Friday, September 29, 2017

Cara Mengatasi Masalah Pendidikan Agama Islam di Sekolah



Cara Mengatasi Masalah Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang berakar pada sistem yang serba formal dan peraturan yang ketat. Lembaga pendidikan sekolah menjadi sebuah wadah bersemainya pendidikan agama Islam, yang berbasis pada masyarakat. Lembaga pendidikan sekolah seperti ini sebenarnya telah ada sejak dulu, yang merupakan lembaga pendidikan formal kemudian diadakan modifikasi dalam hal: sistem pendidikan  “kurikulum, teknik, metode pengajaran dan sebagainya” Dalam hal ini, sekolah sebagai komunitas dan sebagai lembaga pendidikan yang besar jumlahnya dan luas penyebarannya diberbagai pelosok tanah air telah memberikan saham dalam pembentukan manusia yang religius. Lembaga tersebut telah melahirkan banyak pemimpin bangsa di masa lalu, kini dan agaknya juga di masa datang. Lulusan  sekolah tak pelak lagi, banyak yang mengambil partisipasi aktif dalam pembangunan bangsa. Kita dapat melihat bagaimana misi sekolah sebagai aset besar dalam melahirkan generasi yang religius dan membangun bangsa yang bermartabat. Karena dalam fondamen sekolah orientasi sentralnya ialah penanaman keimanan. 

Dalam konteks keilmuan, keberadaan sekolah merupakan perwujudan dari pendidikan agama Islam dalam lapangan keilmuan. Dengan sekolah, setiap peserta didik yang mempunyai ilmu pengetahuan, bukan sembarangan pengetahuan, tetapi pengetahuan agama dalam aspek-aspek tertentu dipandang memiliki aura sakralitas. Hal tersebut merupakan penjabaran dari tiga fungsi pokok pendidikan agama Islam yaitu, pertama, transmisi ilmu pengetahuan Islam (transmision of Islamic tradition), kedua pemeliharaan tradisi Islam (maintenance of Islamic tradition), ketiga pembinaan calon-calon ulama (reproduction of ulama). Ketiga fungsi menjadikan peserta didik dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, dapat menjaga tradisi budaya Islam, serta menjadi ahli agama, sehingga dapat memiliki kesadaran beragama dalam mengemban tugas dan perannya sebagai ‘abid dan khalifah di muka bumi.

Proses keberadaan pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan formal (sekolah) merupakan dilatarbelakangi atau didasari oleh suatu cita-cita ideal. Cita-cita tersebut terejawantahkan ke dalam tujuan pendidikan agama Islam di sekolah yaitu:
  1. Tujuan Umum yakni membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam dengan Ilmu agamanya yang sanggup menjadi muballiq Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.
  2. Tujuan khusus yakni mempersiapkan para peserta didik untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh guru yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
Akhirnya pendidikan agama Islam dibangun dalam suatu sistem pendidikan yang dirangkai oleh sejarah, telah melahirkan sejumlah jiwa peserta didik yang meniscayakan suatu standarisasi nilai. Jiwa yang dibangun itu secara keseluruhan akan menjadi karakter-karakter yang belum pernah dibangun oleh sistem pendidikan yang tidak berlandaskan pendidikan agama Islam. 
Kelima jiwa pendidikan agama Islam di atas menuntut adanya keniscayaan yang sesungguhnya dan tidak memberikan peluang terhadap reduksionisme. Kelimanya harus mampu berdiri dan senantiasa melekat dalam dunia pendidikan agama Islam di sekolah. 
Menganalisis persoalan pendidikan agama Islam di sekolah dalam merealisasikan gagasan cemerlang, maka sistem pendidikan tersebut melihat suatu sistem pendidikan agama Islam yang memadukan pendekatan normatif deduktif yang bersumber pada sistem nilai yang mutlak, yaitu Al-Qur-an, As-Sunnah, dan hukum Allah yang terdapat dalam alam semesta dengan pendekatan deskriptif-induktif yang dapat melestarikan aspirasi umat dan peningkatan budaya bangsa sesuai dengan cita-cita kemerdekaan, dengan perumusan program pendidikan yang didasarkan kepada konsep variabilitas (out put oriented). Mengingat karakter global dalam pendidikan agama Islam di sekolah sangat kental yang berhadapan antara kekuatan dan kelemahan yaitu antara pendidikan agama Islam yakni pendidikan yang lahir dari masyarakat dan cenderung bersikap ortodoksi, maka pengelolaan pendidikan agama Islam di sekolah harus meliputi empat bidang prioritas yaitu:
  1. Peningkatan kualitas.
  2. Pengembangan inovasi dan kreatifitas.
  3. Membangun jaringan kerja sama (networking).
  4. Pelaksanaan otonomi daerah.
Dalam pengelolaan pendidikan agama Islam menjadi sasaran dan target prioritas adalah peningkatan kualitas anak didik yang memiliki intelegensi tinggi (ranah kognitif), dengan tersublimasinya sains pada anak didik, maka pengembangan pola pikir semakin terarah, sistematis, radikal dan komprehensif. Kemudian pengembangan anak didik pada potensi-potensi yang memungkinkan mampu berkreasi sehingga dapat menjadi produktif dan inovatif. Untuk menunjang potensi kreatif, produktif dan inovatif maka diarahkan pada pembangunan koneksi dan relasi yang terjalin dalam sebuah team work yang baik dan dengan team work tersebut mengarah pada perluasan networking sehingga mampu berkiprah dan merambah pada sektor-sektor multi dimensi kehidupan. Agar anak didik terjadi dinamisasi baik pada kualitas, skill dan networking maka perlu diberikan keleluasaan dan kebebasan berbuat sepanjang terkontrol dan tidak terbungkam dan terpasung potensi anak didik.
Fenomena dilematis pendidikan agama Islam yang terimplementasikan dalam proses pendidikan di sekolah yang menimbulkan kecemasan. Sebagaimana pendapat Rasdianah dalam mencermati kelemahan-kelemahan pendidikan agama Islam di sekolah dan lainnya yaitu:
  1. Dalam bidang teologi, ada kecenderungan ada faham fatalistik.
  2. Bidang Akhlak yang beriorientasi pada urusan sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan pribadi manusia yang beragam.
  3. Bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian.
  4. Bidang hukum cenderung dipelajari sebagai tata aturan yang tidak akan berubah sepanjang masa dan kurang memahami dinamika dan jiwa hukum Islam.
  5. Agama Islam cenderung diajarkan sebagai dogma dan kurang mengembangkan rasionalis serta kecintaan pada kemajuan ilmu pengetahuan.
  6. Orientasi mempelajari Al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan pengetahuan makna.

Dalam proses penyelenggaraan pendidikan sangat dipengaruhi oleh sistem yang dibangun dalam pendidikan tersebut. Olehnya itu, untuk mengenali pendidikan agama Islam dapat dilihat dalam sistem yang diemban, yang terakumulasi secara implisit dan menjadi ciri khasnya yaitu:
  1. Suatu sistem pendidikan yang didirikan karena didorong oleh hasrat untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam.
  2. Suatu sistem yang mengajarkan ajaran Islam
  3. Suatu sistem pendidikan Islam yang meliputi kedua hal tersebut.

Jadi dalam sistem pendidikan agama Islam di sekolah dapat ditandai dengan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan pengajarannya diwarnai oleh muatan-muatan ajaran Islam. Trend kontemporer yakni adanya usaha masif Islamamisasi ilmu pengetahuan untuk mengeleminir pengaruh sekulerisasi dan mereduksi sistem pendidikan dikotomis. Bangkitnya kesadaran tersebut memberikan harapan kepada pembangunan pendidikan agama Islam di sekolah agar tetap eksis dalam pergumulan peradaban dunia. Ini menunjukkan indikator bahwa pendidikan agama Islam di sekolah sebagai alternatif pembangunan sistem pendidikan agama Islam di masa akan datang.
Menurut Malik Fadjar agar pendidikan agama Islam di sekolah menjadi salah satu alternatif, maka harus memenuhi empat tuntutan yaitu:
a.    Kejelasan cita-cita dengan langkah-langkah yang operasional di dalam usaha mewujudkan cita-cita pendidikan Islam.
  1. Memberdayakan kelembagaan dan menata kembali sistemnya
  2. Meningkatkan dan memperbaiki sistemnya
  3. Peningkatan mutu SDM.

Oleh karena itu, usaha-usaha pendidikan agama Islam di sekolah harus diproyeksikan pada:
a.    Pembinaan ketaqwaan dan akhlakul karimah yang dijabarkan dalam pembinaan kompetisi enam aspek keimanan, lima aspek ke-Islaman dan multi dimensi keihsanan.
  1. Mempertinggi kecerdasan dan kemampuan anak didik.
  2. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi
  3. Menunjukkan kualitas hidup
  4. Memelihara, mengembangkan dan meningkatkan kebudayaan dan lingkungan.
  5. Memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarganya, bangsanya, sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dapat dinyatakan bahwa dalam sistem pendidikan agama Islam di sekolah harus dikembangkan dengan memperhatikan tiga paradigma besar pengetahuan yaitu:
a.    Paradigma sains yaitu paradigma logis dan empiris yakni pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan indera.
  1. Paradigma logis yaitu pengetahuan filsafat tapi tidak empiris, dengan proses pencariannya pada objek-objek abstrak tapi logis.
  2. Paradigma mistik yaitu pencarian pengetahuan tersebut dengan cara mencari objek-objek abstrak supralogis dengan hati.

Dalam manajemen pendidikan agama Islam di sekolah diorientasikan kepada pengembangan keterampilan, kecakapan dan skill, pengembangan daya nalar, daya kritis, analisis- rasional serta pengembangan potensi bathin dengan mencari makna-makna abstraksi dalam menerangi relung-relung kehidupan. 

Kerangka Konseptual
Belajar merupakan aktivitas yang cukup kompleks, karena membutuhkan faktor pemicu bagi kelangsungannya. Kegiatan belajar anak didik seringkali menuai berbagai dilema karena tidak sesuai dengan kecenderungannya. Di sisi lain, pendidikan agama Islam merupakan hal yang pokok dan wajib dipelajari oleh anak didik sehingga dapat memahami, meyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar.
Di dalam belajar dibutuhkan minat, apabila tidak ada minat maka tidak akan terjadi pembelajaran. Minat belajar perlu ditumbuhkan dalam diri anak didik sehingga memiliki motivasi dan apresiasi terhadap pelajaran. Dalam menumbuhkan minat belajar anak didik cukup kompleks karena dipengaruhi oleh, baik faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor inilah yang mewarnai minat anak didik di dalam belajar khususnya pada pendidikan agama Islam.