Thursday, February 11, 2016

MENGENAL TANAMAN BIDURI DAN MANFAATNYA BAGI PENGENDALIAN KEONG MAS

      Tanaman Biduri merupakan tanaman semak tegak yang umumnya tumbuh di musim kemarau pada lahan-lahan kering. Tanaman biduri termasuk tumbuhan tahunan dengan tinggi bisa mencapai 0,5 – 3 m. Helaian daun memiliki bentuk bulat telur atau bulat panjang, yang pertulangan daunnya menyirip. Permukaan atas daun berambut putih tersusun rapat ketika muda, sedangkan permukaan bawah tetap berambut tebal putih. Daunnya bertipe tunggal dengan tangkai pendek menempel langsung pada batang tersusun berseling (decusatus). “Bunga bertipe majemuk dalam anak payung yang menempel pada di ujung batang atau ketiak daun.

Corona berdaging padat dan seukuran atau lebih lebar dibanding tabung stamen” (Ahmed, 2005:27). Klasifikasi tanaman biduri menurut Ahmed (2005:66) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae Ordo : Gentianales Famili : Asclepiadaceae Genus : Calotropis Spesies : Calotropis gigantea Bunga akan berkembang menjadi buah tipe bumbung berbentuk bulat telur atau bulat panjang. Buah memiliki ukuran 9 – 10 cm dan berwarna hijau. Biji di dalam buah berbentuk lonjong pipih dan berwarna cokelat. Permukaan biji terdapat rambut pendek yang menyelimuti, umbai rambut ini panjang dan tampak seperti sutera. Tubuh akan mengeluarkan getah putih encer dan kelat. “Getah ini beracun dan baunya sangat menyengat.



      
Kulit batang mengandung serat yang bisa dimanfaatkan untuk membuat jala” (Direktorat Jendral Perkebunan, 2006:125) Biduri dapat tumbuh dari biji di lahan yang relatif kering seperti padang rumput kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir. Tanaman perenial ini mempunyai persebaran di wilayah tropis dan subtropis, di benua Asia dan Afrika (Ahmed, 2005:29). Tanaman ini cukup adaptif di lingkungan yang ekstrim kering dan panas. Di India terwakilli oleh 2 spesies, yaitu Calotropis gigantea dan Calotropis procera. “Di beberapa negara, seperti India, Sri Lanka, Singapore, Malaysia, Filipina, Cina Selatan dan Thailand umumnya digunakan sebagai obat tradisional” (Syahputra, 2005:12). Secara konvensional sering dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan tradisional. Bagian kulit akar bermanfaat memacu kerja enzim pencernaan, peluruh kencing (diuretik), peluruh keringat (diaforetik), dan perangsang muntah (emetik).
         Kulit batang yang diolah dahulu berguna untuk perangsang muntah, sedang bunganya berkhasiat tonik, serta menambah nafsu makan (stomakik). “Daunnya berkhasiat rubifisien dan menghilangkan gatal” (Syahputra, 2005:25). Menurut Sutrisno (2001:28) “getah yang disekresikan bersifat racun, namun berkhasiat sebagai obat pencahar”. Getah biduri sangat bermanfaat dalam dunia kesehatan, baik digunakan dalam dunia kesehatan tradisional ataupun dunia kesehatan moderen. Getah biduri merupakan tanaman yang berkahasiat. Dapat disimpulkan bahwa tanaman Biduri merupakan semak tegak yang umumnya tumbuh di musim kemarau pada lahan-lahan kering. Tanaman termasuk tumbuhan tahunan dengan tinggi bisa mencapai 0,5 – 3 m. Helaian daun memiliki bentuk bulat telur atau bulat panjang, yang pertulangan daunnya menyirip. Permukaan atas daun berambut putih tersusun rapat ketika muda, sedangkan permukaan bawah tetap berambut tebal putih. Daunnya bertipe tunggal dengan tangkai pendek menempel langsung pada batang tersusun berseling (decusatus). 
          Bunga bertipe majemuk dalam anak payung yang menempel pada di ujung batang atau ketiak daun. Corona berdaging padat dan seukuran atau lebih lebar dibanding tabung stamen. Bunga akan berkembang menjadi buah tipe bumbung berbentuk bulat telur atau bulat panjang. Buah memiliki ukuran 9 – 10 cm dan berwarna hijau. Biji di dalam buah berbentuk lonjong pipih dan berwarna cokelat. Permukaan biji terdapat rambut pendek yang menyelimuti, umbai rambut ini panjang dan tampak seperti sutera. Tubuh akan mengeluarkan getah putih encer dan kelat. Getah ini beracun dan baunya sangat menyengat. Kulit batang mengandung serat yang bisa dimanfaatkan untuk membuat jala. Biduri dapat tumbuh dari biji di lahan yang relatif kering seperti padang rumput kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir. 
        Tanaman perenial ini mempunyai persebaran di wilayah tropis dan subtropis, di benua Asia dan Afrika. Tanaman ini cukup adaptif di lingkungan yang ekstrim kering dan panas. Pada umumnya biduri digunakan sebagai obat tradisional. Keong mas (Pomacea sp.) mempunyai kebiasaan memakan berbagaitanaman yang lunak termasuk padi yang masih muda. Biasanya keong masmemarut pangkal batang yang berada dibawah air dengan lidahnya hingga patah, kemudian patahan tanaman yang rebah tersebut dimakan. Bila populasi keong mas tinggi dan air selalu tergenang, bisa mengakibatkan rumpun padi mati, sehingga petani harus menyulam atau menanam ulang. Beberapa bahan nabati pun bias digunakan sebagai pestisida nabati atau moluskisida untuk keongmas. Saponin ,rerak, pinang, tembakau dan daun sembung cukup efektif sebagai moluskosida nabati. 
         Penggunaan bahan nabati dianjurkan dilakukan sebelum tanam, karena pada saat itu keong akan terganggu daya makannya, sehingga kurang merusak padi yang baru tanam. 2.3 Bahan Aktif Biduri Setiap tanaman memiliki bahan aktif yang dikandungnya. Berbeda tanaman maka berbeda pula bahan aktifnya. Tanaman biduru juga memiliki bahan aktif yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Antara lain adalah “organ tumbuhan tersebut mengandung beberapa senyawa aktif yang bisa dimanfaatkan dalam pengobatan beberapa penyakit luar atau penyakit dalam bagi manusia” (Kongkow, 2007:75). Organ tumbuhan ini sangat berkhasiat bagi kesehatan manusia. Akan tetapi banyak sekali masyarakat yang meragukannya. Hal ini terlihat pada tidak dibudidayakannya tanaman biduri. Bahkan tanaman biduri bukan salah satu tanaman yang dikembangkan di Indonesia. Tanaman ini menjadi tanaman semak dipinggir jalan. 
        Hampir semua organ tubuh tanaman biduri mengandung senyawa-senyawa kimia bermanfaat bagi manusia. “Secara umum, akar mengandung saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin, dan harsa” (Kongkow, 2007:110). Secara konvensional sering dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan tradisional. Bagian kulit akar bermanfaat memacu kerja enzim pencernaan, peluruh kencing (diuretik), peluruh keringat (diaforetik), dan perangsang muntah (emetik). “Organ daun mengandung bahan aktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, tanin, dan kalsium oksalat. Kandungan pada batang berupa tanin, saponin, dan kalsium oksalat, getah yang dihasilkan juga memuat senyawa racun jantung yang menyerupai digitalis” (Kongkow, 2007:112). 

     Kandungan pada batang tersebut dapat bersifat antifertilitas bisa diartikan sebagai sifat penghambatan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan/anakan. Bahan kimia khas yang terkandung pada getah biduri yaitu calotropin dan giganticine. Dari review yang dikemukakan oleh Ahmed (2005:26), “investigasi-investigasi telah menemukan senyawa dari kelompok cardenolide dari getah dan daun”. Kelompok cardiac glikoside yang telah teridentifikasi yaitu calotropogenin, calotropin, uscharin, calotoxin, dan calactin. Kelompok cardenolide glikoside meliputi coroglaucigenin, frugoside dan 4’-o-beta-D-glukopyranosylfrugoside. Pada ekstrak alkohol dari akar dan daun menghasilkan efek antikanker pada epidermal carcinoma manusia serta kultur jaringan nasopharync. Dari uji coba tertentu, campuran senyawa tersebut bersifat sitotoksik pada beberapa tipe bentuk sel pada manusia dan mencit. 
         Tanaman biduri mengandung senyawa moluskosida, dan diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengendalikan hama keong Pomacea. Juga mengurangi penggunaan senyawa moluskosida sintetis yang membahayakan lingkungan. “Biduri merupakan mangrove asosiasi yang terdapat di sepanjang zona tropis dan subtropiks Asia dan Afrika, getahnya mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, polifenol, tannin, saponin, sterol, dan triterpenoid” (Subramanian dan Saratha, 2010:25). Sutthivaiyakit (2006:36) mengemukakan bahwa “adanya kelompok senyawa cardenolids yang terkandung memberikan efek sitotoksik pada siklus sel kanker”. Hal tersebut terkandung pada getah yang dihasilkan oleh tanaman biduri. Selain itu tanaman biduri juga mengahasilkan bahan aktif yang bersifat antifertilitas. “Antifertilitas bisa diartikan sebagai sifat penghambatan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan/anakan” (Jujena, 2001:36). 
        Kegagalan menghasilkan keturunan tersebut ditimbulkan oleh beberapa sebab, seperti kegagalan spermatogenesis & oogenesis serta kematian embrio postzigotik. Senyawa seperti calotropin yang diisolasi dari spesies lain mampu menghambat spermatogenesis dan efek abortif pada tikus dan kelinci. Adanya senyawa-senyawa aktif tersebut diduga dapat menimbulkan efek abortif pada hewan uji. Oleh karena itu potensi tersebut bisa diujikan pada hama pertanian dengan pertumbuhan populasi yang pesat. Dapat disimpulkan bahwa komposisi yang terkandung pada bagian akar tanaman biduri adalah saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin, dan harsa. komposisi yang terkandung pada bagian daun adalah saponin, flavonoida, polifenol, tannin, dan kalsium oksalat. Komposisi yang terkandung pada bagian batang adalah tannin, saponin dan kalsium oksalat. Komposisi yang terkandung pada bagian getah adalah terkandung racun jantung yang memiliki kesamaan dengan digitalis. 

Manfaat Getah Biduri bagi Kehidupan Diantara tanaman yang mempunyai khasiat obat adalah tanaman biduri (Calotropis gigantea). Tanaman biduri merupakan tanaman bergetah yang memungkinkan untuk dimanfaatkan. Getah biduri menunjukkan adanya aktivitas enzim protease. “Enzim protease dapat mengkatalisis pemecahan protein dengan memecah ikatan peptida pada protein sehingga terbentuk asam amino, dimana daya proteolitik yang ada dalam asam amino enzim protease dapat digunakan sebagai anti inflamasi”. (Sudarsono, 2011:19). Selain itu tanaman biduri juga sering digunakan untuk “pengobatan penyakit lepra, digigit ular beracun, gastritis, kaki pegal dan lemas, bisul, luka pada sifilis dan kaki, tertusuk duri halus, pembesaran kelenjar getah bening, sakit gigi, batuk dan sesak napas, sariawan, campak, sakit telinga, sakit perut, kudis dan gatal” (Sargito, 2003:64). 
      Jadi banyak sekali manfaat getah biduri bagi kehidupan umat manusia. Tanaman biduri merupakan tanaman yang dijadikan obat oleh masyarakat. “Kulit akar biduri juga digunakan untuk pengobatan demam, perut terasa penuh, kaki pegal dan lemas, gigitan ular beracun, borok kronis, dan penyakit kulit lainnya. Daun biduri juga dapat digunakan untuk pengobatan kudis, luka, borok, sariawan, gatal pada cacar air (varicella), campak (measles), demam, dan batuk” (Sargito, 2003:67). Karena dalam kulit biduri juga mengandung bahan kimia yang dapat menghambat kelangsungan hidup dan menghambat proses pembelehan sel pada virus. “Bunga biduri juga dapat dijadikan sebagai bahan untuk pengobatan. Bunga digunakan untuk pengobatan radang, lambung (gastritis), batuk, sesak napas, influenza, sifilis sekunder, kencing nanah (gonorrhoea), dan kusta (lepra)” (Sargito, 2003:69). 
       Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari getah digunakan untuk pengobatan bisul, eksim, pembesaran kelenjar getah bening, luka pada sifilis, luka di kaki, sakit gigi, dan mencabut duri yang menusuk kulit. Sangat banyak khasiat yang dikandung oleh biduri dalam kehidupan. Selain bagi tanaman, tanaman biduri juga bermanfaat bagi kesehatan. Pohon biduri adalah merupakan tanaman yang berkhasiat dan bermanfaat bagi manusia. Beberapa pengguna juga sudah memanfaatkan bahan tanaman ini untuk “kepentingan pengendalian hama, sebagai insektisida, antinematoda, serta anti rayap” (Jayashankar, 2002:53). Tanaman ini memiliki guna multifungsi dalam bidang perrtanian. Tanaman ini dapat menghambat hidup serangga, bakteri, virus dan hama yang dapat merugikan hidup manusia. Anti fertilitas bisa diartikan sebagai “sifat penghambatan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan/anakan” (Jujena, 2001:87). 
         Kegagalan menghasilkan keturunan tersebut ditimbulkan oleh beberapa sebab, seperti kegagalan spermatogenesis dan oogenesis serta kematian embrio postzigotik. Senyawa seperti calotropin yang diisolasi dari spesies lain mampu menghambat spermatogenesis dan efek abortif pada tikus dan kelinci. “Ekstrak etanol C. gigantea terbukti bersifat toksik kuat untuk keong mas berukuran diameter operkulum 3 – 5 mm yang dibandingkan dengan ekstrak airnya pada percobaan”. (Ahmed, 2005:66). Adanya senyawa-senyawa aktif tersebut diduga dapat menimbulkan efek abortif pada hewan uji. Oleh karena itu potensi tersebut bisa diujikan pada hama pertanian dengan pertumbuhan populasi yang pesat. Tanaman biduri sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tanaman biduri dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, baik penyakit luar maupun penyakit dalam bagi manusia. 

         Bahan kimia yang terkandung pada tanaman biduri sangat berkhasiat untuk menghambat hewan yang dapat merugikan manusia. 2.5 Komponen Biduri sebagai Petisida Alam Pestisida adalah semuazat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang di anggap hama kecuali virus ,bacteria, atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman. Secara umum pestisida adalah zat kimia yang beracun untuk membunuh hama/racun pembasmi hama. pestisida juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, karena hama seringmengganggu pertumbuhan tanaman, maka petani menggunakan bahan pembasmi, yaitu dengan caramenyemprotkan pestisida. 
       Dalam hal ini kami ingin membahas tentang pestisida nabati/alami, Pestisida nabati Secaraumum adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusiadan ternak, karena residunya mudah hilang. Pada saat ini pestisida berbahan dasar kimia sudah sangat sering digunakan. Memakai bahan tersebut memang sangat ampuh untuk membasmi segala macam hama, akan tetapi hal tersebut berdampak pada kerusakan lingkungan. Selain merusak lingkungan bahan tersebut juga akan mendatangkan malapetaka bagi kehidupan penggunanya. Bahan yang digunakan dalam pestisida kimia dapat merusak sel tubuh yang dapat mengakibatkan kebinasaan. “Pestisida alami adalah bahan-bahan yang berasal dari alam yang memiliki zat yang dapat mengusir hama, binatang dan penyakit” (Dani: 2005:26). 

         Pestisida ini dikenal juga dengan pestisida nabati karena bahannya merupakan bahan yang tidak memiliki zat kimia yang bersifat racun. Pestisida Nabati merupakan bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengusir organisme penggangu tumbuhan. Pestisida nabati ini bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, anti fertilitas, pembunuh, dan bentuk lainnya. “Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah didapat dan dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas” (Dani, 2005:19). Jenis pestisida alam ini bersifat mudah larut dan terurai di alam sehingga tidak merusak lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu (sisa-sisa zat) mudah hilang. 
         Pestisida alami adalah merupakan pestisida yang aman bagi manusia dan lingkungan dan dapat menjaga ekosistem alam. Pada umumnya pestisida berbahan nabati bersifat sebagai racun perut yang tidak membahayakan terhadap musuh alami atau serangga bukan sasaran, sehingga penggunaan pestisida berbahan nabati dapat dikombinasikan dengan musuh alami. Selain memiliki senyawa aktif utama dalam ekstrak tumbuhan juga terdapat senyawa lain yang kurang aktif, namun keberadaannya dapat meningkatkan aktivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi). Hama tidak mudah menjadi resisten terhadap ekstrak tumbuhan dengan beberapa bahan aktif, karena kemampuan serangga untuk membentuk sistem pertahanan terhadap beberapa senyawa yang berbeda sekaligus lebih kecil daripada terhadap senyawa insektisida tunggal.
        Selain itu cara kerja senyawa dari bahan nabati berbeda dengan bahan sintetik sehingga kecil kemungkinannya. Dani (2005:38) mengatakan bahwa “di Indonesia terdapat banyak sekali jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai penghasil pestisida alam. Jenis tanaman tersebut mengandung zat yang berbeda-beda fungsinya ketika berperan sebagai pestisida”. Ada beberapa jenis tanaman yang berpotensi menjadi bahan pestisida, antara lain adalah tanaman biduri yang merupakan kelompok tanaman moluskisida. Jadi tanaman biduri merupakan tanaman yang dapat membunuh populasi keong mas. Menurut Sunarto (2001:63) pestisida nabati berfungsi sebagai berikut: Dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. 

       Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu: 
  1. Merusak perkembangan telur, larva dan pupa.
  2. Menghambat pergantian kulit
  3. Mengganggu komunikasi serangga (hama)
  4. Menyebabkan serangga menolak makan.
  5. Menghambat reproduksi serangga betina.
  6. Mengurangi nafsu makan.
  7. Memblokir kemampuan makan serangga.
  8. Mengusir serangga.
  9. Menghambat perkembangan patogen penyakit.
  10. Jadi pestisida nabati sangat bermanfaat dalam mengendalikan hama pertanian, karena pestisida tersebut dapat menghambat kelangsungan hidup hama tanaman. Selain itu pestisida nabati juga aman dan ramah lingkungan karena pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida. Adapun beberapa manfaat dan keunggulan pestisida alami, adalah mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan, relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Bahannya dari sumberdaya yang ada di sekitar dan bisa dibuat sendiri. Pestisida nabati juga dapat membunuh hama/penyakit. Selain itu pestisida nabati juga berfungsi sebagai pengumpul atau perangkap hama tanaman dan Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaanpestisida sintesis. Pemanfaatan bahan tumbuhan yang merupakan produk alami dan berdayaguna sebagai pestisida nabati merupakan aspek yang harus dikembangkan untuk mengganti pestisida sintetik (buatan). Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang dapat digunakan sebagai alat pertahanan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Tanaman biduri merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk dijadikan pestisida nabati karena tanaman biduri banyak mengandung bahan kimia alami yang dapat menghambat kelangsungan hidup serangga dan keong mas pada lahan pertanian. Tanaman biduri mengandung getah yang sangat ampuh dalam mengendalikan hama. Getah biduri dapat menjadi zat activator dalam meguraikan tanaman, sehingga penggunaan getah biduri aman dan ramah lingkungan. Salah satu pestisida nabati yang dapat digunakan adalah getah biduri. Getah biduri mengandung bahan aktif “saponin”sehingga efektif untuk mengendalikan keong mas dan hama penghisap. Getah biduri dapat digunakan sebagai pestisida nabati setelah dicampurkan dengan minyak tanah dan detergen. Pestisia nabati dari getah biduri juga memliki beberapa manfaat antara lain dapat digunakan untuk mencegah hama seperti aphid, rayap, hama kecil, dan ulat bulu serta berbagai jenis serangga. Selain dapat menghilangkan hama, getah biduri ini juga ramah lingkungan sehingga tidak mencemari lingkungan, salah satunya tidak menyebabkan unsur hara pada tanah hilang, walau dalam proses pembuatan dicampurkan sedikit minyak tanah dan detergen untuk memperoleh ekstrak dari pestisida nabati ini. Dan adanya pestisida nabati, para petani dapat menggunakannya sebagai alternatif yang baik pengganti pestisida kimia. 2.6 Fungsi Pestisida Nabati bagi Tanaman Indonesia sebagai negara agraris sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani dengan beranekaragam tanaman pertanian yang dapat di konsumsi sebagai sumber karbohidrat maupun sumber vitamin. Banyak petani menanam padi sebagai penghasil karbohidrat sekaligus sebagai makanan pokok di sebagian besar wilayah Indonesia, namun sekarang ini para petani banyak merugi disebabkan oleh rusaknya tanaman padi yang karena serangan hama keong mas. Hal tersebut membuat para petani untuk mengunakan pestisida sebagai obat pembunuh keong mas yang menyerang tanaman padinya. Pestisida tersebut memang cukup ampuh untuk mengusir bahkan membunuh hama Keong mas, namun pestisida yang digunakan oleh para petani adalah pestisida sintetis yang tidak ramah lingkungan dan dapat menyebabkan pencemaran terhadap tanah. Pestisida sintetis juga dapat menyebabkan keracunan terhadap makhluk yang mengkonsumsi hasil dari pertanian tersebut. Suwartiningsih (2003:24) menjelaskan bahwa pestisida nabati bersifat ramah lingkungan kerena bahan ini mudah terdegradasi di alam sehingga aman bagi manusia maupun lingkungan bahkan bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk dijumpai “Pestisida nabati merupakan produk alam dari tumbuhan seperti daun, bunga, buah, biji, kulit, batang yang mempunyai kelompok metabolit sekunder atau senyawa bioaktif. Beberapa tanaman telah diketahui mengandung bahan-bahan kimia yang dapat membunuh, manarik, atau menolak serangga”. Darmadi (2001:87) menambahkan bahwa “dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis”. Untuk mengikat tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan dengan eksperimen. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Prinsip pemanfaatan pestisida nabati tumbuhan merupakan gudang bahan kimia yang kaya akan kandungan berbagai jenis bahan aktif. Dikenal suatu kelompok bahan aktif yang disebut “produk metabolit sekunder” (secondary metabolic products), namun fungsinya bagi tumbuhan tersebut dalam proses metabolisme kurang jelas. Kelompok ini berperan penting dalam berinteraksi atau berkompetisi, termasuk melindungi diri dari gangguan pesaingnya. Produk metabolik sekunder ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif pestisida nabati. Pada tahap awal pemanfaatan pestisida nabati dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi dan sifat bahan tumbuhan yang dicoba, dan hal ini dapat dilaksanakan oleh siapa saja. Artinya eksplorasi yang demikian tidak harus berangkat dari keinginan yang berlandaskan pemikiran ilmiah, tetapi dapat langsung berdasarkan kebutuhan praktis. Sebetulnya penggunaan bahan tumbuhan sebagai pestisida nabati sudah lama dikenal oleh nenek moyang kita sebagai salah satu kearifan tradisonal yang sekarang hilang. Pada saat ini kita perlu melihat kembali kearifan tradisional dalam bidang perlindungan tanaman. Usaha pengguanan bahan nabati dapat dimulai dari bahan-bahan tumbuhan yang kita kenal dengan baik, misalnya bahan tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dengan baik yang salah satunya adalah getah biduri. Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Adapun beberapa kelebihan penggunaan pestisida nabati menurut (Soenarto, 2001:210) adalah sebagai berikut: 1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari 2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian 3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan 4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif 5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia 6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman 7. Murah dan mudah dibuat oleh petani. Banyak sekali manfaat yang dihasilkan oleh pestisida nabati, sehingga tanaman menjadi aman dari bahan kimia. Dengan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan dan keinginan untuk hidup selarasdengan alam serta berkembangnya konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pestisida nabati kembali memperoleh perhatian dari para pakar dan praktisi termasuk di Indonesia setelah beberapa dekade teknik pengendalian hama tersebut nyaris dilupakan. Namun perlu dicatat disini bahwa banyak kelompok pestisida sintetik yang sudah dikembangkan dan dipasarkan saat ini berasal dari pestisida nabati seperti karbamat dan piretroid. Perhatian banyak peneliti Indonesia terhadap pestisida nabati sangat meningkat pada decade terakhir ini. Banyak jenis tanaman yang telah diteliti indikasi sifat insektisidal, fungisidal dan sifat-sifat pengendalian hama lainnya, seperti biduri (Martono, 2002:25). Beberapa peneliti juga telah berhasil mengembangkan pestisida nabati spesifik lokasi untuk dikembangkan menjadi fungisida dan insektisida untuk menggendalikan hama dan penyakit pada tanaman. Kelemahan pestisida nabati antara lain karena bahan nabati kurang stabil mudah terdegradasi oleh pengaruh fisik, kimia maupun biotik dari lingkungannya, maka penggunaannya memerlukan frekuensi penggunaan yang lebih banyak dibandingkan pestisida kimiawi sintetik sehingga mengurangi aspek kepraktisannya Kebanyakan senyawa organik nabati tidak polar sehingga sukar larut di air karena itu diperlukan bahan pengemulsi. Bahan nabati alami juga terkandung dalam kadar rendah, sehingga untuk mencapai efektivitas yang memadai diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyak.. Bahan nabati hanya sesuai bila digunakan pada tingkat usaha tani subsisten bukan pada usaha pengadaaan produk pertanian massal. Apabila bahan bioaktif terdapat di bunga, biji, buah atau bagian tanaman yang muncul secara musiman, mengakibatkan kepastian ketersediaannya yang akan menjadi kendala pengembangannya lebih lanjut.Kesulitan menentukan dosis, kandungan kadar bahan aktif di bahan nabati yangdiperlukan untuk pelaksanaan pengendalian di lapangan, sehingga hasilnya sulit diperhitungkan sebelumnya. Daya kerjanya relatif lambat. Tidak tahan terhadap sinar matahari.8). Kurang praktisdan tidak tahan disimpan. Kadang-kadang harus diaplikasikan / disemprotkan berulang-ulang. Dengan mempelajari keunggulan dan kelemahan pestisida nabati sebagai pestisida yang bersahabat dengan lingkungan, sebelum dapat digunakan di lapangan untuk mengendalikan hama dalam kerangka kerja PHT, masih memerlukan banyak langkah penelitian yang harus dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif, mencakup banyak disiplin ilmu dan kepakaran. Pestisida nabati tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu-satunya teknik pengendalian hama yang akan digunakan, dan harus dipadukan dengan teknik-teknik pengendalian hama lainnya termasuk pengendalian hayati, sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada umumnya. Namun, apabila tidak dijumpai alat semprot, aplikasi pestisida nabati dapat dilakukan dengan bantuan kuas penyapu (pengecat) dinding ataumerang yang diikat. Caranya, alat tersebut dicelupkan kedalam ember yang berisi larutan pestisida nabati, kemudian dikibas-kibaskan pada tanaman. Supaya penyemprotan pestisida nabati memberikan hasil yang baik, butiran semprot harus diarahkan ke bagian tanaman dimana jasad sasaran berada. Apabila sudah tersedia ambang kendali hama, penyemprotan pestisida nabati sebaiknya berdasarkan ambang kendali. Untuk menentukan ambang kendali, perlu dilakukan pengamatan hama seteliti mungkin.Pengamatan yang tidak teliti dapat mengakibatkan hama sudah terlanjur besar pada pengamatan berikutnya dan akhirnya sulit dilakukan pengendalian.Apabila telah ditentukan jenis-jenis tanaman yang akan digunakan sebagai bahan dasar pestisida nabati yang sesuai dengan keadaan setempat, masalah berikutnya adalah menentukan kriteria pengambilan keputusan penggunaan pestisida nabati. Karena sifat-sifatdasar pestisida nabati berbeda dengan sifat-sifat pestisida kimia sintetik, maka konsepAmbang ekonomi atau aras luka ekonomi menjadi tidak relevan, sehingga diperlukan aras pengendalian yang khas untuk tindakan koreksi perlakuan dengan pestisida nabati. Adakemungkinan untuk menekan populasi hama agar selalu berada di sekitar garis keseimbangan diperlukan perlakuan pestisida dengan pestisida secara berjadwal. Untuk menjawab pertanyaan kapan, dimana dan berapa kali pestisida nabati digunakan diperlukankegiatan penelitian khusus. Pemberdayaan Petani mengingat petani tanaman Perkebunan sudah sangat terbiasa dengan penggunaan pestisida kimia sintetik dalam usaha taninya, diperlukan usaha yang sangat keras untuk memasyarakatkan pemanfaatan pestisida nabati kepada mereka. Dengan kenyataan akan kelemahan pestisida nabati seperti yang diuraiakan sebelumnya, petani perkebunan menjadi semakin kurang semangat untuk mengubah kebiasaannya dalam melakukan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman perkebunan. Pertimbangan ekonomi dan bisnis merupakan pertimbangan utama yang digunakan oleh petani tanaman perkebunan dalam menerapkan teknologi budidaya atau pengelolaan usaha tani tertentu. Selama teknologi baru tidak mendatangkan manfaat dan keuntungan yang lebih besar daripada teknologi sebelumnya, petani perkebunan enggan untuk mengadopsiteknologi baru. Oleh karena itu penelitian aspek sosial ekonomi yang terkait dengan introduksi teknologi pestisida nabati pada petani perkebunan perlu dilakukan, dengan asumsi bahwa teknologi pestisida nabati pengembangannya telah mapan dan efektif. Pestisida nabati memiliki manfaat yang sangat besar bagi para petani dalam mengendalikan hama pertanian.