Friday, September 29, 2017

Berbagai Akhlak yang diajarkan dalam Islam


Berbagai Macam Akhlak yang diajarkan dalam Islam

Akhlak merupakan segala suatu yang baik dalam segala perilaku dan perbuatan seseorang. Manusia hidup di dunia ini mempunyai hubungan tertentu untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan demikian setiap perbuatan yang tercermin dalam aktivitas manusia tersebut merupakan nilai-nilai akhlak. Akhlak terbagi kedalam beberapa macam, baik itu akhlak yang mulia maupun akhlak yang tercela. Jika setiap orang dapat menerapkan hal-hal yang diajarkan dalam katagori akhlak mulia, maka akan terciptalah pribadi yang berprilaku mulia pula. Sebaliknya jika seseorang tidak bisa menghindarkan dan mengontrol dirinya agar tidak terikut dengan akhlak tercela, maka akan lahir pula pribadi yang berakhak buruk.

Secara garis besar akhlak dapat dibagi menjadi 10 bentuk yang diterapkan dalam pribadi manusia, diantaranya:

Akhlak terhadap Allah SWT

Akhlak terhadap Allah ini ditandai dengan mencintai Allah melebihi dari selain Allah yang tercermin dari segala perbuatan dan tingkah laku yang mengharapkan ridha Allah SWT, yang tercermin dalam perilaku seseorang yang mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Semua perintah dan larangan Allah terdapat dalam. Al-Qur'an. Sebagai contoh Allah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik antara sesama, yang terdapat dalam surat An-Nisa' ayat 114, yang berbunyi:
لا جير في كثير من نجو ا هم الا من امر بصد قة او معر ف او اصك ح بين الناس ومن يفعل دلك ا بتغاء مر ضاة ا للة فسو ف نؤ تيه ا جراعضيما(ا لنساء:114)
Tidak ada kebaikan  pada kebanyakan bisiskan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh  (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar".(QS. An-Nisa' :114).
    
Maksud dari ayat diatas untuk berbuat ma'ruf adalah dengan memperbanyak ibadah-ibadah kepada Allah, baik ibadah secara sempit maupun ibadah secara luas. Ibadah secara sempit yang penulis maksudkan adalah yang berhubungan dengan rukun Islam. Sedangkan ibadah secara luas adalah segala perbuatan yang mengharapkan ridha Allah SWT. Oleh karena akhlak terhadap Allah adalah dengan mengamalkan ayat-ayat Allah dalam AL-Qur'an.
Menurut Muhammad Quraish Shihab, akhlak manusia terhadap Allah SWT bertitik tolak dari pangakuan dan kesadarannya bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT yang memiliki segala sifat terpuji dan sempurna. Dari pengakuan dan kesadaran itu akan lahir tingkah laku dan sikap sebagai berikut.

Mensucikan Allah SWT dan memuji-Nya

Bertawakkal (berserah diri) kepada Allah SWT setelah berbuat atau berusaha terlebih dahulu.

Dalam Al-Qur'an perintah bertawakkal kepada Allah SWT terulang dalam bentuk tunggal (tawakkal) sebanyak 9 kali dan dalam bentuk jamak (tawakkul) sebanyak 2 kali. Semuanya didahului oleh perintah melakukan sesuatu, seperti dalam Firaman Allah dalam Surat Al­-Anfal ayat 61 sebagai berikut:
 وان جنحو ا للسلم فا جنح لها و تو كل علي ا لله انه هو ا لسميعا لعليم (الانفال:61)
Artinya "Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al- Anfal:61)   

Berbaik sangka kepada Allah SWT, bahwa yang datang dari Allah SWT Kepada makhluk-Nya hanyalah kebaikan.

Akhlak terhadap Rasulullah

Dalam hal ini yang dimaksud dengan akhlak Rasullullah adalah mencintai Rasulullah dengan cara mengikuti semua sunnahnya. Hal ini karena segala perbuatan dan tingkah laku Rasulullah merupakan contoh teladan yang baik.

Budi pekerti atau akhlak yang mulia merupakan tujuan utama dalam pembinaan umat Islam disamping pembinaan akidah dan ibadah. Untuk itu akhlak terhadap Rasulullah itu merupakan upaya untuk menjadikan Nabi sebagai contoh teladan dalam berbagai aspek kehidupan.

Akhlak Terhadap Kedua Orang Tua

Beberapa hal yang wajib diperhatikan dalam Pendidikan adalah mengenalkan anak akan haknya terhadap kedua orang tua, yaitu berbuat baik, taat dan mengabdi, memelihara ketentuan mereka, tidak boleh membentak, berdoa untuk mereka setelah mereka meninggal, dan hak-hak kewajiban lain yang masih sangat banyak.




Tentang akhlak terhadap orang tua Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Lukman ayat 14 adalah sebagai berikut:
وو صينا ا لانسان بوالديه حلمته امه وهن وفاصله في عامين ان اشكر لي ولوا لدك الي ا لمصير(لكمن:14)
Artinya: "Dan kami printahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang sertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu". (QS.Lukman: 14)

Dari ayat diatas dapatlah dijelaskan bahwa Allah SWT sangat-sangat menganjurkan untuk berakhlak baik terhadap orang tua. Hal ini karena orang tua mempunyai tanggung jawab tersendiri dalam mendidik dan membesarkan anak­anaknya. Oleh karena itu setiap perbuatan harus mendapat restu dari orang tua, lalu Allah kemudian meridhainya, bila orang tua tidak merestui, maka Allah pun tidak meridhai perbuatan seseorang.

Akhlak terhadap Saudara-saudara

Yang dimaksud dengan saudara disini adalah orang-orang yang mempunyai pertalian kekerabatan dan keturunan. Secara berurutan, mereka adalah: ayah, ibu, kakek, nenek, saudara laki-laki, anak dari saudara perempuan, paman dari ibu, bibi dari ibu dan selanjutnya adalah kaum kerabat.


Akhlak terhadap saudara-saudara ini di tandai dengan harmonisnya hubungan persaudaraan, tidak melecehkan satu sama lainnya, tolong menolong dan saling membantu dalam hal-hal yang dihadapi saudara-saudara dekat tersebut.

Akhlak terhadap Tetangga

Tetangga adalah setiap orang yang berdekatan, sekitar 40 rumah. Mereka itu adalah tetangga-tetangga yang mempunyai hak wajib di penuhi terhadap mereka. Merekapun mempunyai beberapa kewajiban yang harus di penuhi.




Berdasarkan pandangan Islam, hak-hak tetangga itu ada empat: yaitu seseorang tidak boleh menyakiti tetangganya, melindungi dari orang-orang yang berbuat jahat, menggauli dengan baik, dan membalas kekerasannya dengan kelemah lembutan dan kata maaf

Akhlak terhadap Guru

Diantara hak-hak sosial terpenting yang harus diperhatikan dan diingat oleh para Pendidikan adalah mendidik anak untuk menghormati guru dan melaksanakan haknya. Sehingga anak tumbuh diatas etika sosial yang tinggi terhadap guru atau pengajar, mengarahkan dan mendidiknya, terutama jika guru itu seorang yang saleh, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Islam telah memberikan wasiat dan arahan-arahan yang baik kepada para pendidik di dalam menghormati para ulama dan guru. Hal ini dimaksudkan agar umat manusia mengetahui keutamaan mereka. Sebaliknya, diharapkan pada murid menjalankan hak dan adab sopan santun bersama mereka.

Akhlak terhadap Teman

Hal yang paling penting juga perlu diperhatikan oleh para pendidik dalam upaya mendidik anak, adalah memilih teman mukmin dan saleh baginya. Karena teman itu akan memberikan pengaruh besar didalam meluruskan anak, membenahi dan meluruskan akhlaknya.

Hak-hak persahabatan yang harus ditanamkan oleh para pendidik kepada anak adalah: mengucapkan salam ketika bertemu, menjenguk teman ketika sakit, mendoakan ketika bersin, menziarahi di jalan Allah, menolong ketika kesempitan, memenuhi undangannya ketika ia mengundang, memberi ucapan selamat dalam beberapa kesempatan, saling memberi hadiah dalam beberapa kesempatan.

Akhlak Terhadap Orang yang Lebih Tua

Orang yang lebih tua disini adalah orang yang usianya lebih tua, ilmunya lebih banyak, ketaqwaan, agama yang kuat, kemuliaan dan kedudukannya lebih tinggi. Jika mereka orang-orang yang ikhlas demi agam, dan mulia karena berperang kepada syari'at Allah, maka khalayak harus mengerti keutamaan mereka, melaksanakan hak mereka dan menjalankan kewajiban menghormati mereka, dalam rangka menta'ati perintah Nabi Muhammad SAW yang telah memperkenalkan keutamaan dan hak mereka kepada masyarakat. 
 
Kutipan diatas menggambarkan bahwa orang yang lebih tua diantara yang lain lebih kurang banyak pengalaman dan pengetahuan tentang agama, untuk itu untuk menghormati mereka agar segala petuah dan nasehat-nasehatnya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlak terhadap Masyarakat

Manusia tidak mungkin mendapatkan kebahagian tanpa adanya kerjasama yang baik dengan masyarakat disekitarnya. Hal ini karena dengan masyarakat tersebut segala sesuatu maksud dan hajat hidup dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Dalam hal ini dapat dijelaskan pula bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang harus diperoleh dan didapatkan atas bantuan masyarakat. Hal ini yang dikatakan dengan interaksi sosial ditengah-tengah masyarakat harus dilandasi dengan nilai-nilai akhlak yang baik. Di antara dasar-dasar Pendidikan sosial yang diletakkan Islam didalam mendidik anak adalah membiasakannya untuk melaksanakan dasar-dasar sosial secara umum, dan membentuknya di atas dasar-dasar pondasi yang sangat penting sejak masa kecilnya. Dengan demikian ketika anak beranjak dewasa, secara bertahap meninggalkan masa kanak-­kanaknya dan mulai memahami hakekat sesuatu, maka pergaulannya dengan orang lain dan perangainya akan tampak sangat baik. la akan berbuat baik dan berlemah lembut kepada orang lain, mencintai orang lain dan berakhlak mulia.

Kutipan diatas menggambarkan bahwa seseorang, dari kecil diberikan pembinaan dan Pendidikan dengan akhlak kemasyarakatan yang matang, maka anak dengan sendirinya akan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan kemasyarakatannya. Inti dari pergaulan anak dengan masyarakat harus didahului oleh pembiasaan dari orang tua mereka.

Jika interaksi sosial dan pelaksanaan adab secara umum berpijak pada landasan akidah dan taqwa, persaudaraan dan kasih sayang, lebih mengutamakan orang lain dengan sopan santun, maka Pendidikan sosial anak akan mencapai tujuannya yang paling tinggi. Bahkan ia akan tampil di masyarakat dengan perangai, akhlak dan interaksi yang sangat baik, sebagai insan yang cerdas, lurus dan harmonis.

Adapun yang tergolong dalam adab-adab sosial anak adalah: adab makan dan adab minum, adab memberi salam, adab meminta izin, adab di dalam majelis, adab berbicara, adab berta'ziah, adab bersin dan menguap. Kesemuanya itu harus diajarkan kepada anak, agar anak mengerti dan mampu mengaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat.

Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai akhlak itu adalah segala sesuatu yang tercermin dari akhlak yang penerapannya ditandai dengan perilaku yang menyebabkan keridhaan dari Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mendapat tempat yang baik di hati orang-orang Islam dalam lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat secara umum.

Dalam penerapan nilai-nilai akhlak sebagaimana telah di uraikan di atas oleh setiap pribadi muslim dalam kehidupannya sehari-hari, maka dapat di pastikan kehidupan kaum muslimin tersebut akan selalu mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT, menjalankan tugasnya sebagai khalifah di permukaan bumi ini dengan baik, serta manusia akan selalu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup dan kehidupannya baik didunia maupun di akhirat kelak.

Akhlak Terhadap Lingkungan

Akhlak terhadap lingkungan disini adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Akhlak yang di anjurkan Al-Qur'an terhadap lingkungan bersumber dari manusia, sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut interaksi antara manusia dengan sesamanya serta antara manusia dengan alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptanya, makhluk-makhluk itu adalah umat seperti manusia juga. Dalam Al-Qur'an Allah menggambarkan sebagai berikut:

و مامن دابة في الارض ولاطنر يطير يحا حيه الاامم امثا لكم ما فر طنا
في الكتب من شئ ثم ا لي ر هم يحشرون(الانعام:38)

Artinya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, semut-semut juga seperti kamu. Tiada Kami alpakan sesuatu di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka di himpun. (QS. Al-An'am: 38)

Budi perkerti yang baik disebut juga akhlakul mahmudah yaitu akhlak yang mulia sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadist, sedangkan lawannya yaitu akhlakul mahzmumah (tidak terpuji) adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang tercela antara lain egois, kikir, dusta, peminum khamar dan lain-lain.

Kata lain yang maknanya sama dengan akhlak adalah etika. Etika dengan akhlak memang mempunyai persamaan karena sama-sama membahas masalah baik buruknya tingkah laku manusia. Dalam ilmu filsafat "etika bertitik tolak dari akal fikiran, bukan dari agama dan disinilah letak perbedaannya dengan akhlak dalam pandangan Islam.

Dalam pandangan Islam, ilmu akhlak adalah suatu ilmu yang mengajarkan mana yang baik serta mana yang buruk berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ajaran etika Islam sesuai dengan fitrah dan akal pikiran yang lurus. Untuk menghilangkan kesamaan, maka perlu di ketahui karakteristik etika Islam yaitu:

Menuntun manusia untuk bertingkah laku yang baik dan menjauhkan dari tingkah laku yang jelek. Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, baik buruknya perbuatan didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Etika Islam bersifat universal dan komprehensif

Juga "Abdultah Nashih Ulwan mengumukakan beberapa tuntunan tentang etikat menurut Islam, antara lain etika dalam makanan dan minuman, etika dalam majelis, etika meminta ijin untuk memasuki rumah, etika berbicara, etika bercanda, etika memberi ucapan selamat (tahninah), serta berta'ziah dan etika bersin".

Dengan demikian dapat dipahami bahwa akhlak dapat terbagi kepada beberapa macam, baik itu akhlak yang mulia maupun akhlak yang tecela. Jika setiap orang dapat menerapkan hal-hal yang diajarkan dalam katagori akhlak mulia, maka akan terciptalah pribadi yang berprilaku mulia pula. Sebaliknya, jika seseorang tidak biasa menghindarkan dan mengontrol dirinya agar tidak terikut dengan akhlak tercela, maka akan lahir pula pribadi yang berakhlak buruk.

Sumber:
Abdul Aziz Dahlan, dkk, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1996)

Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Semarang: Wicaksana, 1996).
Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, ( Semarang: Asy-Syifa’ 1998).