Friday, September 29, 2017

Definisi dan Pengertian Pondok Pesantren Menurut Para Ahli

Definisi Pondok Pesantren


Pondok pesantren merupakan gagasan baru dalam merekonstruksi bentuk atau model sekolah yang relevan dan akomodatif dengan tuntutan dan kebutuhan zaman. Proliferasi sains mendesak lembaga-lembaga pendidikan dalam membenahi diri dan lebih aspiratif agar tetap eksis dan dapat berperan sebagai lembaga yang melahirkan generasi yang berkualitas.



Pondok pesantren ketika dikaji akan mendeskripsikan dalam benak akan lembaga pendidikan di Indonesia. Sebab, sejarah lembaga pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan eksistensi pondok pesantren. Bagaimanapun, pondok pesantren sangat berjasa dalam melahirkan tokoh-tokoh brilyan sejak zaman penjajahan sampai sekarang. Hal ini berarti pondok pesantren tidak bisa dipisahkan dari lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.


Secara etimologi, pondok pesantren ialah sekolah dengan asrama. Dalam persepsi masyarakat seperti Indonesia, terutama masyarakat Jawa dan Madura pondok pesantren lebih dikenal dengan istilah pondok pesantren. karena secara leksikal pondok pesantren merupakan sekolah yang memiliki asrama yang berada dalam satu lingkungan atau satu kompleks. Hal tersebut, Saefuddin Zuhri mendefinisikan pondok pesantren (pondok pesantren) sebagai:

“Sebuah system tafaqquh fi ad-din yang biasanya ditopang oleh beberapa komponen baik software maupun hardware yang mendukung keberadaan pesantren sebagai sebuah sistem seperti kiai, santri, tradisi pengajian kitab, rumah pengasuh, masjid/mushallah, ruang pembelajaran pondok tempat tinggal para santri. Sebagai lembaga tafaqquh fi ad-din pesantren memiliki fungsi memelihara, mengembangkan, menyiarkan dan melestarikan agama Islam, dan sudah barang tentu ingin mencetak tenaga-tenaga pengembang agama.”  

Definisi tersebut mengilustrasikan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang bernuansa religius senada apa yang diutarakan oleh Sudjoko Prasojo bahwa:

Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, umumnya dengan cara non klasikal, dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab atau ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.


Secara subtansial dan fundamental, dapat dikemukakan di sini pula pandangan yang mengarah pada cakrawala umum pondok pesantren. Abd Rahman Wahid memaknai pesantren secara teknis a place where santri (Student) live. Pondok pesantren dimaksudkan di sini bahwa simbol yang paling menonjol ialah tempatnya bermukim para santri. Sedang Abdurrahman Mas’ud menulis:

“The word pesantren steem from “santri” means one who seeks Islamic knowledge. Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live in and acquire knowledge”.
Dua definisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya sosok pesantren sebagai sebuah totalitas lingkungan pendidikan di dalam makna dan nuansa secara menyeluruh. Sedangkan  Mukhtar Buchori mensinyalir bahwa pesantren adalah bagian dari struktur internal pendidikan Islam Indonesia yang diselenggarakan secara tradisional-Islam sebagai cara hidup. Sementara itu, Amin Abdullah mendeskripsikan, bahwa dalam berbagai variasi, dunia pesantren merupakan persemaian, pengamalan dan sekaligus penyebaran ilmu-ilmu ke-Islaman.

Selanjutnya, Zamakhsyari Dhofier menulis bahwa; pondok, masjid, santri, pengajian kitab-kitab klasik, dan kiyai merupakan lima komponen dasar dari tradisi pesantren, kemudian ia melanjutkan teorinya bahwa suatu lembaga pengajian yang telah berkembang hingga memiliki kelima elemen tersebut, akan berubah statusnya menjadi pesantren.

Sejalan dengan akselarasi ilmu pengetahuan dan teknologi, setiap komponen dapat dirasionalisasi dan diobjektifikasi dengan pendekatan konservasi dan penelitian ilmiah. Dominasi sains mendorong lahirnya sekulerisasi ilmu pengetahuan, yang menyelubungi terkonstruksinya lembaga pendidikan yang dikotomi. Dan bagaimana pondok pesantren tetap eksis, maka berbagai gagasan muncul untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan yang pada akhirnya terejawantahkan ke dalam model lembaga pendidikan yang mampu meneropong dinamika zaman di samping dijadikan “roh” yang dapat menuntun manusia melalui rel-rel kehidupan.

Diskursus tersebut, merupakan kronologis munculnya gagasan pondok pesantren sebagai format lembaga pendidikan yang ideal. Menurut Azyumardi Azra bahwa pondok pesantren adalah pengadopsian aspek-aspek tertentu sistem pesantren oleh lembaga pendidikan umum. sedangkan Abuddin Nata mengilustrasikan pondok pesantren sebagai sintesis dari keunggulan yang dimiliki dua lembaga pendidikan (pesantren dan sekolah umum) selanjutnya dalam mengambil bentuk sekolah pesantren.

Terlepas persepsi kontemporer pondok pesantren, jelasnya bahwa pondok pesantren adalah pondok pesantren yang mencoba mengadopsi sistem pendidikan dari luar dengan mengimplementasikan di dalamnya agar dapat revival ditengah-tengah pergumulan global yang semakin kompleks.