Friday, September 29, 2017

Metode Pengajaran Pondok pesantren


Sama halnya dengan sekolah konvensional, pondok pesantren dalam pengajarannya tentu menggunakan metode-metode tertentu. Metode pengajaran pondok pesantren mengalami perkembangan sesuai transformasi sistem pendidikan. Untuk menerapkan suatu metode, seorang guru/pendidik mau tidak mau akan dipengaruhi oleh tujuan yang hendak dicapai, yang beragam jenis dan fungsinya. Metode mengajar selalu berada dalam proses pengajaran, yaitu mengenai bagaimana cara melaksanakan kegiatan pengajaran / pendidikan tertentu. Metode mengajar berarti pemahaman pendidik akan cara-cara melaksanakan kegiatan pendidikan, dan pendidik terampil menggunakan cara-cara tersebut dalam menuntun anak didik mencapai tujuan pendidikan.


Dalam pengertian luas, metode diartikan sebagai cara bukan langkah atau prosedur. Kata prosedur lebih bersifat teknis administratif atau taksonomis seolah-olah mendidik atau mengajar hanya diartikan sebagia langkah-langkah yang aksiomatis , kaku dan thematis. Sedang metode yang diartikan sebagai “cara” mengandung pengertian yang fleksibel (lentur) sesuai kondisi dan situasi, dan mengandung implikasi mempengaruhi serta saling ketergantungan antara pendidik dan anak didik. Dalam pengertian kedua ini, antara pendidik dan anak didik berada dalam proses kebersamaan yang menuju ke arah tujuan tertentu.

Sebelum membahas metode pengajaran di pondok pesantren, baiklah penulis melirik ke dalam pembahasan metode pengajaran secara global, Beberapa pengajaran yang biasa diimplementasikan di sekolah-sekolah umum yaitu sebagai berikut:

a.    Metode Ceramah
b.    Metode Diskusi
c.    Metode Eksperimen
d.    Metode Demontrasi
e.    Metode Pemberian Tugas
f.     Metode Sosiodrama
g.    Metode Drill
h.    Metode Kerja Kelompok
i.      Metode Tanya Jawab
j.      Metode Proyek.

Metode pengajaran yang disebut di atas, sebagai akumulasi dari metode-metode yang banyak digunakan dalam menyajikan materi-materi umum, lain halnya dengan dalam pembinaan rasa beragama, memerlukan klasifikasi metode yang relevan dengan materi dan tujuan. Menurut Al-Nahlawi, metode untuk menanamkan rasa iman ialah sebagai berikut: 

1.    Metode hiwar qurani dan nabawi
2.    Metode kisah qurani dan nabawi
3.    Metode amtsal qurani dan nabawi
4.    Metode keteladanan
5.    Metode ibrah dan mau’izah
6.    Metode targhib dan tarhib.
 
Apapun bentuk dan konteks metode pengajaran, pada dasarnya adalah bagaimana cara materi atau apa yang diinginkan pendidik atau tujuan lembaga pendidikan tertentu, dapat diserap, dihayati (internalisasi) dan implementasi anak didik dengan mudah, efektif, dan efisien.
Menurut Nur Uhbiyati, ada beberapa macam metode pendidikan Islam yaitu:
a.    Metode mutual education
b.    Metode pendiikan dengan menggunakan cara instruksional.
c.    Metode pendidikan dengan bercerita
d.    Metode bimbingan dan penyuluhan
e.    Metode pemberian contoh dan teladan
f.     Metode diskusi
g.    Metode imtsal
h.    Metode soal jawab
i.      Metode targib dan tarhib
j.      Metode taubat dan ampunan
k.    Metode  acquisition (self education), explanation dan exposition (pengajian).

Dengan demikian, jelaslah bahwa metode pendidikan yang dipergunakan oleh para pendidik atau pengajar adalah yang relevan, menurut H.M. Arifin yang berprinsip Child Centered, yaitu lebih mementingkan anak didik daripada pendidik itu sendiri. Seperti halnya Rasulullah dalam mengimplementasikan pendidikan Islam, telah berhasil memberikan contoh pendekatan pendidikan yang sempurna. Dalam melakukan pendidikan, beliau sangat memperhatikan akal manusia, sifat-sifat manusia dan kebutuhan manusia serta kesiapan mereka dalam menerima pendidikan baru. Dengan daya dan kemampuan yang dimiliki, beliau berhasil memberikan kepuasan akal dan sekaligus hatinya dalam menerima pendidikan.

Setelah menyelami berbagai metode yang umum dipakai dalam menyajikan materi-materi agama Islam, maka penulis mengkaji bahwa dari berbagai metode yang telah disebutkan, metode apa yang diimplementasikan dalam pondok pesantren.

Metode penyajian atau penyampaian tersebut ada yang bersifat tradisional menurut kebiasaan-kebiasaan yang lama dipergunakan dalam institusi itu, seperti penyajian dengan balahan, weton, sorogan, ada pula metode non tradisional dengan pengertian metode yang baru diintrodusir ke dalam institusi tersebut berdasarkan pendekatan ilmiah. Biasanya ada kecenderungan di kalangan pondok pesantren untuk mempertahankan metode tradisional yang telah berlangsung secara turun temurun, sedang metode-metode sering sekali kurang mendapat simpati bahwa kadang-kadang diragukan oleh kalangan pesantren, keadaan demikian banyak terpengaruh apakah pimpinannya introvert atau extrovert. Oleh karena itu, dalam rangka usaha menunjukkan, mendayagunakan serta menghasilgunakan metode-metode baru yang perlu dilakukan pendekatan-pendekatan yang bijaksana kepada para pengasuh pondok pesantren. 

Usaha mengintrodusir ide tentang metode baru dilakukan atas pelbagai pendekatan-pendekatan psikologis, sosial, relegius, pedagogis, agar pimpinan institusi yang bersangkutan lebih dahulu memahami menerima maksud atau tujuan ide baru yang akan diintrodusirkan itu. 

Dengan demikian, sistem pendekatan metodologis yang dilakukan pondok pesantren ialah:
1.    Pendekatan psikologis
2.    Pendekatan sosial kultural
3.    Pendekatan religi
4.    Pendekatan historis
5.    Pendekatan komparatif
6.    Pendekatan filosofis.
 
Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa metode pengajaran pondok pesantren dalam menjawab tuntutan global, seharusnya mengakomodir berbagai bentuk metode dengan melakukan kolaborasi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lembaga pondok pesantren. Orientasi pondok pesantren diarahkan pada penguatan intelektual, moral dan skill. Untuk mencapai sasaran tersebut, pendekatan yang diimplementasikan terhadap metode harus dilihat secara komfrehensif, sebagaimana pendekatan metodologis yang dikemukakan di atas.