Saturday, September 16, 2017

KERJA SAMA ORANG TUA DAN GURU DALAM MENDIDIK ANAK



Setelah penelusuran penulis terhadap beberapa tulisan dan penelitian terdahulu yang berhubungan penelitian yang akan penulis lakukan, penulis menemukan di antaranya skripsi yang ditulis oleh Islahuddin dengan judul penelitiannya “Peranan Kerja Sama Guru dan Orang Tua dalam Peningkatan kemampuam membaca Al-Qur’an Bagi Santri TPA Meugit Sagoe. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa lembaga dan keluarga mempunyai korelasi yang sangat erat dalam keberhasilan pendidikan anak, karena   akan sulit tercapai. Pihak-pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu mempersiapkan anak dan generasi muda bagi perwujudan diri di masa yang akan datang. Peneliti  menyimpulkan bahwa hambatan kerja sama orang tua dan guru dalam peningkatan kemampuan baca Al-Qur’an santri TPA Meugit Sagoe yaitu kurangnya waktu dan sulitnya bertemu orang tua dengan guru TPA.[1]
            Muhammad Isa dalam skripsinya yang berjudul “Problema Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak di Gampong Blang Weu Baroh Kecamatan Blang Mangat” menerangkan bahwa orang tua merupakan pendidik yang pertama dalam keluarga, namun dalam mendidik anak, orang tua menemui masalah atau hambatan seperti lingkungan, ekonomi keluarga dan pergaulan anak, apabila lingkungan sekitar anak baik maka kepribadian, sikap anak menjadi lebih baik, atau sebaliknya menjadi tidak baik. Semakin baik lingkungan yang mendukung pendidikan anak maka akan baik pula hasil belajarnya.[2]
            Zainab dalam skripsinya yang berjudul Peranan Kerja Sama Orang Tua Guru dalam Meningkatkan Aktivitas Belajar Anak di MAN Bandar Dua, Zainab meneliti bahwa mendidik anak bukanlah hal yang sederhana, bahkan bias menjadi suatu tantangan tersendiri secara intelektual maupun emosional. Orang tua juga bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya di madrasah, dan guru di madrasah dituntut mendidik anak kearah intelektual tinggi, orang tua pun perlu memahami konsep, filosofi dan system pendidikan pada MAN Aliyah Bandar pihak madrasah.[3] Orang tua dan guru sangat berperan aktif dalam menentukan hasil belajar siswa dan mutu pendidikan di sekolah. Siswa membutuhkan motivasi yang sangat penting dari orang tua dalam pendidikan. Siswa akan semakin aktif bila ada motivasi dari lingkungannya.
            Dari judul-judul skripsi di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa penelitian tentang hubungan orang tua guru atau sejenisnya sudah pernah dilakukan sebelumnya, akan tetapi secara tekstual penelitian semacam ini belum pernah dilakukan, dan penting untuk diingat bahwa yang membedakan penelitian ini dengan yang terdahulu adalah objek, tempat, dan waktu penelitian, karena bagaimana pun objek, tempat, dan waktu sangat menentukan hasil penelitian itu sendiri. Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kerjasama guru dan orang tua di sekolah.
A.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu Belajar
            Dalam belajar, keberhasilan siswa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Adapun dilihat dari keadaan dan lingkungan belajar siswa, maka faktor-faktor yang mempengaruhi mutu belajar tersebut ada 2, yaitu:
1.      Faktor Intern
1)      Motivasi 
            Pengertian Motivasi adalah daya penggerak yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan.[4] Motivasi tersebut dapat ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan yang dipengaruhi oleh lingkungan. Keseringan orang tua dalam memberikan motivasi kepada anaknya akan dapat membangkitkan semangat belajar anak. Motivasi sangat penting dalam proses perkembangan anak dalam menentukan masa depannya.
2)      Kondisi fisik/ jasmani saat mengikuti pelajaran
            Kondisi fisik atau jasmani siswa saat mengikuti pelajaran sangat berpengaruh terhadap minat dan aktifitas belajarnya. Faktor kesehatan badan, seperti kesehatan yang prima dan tidak dalam keadaan sakit atau lelah, akan membantu dalam memusatkan perhatian terhadap perhatian. Sebab untuk mengikuti proses belajar itu memerlukan kegiatan mental yang tinggi, menuntut banyak perhatian dan pikiran yang jernih. Oleh karena itu, apabila siswa mengalami kelelahan atau terganggu kesehatan, akan sulit memusatkan perhatian dan berfikir jernih. Kelelahan akan dapat mengganggu aktifitas belajar siswa.
2.      Faktor Ekstern
1)      Faktor keluarga
a)      Keadaan keluarga
            Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan sebagai yang dijelaskan oleh Slameto, bahwa “kelurga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Kelurga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.[5] Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah mengatakan bahwa, “keluarga merupakan lingkungna pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.[6]
            Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal kelembaga-lembaga formal memerlukan kerja sama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerja sama yang perlu ditingkatkan, dimana oranmg tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak dirumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.

b)      Cara orang tua mendidik
            Cara orang tua mendidik adalah sangat besar pengaruh terhadap hasil belajar anak. Orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, maka mereka acuh tak acuh terhadap bacaan anaknya, tidak memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan atau melengkapi bahan bacaannya, tidak memerhatikan tingkah anaknya, apakah anaknya belajar atau tidak, dapat menyebabkan anak kurang berhasil dalam hal prestasi belajar.[7]
c)      Perhatian orang tua
            Perhatian orang tua sangat penting dan diperlukan dalam memberikan bimbingan, arahan dan dukungan kepada anak. Jika anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas dirumah. Terkadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberikan perhatian dan dorongan, membantu kesulitan yang dialami anak disekolah. Jika perlu menghubungi gurunya untuk mengetahui prestasi belajar.
2)      Faktor sekolah
            Sekolah merupakan tempat aktivitas anak mengembangkan intelektualnya, di sekolah selain memperoleh ilmu teoritis, juga ikut mendidik anak dalam memelihara budi pekerti anak. Di sekolah anak harus mengikuti segala peraturan yang telah ditetapkan. Mereka tidak boleh bertindak sesuka hatinya.
            Faktor yang mempengaruhi belajar di sekolah antara lain: metode belajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran dan metode mengajar yang diterapkan oleh guru.
a)      Metode dan gaya mengajar guru
            Metode dan gaya mengajar guru juga memberi pengaruh terhadap minat siswa dalam mempelajarisuatu mata pelajaran. Oleh karena itu hendaknya guru dapat menggunakan metode dan gaya mengajar yang dapat menumbuhkan minat dan perhatian serta motivasi yang besar terhadap siswa.
            Cara penyampaian pelajaran yang kurang menarik menjadikan siswa kurang kurang berminat dan bersemangat untuk mengikutinya. Namun sebaliknya,  jika pelajaran disampaikan dengan cara dan gaya yang menarik perhatian, maka akan menjadikan siswa tertarik dan bersemangat untuk selalu mengikutinya dan mendorongnya untuk selalu mempelajarinya. Cara seorang guru dalam menyampaikan pelajaran sangat terkait dengan tipe atau karakter kepribadiannya. Seperti yang dikemukakan oleh Muhibbin Syah, sebagai berikut:
1)      Guru yang otoriter
            Secara harfiah, otoriter berarti berkuasa sendiri atau sewenang-wenang. Guru yag otoriter  mengarahkan dengan keras segala aktivitas siswa tanpa dapat ditawar-tawar. Hanya sedikit sekali kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk berperan serta memutuskan cara terbaik untuk kepentingan belajar mereka, sehingga antara guru dan murid tidak terdapat hubungan yang akrab.
2)      Guru lezeifee
            Istilah  lezeifee ini sepadan dengan invidualisme yaitu paham yang menghendaki kebebasan pribadi. Guru yang berwatak seperti ini, biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan belajar secara enaknya, sehingga menyulitkan siswa dalam mempersiapkan diri. Sebenarnya guru tersebut tidak menyenangi profesinya sebagai tenaga pendidikmeskipun ia memiliki kemampuan yang memadai.
3)      Guru yang demokratis
            Bersifat demokratis yang pada intinya mengandung makna memperhatikan persamaan hak dan kewajiban semua orang. Guru yang memiliki sifat ini pada umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan ideal. Alasannya, dibanding dengan guru yang lainnya, guru tipe demokratis lebih suka bekerjasama dengan rekan-rekan seprofesinya, namun tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Ditinjau dari hasil sudut pengajaran, guru yang demokratis dengan yang otoriter tidak jauh berbeda. Akan tetapi dari sudut moral, guru yang demokratis lebih disenangi oleh rekan-rekannya maupun oleh siswanya sendiri. 
4)      Guru yang otoritatif
            Otoritatif  berarti berwibawa karena adanya kewenangan baik berdasarkan kemampuan maupun kekuasaan yang diberikan. Guru yang otoritatif adalah guru yang memiliki dasar-dasar pengetahuan baik pengetahuan faknya maupun pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya ditandai dengan oleh kemampuan memerintah secara efektif kepada siswa dan kesenangan mengajak kerjasama kepada para siswa bila diperlukan dalam mengikhtiarkan cara terbaik untuk penyelenggaraan system belajar. Dalam hal ini, guru ini hamper sama dengan guru yang demokratis. Namun, dalam hal memerintah dan memberi anjuran, guru yang otoritatif pada umumnya lebih efektif, karena lebih disegani oleh para siswa dan dipandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuanm yang digelutinya.[8]
            Disamping karakter yang telah disebut di atas, metode yang digunakan dalam menyampaikan pelajaran besar pula pengaruhnya terhadap minat belajar siswa. Apabila guru hanya menggunakan satu metode saja dalam mengajar maka akan membosankan, yang akhirnya siswa tidak tertarik memperhatikan pelajaran. Jadi hendaknya guru dapat menggunakasn berbagai metode mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b)      Sarana dan prasarana
            Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pembelajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya
jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya.[9]
            Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelengkapan sarana dan prasana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Kedua, kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.[10]
3)      Faktor Lingkungan Masyarakat
            Faktor-faktor dalam masyarakat mempunyai pengaruh cukup besar terhadap proses dan hasil belajar peserta didik dalam menwujudkan tujuan belajar, karena siswa sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan masyarakat sekitarnya. Pengaruh ini terjadi disebabkan karena:
a)      Kegiatan siswa dalam masyarakat.
b)      Media.
c)      Teman bergaul.
d)      Bentuk kehidupan masyarakat.[11]
3.      Peran Orang Tua dalam Peningkatan Mutu Belajar
Peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu. Menurut Amran, peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.[12]Dengan demikian peranan dapat diartikan dengan sesuatu yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan terutama dalam terjadinya pendidikan.
Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa “orang tua berarti orang yang sudah tua, orang yang dianggap tua (seperti cerdik, pandai) dalam kampong”.[13]
Menurut W. J. S Poerwandarminta, orang tua yaitu orang yang dianggap tua dan mampu memberikan nasehat untuk anaknya dan orang lain.[14]
Orang tua sangat berperan penting dalam pendidikan anak. Peranan orang tua dalam pendidikan anak dilakukan atas dasar tanggung jawabnya sebagai Pembina anak dalam lingkungan keluarga. Hal ini menunjukkan orang tua sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga. Zakih Daradjat menyatakan bahwa “orang tua mempunyai kedudukan dalam keluarga dam punya tanggung jawab penuh demi kelangsungan rumah tangga, harus mampu memberikan segala kebutuhan hidup dan memberikan perlindungan kepada semua anggota kelurga seperti pangan, sandang, dan pendidikan.”Pendidikan merupakan hal utama dalam perhatian orang tua. Sehingga pendidikan anak dapat tumbuh berkembang dan suatu hari nanti bila ia sudah dewasa dapat hidup mandiri.[15]
Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Dalam kaitan ini Winarno Surachmad menyatakan sebagai berikut:
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, keluarga besar atau kecil, keluarga miskin atau berada. Situasi keluarga tenang, damai, gembira, atau kelurga yang sering cekcok, bersikap keras, ini semua akan mewarnai sikap anak.[16]

Keberhasilan pendidikan di suatu lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh guru di sekolah, akan tetapi peranan orang tua juga sangat menentukan. Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Surya bahwa:
Pihak yang paling langsung bersentuhan dengan proses pelaksanaan pendidikan anak adalah keluarga dan sekolah. Dalam kenyataan sering terjadi situasi saling menyalahkan satu dengan lainnya. Sekolah menyalahkan orang tua dan sebaliknya orang tua menyalahkan sekolah. Sebenarnya pihak-pihak terkait ini mempunyai tujuan yang sama yaitu mempersiapkan anak dan generasi muda bagi perwujudan dirinya dimasa yang akan datang.[17]

Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya akan menyebabkan anak kurang berhasil dalam belajar. Hubungan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa dipikulkan kepada orang lain. Namun untuk kesempurnaan pendidikan secara utuh, orang tua juga perlu pelimpahan tanggung jawab pendidikan anak pada orang lain, yaitu sekolah dan masyarakat. Mengasuh dan mendidik anak merupakan tanggung jawab utama setiap orang tua. Karena bersama orang tualah anak lebih banyak menghabiskan waktunya, bila dibandingkan dengan lingkungan pendidikan lainya seperti lingkungan sekolah dan masyarakat.
Dari berbagai sumber dapat dikemukakan bahwa peran paling penting dan efektif dari orang tua adalah menyediakan lingkungan yang kondusif, sehingga peserta didik dapat belajar dengan tenang dan menyenangkan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membentuk lingkungan belajar yang kondusif di rumah, antara lain sebagai berikut:
a.       Menciptakan budaya belajar di rumah
b.      Memprioritaskan tugas yang terkait secara langsung dengan pembelajaran sekolah. Jika banyak kegiatan yang dilakukan anak, maka utamakan yang terkait dengan tugas pembelajaran.
c.       Mendorong anak untuk aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi sekolah, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler.
d.      Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan gagasan, ide, dan berbagai aktivitas yang menunjang kegiatan belajar.
e.       Menciptakan situasi yang demokratis di rumah, agar terjadi tukar pendapat dan pikiran sebagai sarana belajar dan membelajarkan.
f.       Memahami apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh sekolah dalam mengembangkan potensi anaknya.
g.      Menyediakan sarana belajar yang memadai, sesuai dengan kemampuan orang tua dan kebutuhan sekolah.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua sangat berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan anaknya baik di sekolah di rumah. Keberhasilan anak dalam dunia pendidikan sangat tergantung dari diri orang tua. Orang tua yang memperhatikan pendidikan anaknya, akan menyebabkan anak gagal dalam pendidikannya. Sebaliknya orang tua yang memperhatikan pendidikan anaknya, maka anaknya akan berhasil dalam dunia pendidikan.
Selanjutnya, secara lebih mendetil M. Nipan Halim menambahkan, bahwa tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anakya meliputi:
1.)    Menyelamatkan fitrah, setiap anak yang terlahir ke dunia ini menurut ajaran islam telah membawa fitrah islamiah. Maka setiap orang tua wajib menyelamatkannya dengan usaha-usaha yang nyata. Selain berbekal fitrah islamiyah, manusia ditakdirkan menjadi makhluk pelupa. Maka orang tua selaku pemegang amanah Allah SWT berkewajiban mengingatkannya dan menghindari anaknya terjerumus ke dalam akhlak Yahudi, Nasrani, Majusi atau lebih parah lagi berpaham Aithes.
2.)    Mengembangkan potensi pikir anak. Setiap anak yang terlahir ke dunia ini pasti memiliki potensi pikir tersendiri, potensi pikir inilah yang membedakan antara makhluk Allah SWT yang bernama manusiaperlu dikembangkan melalui pendidikan. Sehingga potensi yang ada tidak statis. Anak semakin hari akan berkembang ke arah kedewasaan berfikir. Ia dapat menelaah, merenungi dan menghayati segala hal yang dihadapi termasuk juga merenungisegala gejala alam ini.
3.)    Mengembangkan potensi karsa anak. Bersamaan dengan potensi pikirdan potensi rasa yang merupakan hidayah Allah SWT, setiap anak memilki pula potensi karsa atau potensi kehendak. Potensi rasa dan potensi pikirkan menyuarakan sebuah kehendak untuk bertindak. Potensi karsa sangat penting artinya bagi kehidupan anak, oleh sebab itu orang tua dituntut untuk memenuhi kehendak anak melalui jalur pendidikan dan tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Dengan berkembangnya potensi karsa secara wajar dan mengandung nilai aqidah islamiah, maka anak akan tumbuh dewasamenjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT.
4.)    Mengembangkan potensi kerja anak. Potensi kerja anak hendaknya tidak dibiarkan statis, tetapi harus diusahakan pengembangannya melalui pendidikan yang diupayakan orang tua pada hakikatnya hanyalah mengembangkan dan memberdayakan potensi kerja yang sudah ada. Orang tua tidak perlu memaksakan pilihan pekerjaan kepada anak. Orang tua cukup mengarahkan bakat kerja mereka. Pemaksaan terhadap anak akan dapat menimbulkan kecelakaan pada masa depan anak.
5.)    Mengembangkan potensi sehat pada anak. Kesehatan anak merupakantanggung jawab orang tua untuk mendidik anakya menjadi generasi yang sehat dan mampu melaksanakannya sebagai hamba Allah SWT. Orang tua memberikan pendidikan tentang kesehatan kepada anaknya, seperti kesehatan jasmani berupa olahraga secara teratur dan menjaga kebersihan.[18]


4.      Peran Guru dalam Peningkatan Mutu Belajar
Kata guru berasal dari bahasa sangsekerta guru yang juga berarti guru, secara harfiah didefinisikan sebagai “berat” adalah suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidikan profesional dengan tugas utama memdidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan usia dini di jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam definisi yang lebih luas setiap orang yang mengajar sesuatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.[19]
            Menurut K. H.Hasyim Asy’ari, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuannya kepada orang lain untuk mencari ridha Allah SWT, yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.[20] Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu. Guru menempati kedudukan terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah yang membuat mereka dihormati. Para orangtua yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Jadi guru, adalah sosok figur yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Menjadi guru berdasarkan tuntutan pekerjaan adalah suatu pekerjaan yang mudah, tetapi menjadi guru berdasarkan panggilan jiwa dan tuntutan hati nurani adalah tidak mudah.[21]
Maka dapat disimpulkan bahwa guru ialah orang yang mengajari, membimbing, dan mengayomi murid dengan penuh kesabaran demi tercapainya prestasi murid. Kehadiran guru dalam proses pembelajaran merupakan peranan yang sangat penting, peranan guru belum dapat digantikan oleh teknologi seperti radio, tipe recorder, internet maupun oleh computer yang paling modern. Guru mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam membina dan meningkatkan mutu pendidikan  anak didiknya.
Menyangkut dengan pendidikan yang menjadi salah satu unsur penting dalam kemajuan siswa adalah guru yang betul-betul peduli terhadap anak didiknya dan terampil merangkul terhubung dengan segala pembelajaran yaitu guru yang menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga anak didiknya senang belajar.[22]
Selain itu, guru juga mempunyai berbagai macam tugas diantaranya membimbing, menasehati, dan memandu siswa. Hal itu dapat menjadi penolong bagi sebagian anak untuk membantu mereka merasakan suasana aman, percaya diri, dan memahami tujuan belajarnya.[23]
Kadang kala seseorang terjebak dengan sebutan guru, misalnya ada sebagian yang mampu memberikan memindahkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada orang lain sudah dikatakan sebagai guru. Sesungguhnya seorang guru bukanlah bertugas itu saja, tetapi guru juga bertanggung jawab atas pengelolaan (manager of learning), pengarah (director of learning), fasilitator, dan perencana ( the planner of future society).[24]
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, peranan guru sebagai pendidik, diantaranya sebagai korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonsrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator.[25] Adapun penjelasannya secara ringkas adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai korektor, guru harus dapat membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai ini harus betul-betul dipahami dalam membimbing anak didik.
2.      Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik, karena persoalan belajar adalah masalah utama bagi anak didik.
3.      Sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi tentang perkembangan ilmu dan teknologi, selain sejumlah sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang terprogram dalam kurikulum.
4.  Sebagai Organisator, dalam hal ini guru memiliki kegiatan dalam mengelola akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik dan sebagainya.
5.      Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Dalam memberikan motivasi kepada siswa, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik yang malas belajar dan menurunnya prestasi di sekolah.
6.      Sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalan pendidikan dan pengajaran.
7.      Sebagai fasilitator, guru hendaknya menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan ke guru hendaknya menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.
8.      Peranan guru yang tidak kalah pentingnya adalah pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah membimbing anak didik manusia yang cakap dan terampil. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya. kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.
9.      Sebagai demonstrator dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat dipahami oleh anak didik, untuk bahan pelajaran yang sukar  dipahami anak didipahami anak didik, guru harus berusaha membantunya dengan cara memperagakannya apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik.
10.   Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berkumpul semua anak didik dalam rangka menerima pelajaran dari guru.
11.  Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik medis nonmaterial maupun material.
12.  Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran.
13.  Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik kepada setiap anak didik dalam proses pembelajaran.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan, guru merupakan orang tua kedua siswa yang sangat berperan terhadap kualitas belajar siswa. Guru sebagai pendidik mempunyai peranan sebagai korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonsrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator. Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pembimbing minimal ada dua fungsi, yaitu fungsi moral dan fungsi kedinasan. Ditinjau secara umum, guru dengan segala peranannya akan lebih menonjol fungsi moralnya. Oleh karena itu, guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pembimbing juga diwarnai oleh fungsi moral itu, yakni dengan wujud bekerja secara suka rela, tanpa pamrih dan semata-mata demi panggilan hati nurani.[26]
Menurut Ngalim Purwanto, sikap dan sifat-sifat guru yang baik adalah bersikap adil, percaya dan suka kepada murid-muridnya, sabar dan rela berkorban, memiliki wibawa dihadapan murid, penggembira, bersikap baik terhadap guru-guru lainnya, bersikap baik terhadap masyarakat, benar-benar menguasai mata pelajarannya, suka dengan mata pelajaran yang diberikannya dan berpengetahuan luas.[27]

5.      Peranan Konferensi Orang Tua-Guru dalam Peningkatan Mutu Belajar Anak

      Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara guru dan orang tua siswa. Ini suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa adanya kerjasama maka upaya peningkatan mutu belajar tidak tercapai hasil yang optimal. Baharuddin dalam hal ini mengatakan bahwa: “suatu kerjasama antara orang tua, pemerintah, guru, dan masyarakat adalah suatu hal yang mutlak diperlukan dan sudah dapat dipastikan bahwa tanpa adanya kerjasama ini, maka pendidikan tidak akan dapat di selenggarakan dengan baik.”[28]
            Guru merupakan wakil dari orang tua mempunyai kewajiban mengisikan intelektual, sikap, dan keterampilan anak di sekolah. Guru sebagai ibu/bapak tempat anak mengadu, bertukar fikiran, memecah masalah, di samping itu guru juga memiliki hak untuk menghukum, menasehati anak tatkala ia salah. Kesuksesan guru sebagai pendidik di sekolah berkat kerjasama dengan orang tua, sebaliknya guru akan sukar mendidik, membimbing, dan melatih anak di sekolah tanpa adanya kerjasama dengan orang tua. Demikian pula para orang tua kan berhasil mendidik anaknya bila bersenergi dengan guru-guru di sekolah.[29]
            Zakiah Darajat mengatakan bahwa kerjasama orang tua murid dengan guru terhadap pendidikan anak antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Adanya perhatian orang tua murid terhadap daftar nilai. Daftar nilai sebenarnya laporan guru kepada orang tua tentang kemajuan serta didik mengenai pelajaran, kelakuan dan kerajinannya. Dengan adanya pemberian daftar nilai akan tercipta kerjasama yang baik antara orang tua murid dengan guru dalam memajukan pendidikan anak di sekolah.
2.      Adanya surat peringatan. Dengan pengiriman surat peringatan kepada peserta didik, maka memberikan peluang kepada orang tua murid untuk datang ke sekolah dan menanyakan permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan anaknya.
3.      Mengadakan kunjungan kesekolah atau kerumah guru. Kunjungan orang tua murid ke sekolah atau kerumah guru merupakan hal yang sangat positif dalam rangka peningkatan mutu peserta didik. Di sekolah atau di rumah orang tua murid dengan guru dapat menukar pikiran dalam rangka mendidik anak kearah kedewasaan.
4.      Mengadakan pertemuan orang tua murid dengan guru. Pertemuan orang tua murid dengan guru merupakan salah satu kerja sama yang sangat efektif dalam peningkatan pendidikan anak, Karena denga adanya pertemuan tersebut dapat membicarakan dan bahkan menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
5.      Orang tua murid denga dewan guru sama-sama memahami kebutuhan anak didik. Memahami kebutuhan anak didik merupakan suatu hal yang sanagt penting, karena dengan adanya pemenuhan keinginan anak didik, maka akan memudahkan dalam mengontrol, mendidik dan merubah segala perilaku anak kearah kedewasaan.[30]

            Dari uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa kerja sama orang tua dan pihak sekolah sangat penting dalam rangka memajukan proses pendidikan anak didik. Semua bentuk kerjasama tersebut sangat besar manfaat dan artinya dalam memajukan pendidkan sekolah pada umumnya, dan anak didik khususnya.
1.      Adanya perhatian orang tua murid terhadap daftar nilai.
              Salah satu bentuk kerjasama antara orang tua murid dengan guru yaitu adanya daftar nilai atau sering dikenal dengan raport.Sebaiknya pembagian buku raport yang dilakukan tiap semester, diselenggarakan melalui pertemuan antara orang tua dengan para guru. Orang tua sedapat mungkin tidak mewakili kepada orang lain dalam pembagian buku raport.
            Dalam pertemuan ini, kepala sekolah atau madrasah akan memberikan penjelasan-penjelasan kepada orang tua murid tentang kegiatan belajar mengajar pada umumnya, khususnya tentang mutu belajar pada umumnya, khususnya tentang mutu belaj pada umumnya, khususnya tentang mutu belajar murid dan kelemahan-kelemahan yang perlu ditingkatkan oleh para orang tua di rumah.
Muhammmad surya, menyebutkan bahwa “pengambilan buku raport atau STTB sebagai laporan kemajuan belajar siswa akan lebih tepat apabila dilakukan oleh orang tua secara langsung agar orang tua dapat memperoleh penjelasan dari pihak sekolah. Selanjutya dapat dilakukan diskusi untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya dalam kegiatan belajar mengajar.[31]
              Dari uraian dapat disimpulkan bahwa pembagian buku raport akan lebih efektif apabila diserahkan langsung kepada orang tua, dalam pertemuan tersebut orang tua dapat bermusyawarah langsung dengan guru tentang hal-hal penyebab menurunnya prestasi belajar siswa dan sama-sama mencari jalan keluarnya.        
2.      Adanya surat peringatan.
            Surat peringatan merupakan surat yang dikeluarkan oleh sekolah untuk orang tua mengenai permasalahan anaknya di sekolah. Dengan adanya surat peringatan dari sekolah, memberikan peluang besar bagi orang tua untuk bertemu dengan para guru. Orang tua dan guru dapat membahas permasalahan yang dihadapi siswa misalnya menyangkut dengan kenakalan siswa, kelambanan belajar siswa, tingkat kedisiplinan belajar siswa, dan lainnya.
            Dalam menyampaikan masalah-masalah yang di hadapi anak didik di sekolah kepada orang tua, guru harus menjelaskannya dengan cara yang baik dan jelas dengan cara bermusyawarah dengan orang tua dalam mencari solusinya dan orang tua harus bijaksana dalam menanggapi hal tersebut. Antara kedua belah pihak jangan saling menyalahkan.
3.      Mengadakan kunjungan kesekolah atau kerumah guru.
            Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya bukan hanya di rumah saja, selebihnya orang tua lepas tangan tanpa mau tahu tentang hal anaknya disekolah. Akan tetapi, orang tua juga mempunyai kewajiban mengontrol belajar anaknya di sekolah salah satunya yaitu mengunjungi sekolah. Banyak orang tua yang enggan datang ke sekolah anaknya di karenakan sibuk dengan pekerjaannya.
            Kunjungan orang tua ke sekolah bertujuan untuk meningkatkan hubungan yang harmonis antara guru dan orang tua, dapat melahirkan sikap terbuka antara kedua belah pihak dalam mendidik anak, melahirkan perasaan pada sekolah, bahwa orang tua bukan hanya di rumah mengawasi dan mengontrol anaknya tetapi orang tua juga mempunyai peranan penting di sekolah, terjadinya komunikasi dan saling memberi informasi tentang keadaan anak serta saling memberikan petunjuk antara guru dengan orang tua.
4.      Mengadakan pertemuan orang tua murid dengan guru.
            Di antara banyak pertemuan emosional dan paling menantang dalam sejarah adalah pertemuan yang lazim antara orang tua murid dan guru, karena dirumitkan oleh banyaknya harapan, keinginan, kekhawatiran, dan sikap bertahan. Salah satu kesulitan utama dalam konferensi orang tua murid dan guru adalah kemampuan untuk saling mengenal dan terbiasa satu sama lainnya. Para guru mengatakan bahwa orang tua menganggap semua yang disampaikan berkaitan dengan anak-anak mereka akan dianggap sebagai serangan pribadi. Orang tua menyalahkan pada guru karena terlalu banyak mengajar dan bukannya mendengarkan, terlalu banyak menyalahkan dan bukannya memahami.[32]
            Masalah Konferensi yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran dapat mencegah munculnya sosial dan akdemis yang serius. Sejumlah sekolah dasar memulai praktek yang sangat baik pada konferensi saat buku rapor pertama diterimakan.[33]
            Menurut John W. Santrock, untuk menghindari problem sejak awal, konferensi orang tua dan guru pertama dapat dijadwalkan dalam dua minggu pertama masa sekolah sehingga orang tua dapat mengajukan pertanyaan, keluhan, dan saran. Pada pertemuan pertama ini guru mencari tahu tentang struktur keluarga murid, aturan keluarga, peran keluarga, dan gaya belajar.[34]     Dari penjabaran diatas, dengan diselenggarakannya konferensi lebih awal, orang tua dan guru dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka sejak lebih awal juga.


  1. Orang tua murid dengan dewan guru sama-sama memahami kebutuhan anak didik.

Semua orang tua menginginkan anaknya berhasil dalam belajar. Hal itu tak akan terwujud tanpa adanya kerjasama yang baik antara orang tua murid dengan para dewan guru. Orang tua mendidik anaknya di rumah, dan di sekolah untuk mendidik anak diserahkan kepada sekolah, agar berjalan dengan baik kerjasama antara kedua belah pihak maka harus ada dalam suatu rel yang sama dalam memenuhi kebutuhan anak baik saat anak berada di rumah atau di sekolah.
      Setiap ada sesuatu hal yang dirasakan janggal pada diri anak baik di rumah ataupun di sekolah, baik orang tua ataupun guru harus sesegera mungkin untuk menanganinya dengan cara saling menginformasikan di antara orang tua dan guru, mungkin lebih lanjutnya mendiskusikannya supaya bisa lebih cepat tertangani masalah yang dihadapai oleh anak dan tidak berlarut-larut. Oleh karena itu seperti apa yang tertulis di atas bahwa orang tua dan sekolah merupakan satu kesatuan yang utuh di dalam mendidik anak, agar apa yang dicita-citakan oleh orang tua atau sekolah dapat tercapai, maka harus ada kekonsistenan dari kedua belah pihak dalam melaksanakan program-program yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Sutisna, beliau mengemukakan maksud hubungan sekolah dengan masyarakat khususnya dengan orang tua yaitu sebagai berikut:
a.       Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan saran-saran dari sekolah.
b.      Untuk menilai program sekolah.
c.       Untuk mempersatukan orang tua murid dengan guru dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak didik.
d.      Untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan.
e.       Untuk membangun dan memelihara kepercayaan masayarakat terhadap sekolah.
f.       Untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah.
g.      Untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.
Jika hubungan antara orang tua dan guru sudah terjalin dengan baik dan harmonis, maka akan memberikan efek yang baik diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.      Sekolah senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua.
2.      Sekolah berusaha melibatkan para orang tua siswa dalam pelaksanaan program sekolah
3.      Prosedur-prosedur untuk melibatkan para orang tua siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah disampaikan secara jelas, dan dilaksanakan secara konsisten.
4.      Orang tua di sekolah ini mempunyai kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan.
5.      Pada pertemuan antara orang tua dengan sekolah, tingkat kehadiran orang tua siswa tinggi.
6.      Ada kerjasama yang baik antara guru dan orang tua sehubungan dengan pemantauan pekerjaan rumah.
7.      Para guru sering berkomunikasi dengan para orang tua siswa tentang kemajuan siswa, dan menunjukkan bidang-bidang keunggulan dan kelemahannya.
8.      Orang tua dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan di sekolah.[35]
Dari penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa hubungan antara guru dan orang tua siswa sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas belajar siswa dan memberikan efek yang sangat penting diantaranya: sekolah senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua, sekolah berusaha melibatkan para orang tua siswa dalam pelaksanaan program sekolah, prosedur-prosedur untuk melibatkan para orang tua siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah disampaikan secara jelas, dan dilaksanakan secara konsisten, orang tua di sekolah ini mempunyai kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan, pada pertemuan antara orang tua dengan sekolah, tingkat kehadiran orang tua siswa tinggi, ada kerjasama yang baik antara guru dan orang tua sehubungan dengan pemantauan pekerjaan rumah, para guru sering berkomunikasi dengan para orang tua siswa tentang kemajuan siswa, dan menunjukkan bidang-bidang keunggulan dan kelemahannya, orang tua dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan di sekolah.


[1]Islahuddin, Peranan Kerja Sama Guru dan Orang Tua dalam Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an  bagi Santri TPA Meugit Sagoe, Skripsi pada Program Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam(STAI)  Al-Aziziyah, 2012, Tidak Diterbitkan.
[2]Muhammad Isa, Problema Tanggung  Jawab Orang  Tua Terhadap Pendidikan Anak di Gampong Blang Weu Baroh Kecamatan Blang Mangat, Skripsi pada Program Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah, 2012, Tidak Diterbitkan.

[3]Zainab, Peranan Kerja Sama Orang Tua Guru Dalam Meningkatkan Aktifitas Belajar Anak (Studi Kasus di MAN Bandar Dua), Skripsi pada Program Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah, 2011, Tidak Diterbitkan.
[4]Syukur, laporan action research, (Jakarta: Depdiknas, 2000), h. 4.

[5]Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Cet. IV, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2003), h. 67.

[6]Hasbullah, Pengembangan Belajar Pada Anak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 46.

[7]Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor..., h. 51.

[8]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), h. 253.
[9]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran,(Jakarta: Kencana, 2011), h.18.

[10]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain...,h. 18-19.

[11]T. Raka Joni, Pengelolaan Kelas dan Pengajaran, Cet II, (Jakarta: BP3G, 2003), h. 65.
[12]M. Anton Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, (Jakarta Balai Pustaka, 1994), h. 449.

[13]Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 568.

[14]W. J. S Poerwandarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), h. 688.

[15]Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000), h. 71.   

[16]Winarno Surachmad, Dasar-Dasar  Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Depdikbud, 1993), h. 32.

[17]Muhammad Surya, Percikan Perjuangan Guru, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), h.379.
[18]M. Nipan Abdul Halim, Anak Shaleh Dambaan Keluarga, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003), h. 46-47.
[19]Abdur Rahmat, Kearifan Cinta Sang Guru, (Bandung: Rineka Cipta, 2010), h. 19.

[20]Abu Bakar Aceh, Sejarah Hidup K. H.A. Wahid Hasyim, (Jakarta: Titian Ilahi Press, 1994), h. 73.

[21]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis, (Jakarta:  Rineka Cipta, 2005), h. 40.

[22]Munif  Chatib, Gurunya Manusia, Cetakan III, (Bandung: Kaifa, 2002), h. 125.

[23]Thomas Amstrong, The Best School, Cetakan I, (Bandung: Kaifa, 2007), h. 200.

[24]Arifin HM, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, (Jakarta: Bumi Aksara,1991), h. 163.
 
[25]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi.., h. 43-48.

[26]Sadirman, A. M, Interaksi dan Motivasi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 140.

[27]Kunandar, Guru Profesional dan Sukses dalam Sertifikasi, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2010), h. 51.s
[28]Baharuddin M, Anak Putus Sekolah dan Masalah Penanggulangannya, (Jakarta: Yayasan Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66, 1982), h. 415.

[29]Martinis Yamin, Paradigma Pendidikan Konstruktivistik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 208-209.

[30]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 67.
[31] Muhammad Surya, Percikan Perjuangan.., h. 392.
[32]Dorothy Rich, Menciptakan Hubungan Sekolah Rumah Yang Positif, (Jakarta: Indeks, 2008), h.36.

[33]Dorothy Rich, Menciptakan Hubungan Sekolah..., h. 41.

[34]John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 99.
[35]Mulyasa, Implementasi..., h. 128-129.