sekali yang justru membuat pasangan muda ini kelabakan.


Akibatnya, sangat mungkin terjadi inkonsistensi dalam pengasuhan karena orang tua tidak berani mengoreksi pola asuh kakek-nenek. Apa yang dilarang orang tua, contohnya, justru dibolehkan oleh kakek-neneknya. Sementara si anak sendiri pun akan bingung, mana yang benar dan perlu diikutinya serta mana pula hal yang salah.

AKIBAT PEMAHAMAN SALAH


Ketidaksiapan orang tua mengasuh anak, bisa juga disebabkan oleh minimnya wawasan orang tua terhadap pola asuh yang baik. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perkembangan anak, menyebabkan ia tidak tahu pola asuh terbaik buat anak-anaknya


Psikolog dari Essa Consulting Group ini menambahkan, minimnya wawasan tentang perkembangan anak, ditambah ketidaksiapan menjadi orang tua, akan membuat orang tua memiliki pemahaman salah. Salah satunya adalah menganggap anak sebagai miniatur manusia dewasa. Anak diperlakukan layaknya orang dewasa. Aturan yang dibuat pun tak jarang sama persis bagi orang dewasa. Tak heran banyak orang tua yang memberlakukan sanksi fisik yang keras buat anak.


Pendek kata, anak tidak diperlakukan sebagaimana fitrahnya untuk tumbuh dan berkembang melalui tahapan-tahapannya. Masing-masing menyimpan berbagai hal unik. Pemahaman yang salah membuat anak jadi tidak bebas bermain ataupun melakukan "kenakalan-kenakalan" yang wajar. Anak jadi kurang belajar karena bagaimana ia bisa tumbuh optimal jika lingkungan terdekatnya tidak mendukung. Padahal anak tidak secara otomatis bisa tumbuh mandiri menjadi dewasa. Ia butuh proses belajar dan orang tualah yang mesti mendidik dan memberi stimulasi.

AKIBAT DIANGGAP BEBAN





Kalau anak sudah dianggap sebagai beban yang memberatkan, sangat mungkin orang tua melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Itulah mengapa tindak kekerasan pada anak, baik secara fisik maupun nonfisik, umumnya merupakan indikator ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran sang buah hati.



Kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa, menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan lewat anggota tubuh seperti tangan atau kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain. Beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai tindak kekerasan fisik antara lain memukul, menjewer, dan menendang.


Sedangkan kekerasan nonfisik merupakan bentuk kekerasan yang melibatkan kata-kata, baik berupa ancaman atau kata-kata kasar atau yang tidak pantas. Tindakan ini bisa mengganggu atau menekan emosi anak sebagai korban. Secara kejiwaan, anak jadi tidak berani mengungkapkan pendapat, kelewat penurut dan terkondisikan sebagai sosok yang selalu bergantung. Akibatnya, anak dalam keadaan tertekan, takut, bahkan stres.


Dampak jangka panjangnya, anak akan merekam semua bentuk kekerasan yang pernah diterima/dialaminya. Besar kemungkinan anak akan tumbuh jadi pribadi yang agresif. Selanjutnya, kelak saat si anak jadi orang tua, bisa jadi ia akan menerapkan pola asuh berlandaskan kekerasan hingga terbentuk lingkaran setan yang tiada berujung.


AKIBAT DIANGGAP SUBORDINAT


Yang juga sering terjadi, orang tua menganggap anak sebagai subordinat alias bawahannya. Antara lain tampak dari pola asuh otoriter yang diterapkan pada anak. Anak dituntut untuk selalu mematuhi aturan yang diberlakukan orang tua. Protes merupakan perbuatan yang diharamkan, dan anak sama sekali tidak memiliki posisi tawar di hadapan orang tuanya. Anak diharuskan selalu mengalah pada orang tua dan tidak diperbolehkan melontarkan kritik terhadap apa pun yang dilakukan orang tua.


Akibatnya, muncul pemahaman bahwa anak selalu salah sementara orang tua tidak pernah salah. Tak heran kalau anak akan tumbuh menjadi pribadi yang apatis.


Anggapan anak sebagai subordinat juga membuat orang tua secara terus-menerus memosisikan anak sebagai bocah cilik atau sosok yang tidak dewasa. Anak tidak pernah dibiarkan tumbuh menjadi pribadi mandiri karena tidak mengenal budaya memilih. Ia terbiasa didikte tanpa pernah mendapat kesempatan untuk memilih. Selain menjadi apatis, sebaliknya bisa saja anak menjadi sosok yang selalu minta dilayani. Apa-apa selalu minta kepada orang tuanya. Semua yang diiinginkan tinggal teriak dan tunjuk pembantu.


Yang juga tak kalah menyedihkan, anak tidak pernah merasa dihargai pendapat dan usahanya. "Namanya juga anak-anak, tahu apa sih dia?" begitu yang selalu terlontar. Apa pun yang dilakukan anak dianggap tidak pernah sempurna. Padahal semestinya orang tua tetap memberi penghargaan. Saat anak membantu cuci piring, meski tidak sebersih hasil kerja orang tua, harusnya dipuji dan dihargai. Ingat, kemauan anak untuk membantu merupakan langkah awal menuju kemandirian.


DIANGGAP INVESTASI


Pemahaman lain yang kurang tepat akibat kurangnya wawasan adalah anggapan anak sebagai salah satu bentuk investasi. Jika orang tuanya petani, anak diibaratkan sebagai benih yang disebar di ladang luas. Setelah tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, si petanilah yang merasa berhak menikmati hasil panen. Memang tidak salah jika anak berkewajiban membantu orang tuanya. Bahkan agama pun menekankan pentingnya sikap berbakti kepada orang tua. Meski begitu, segala bentuk bantuan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak.


Seharusnya patut diingat bahwa anak juga mesti bertahan dalam mengarungi kehidupannya. Suatu saat ia akan membentuk keluarganya sendiri yang menjadi tanggung jawabnya. Pemahaman yang salah membuat beban tanggung jawab anak semakin berat. Selain harus memperjuangkan kehidupannya sendiri, ia pun mesti menanggung beban hidup orang tuanya.


PERSIAPAN MENTAL


Iya sih tidak semua keinginan manusia bisa dikabulkan karena semua terpulang pada Yang Maha Kuasa. Saat orang tua berharap tidak memiliki momongan dalam waktu dekat, kenyataan berbicara lain. Mau tidak mau orang tua mesti siap menerima keadaan tersebut. Nah, agar bisa siap menerima situasi dan kondisi apa pun, tak ada cara lain kecuali menambah wawasan tentang dunia anak lewat media apa saja. Bertanya kepada para pakar di bidangnya juga sangat dianjurkan agar orang tua semakin arif dalam mendidik putra-putrinya.


Memahami setiap tahapan perkembangan anak dan mengenali karakternya masing-masing akan sangat membantu orang tua dalam menerapkan pola asuh yang efektif bagi anak. Contoh konkretnya, ketika anak usia batita sering berlaku agresif, orang tua yang tidak paham mungkin akan langsung memarahi atau memberikan sanksi keras kepada si anak. Namun, tidak demikian halnya dengan orang tua yang sudah memahami tahapan perkembangan anak. Orang tua semacam ini bisa mengantisipasi sekaligus memberi arahan kepada si kecil. Kalaupun terpaksa menjatuhkan sanksi, pastilah sanksi yang diberikan bersifat mendidik.

Tidak hanya itu. Berbekal pemahaman dan wawasan luas, orang tua juga bisa mendeteksi berbagai gangguan dan kelainan yang muncul dalam diri anak. Ketika anaknya yang menjelang usia dua tahun belum juga bisa berjalan, orang tua akan segera mengeceknya dan berkonsultasi secara intens pada ahlinya mengapa hal itu bisa terjadi. Dari konsultasi itulah ia jadi tahu stimulasi seperti apa dan seberapa banyak porsi yang mesti diberikan kepada si anak.