Saturday, February 13, 2016

Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang konsep KBK maka dalam kajian ini akan dibahas mengenai hal-hal yang menjadi ciri-ciri atau karakteristik yang mendasar dalam KBK ini yaitu:

a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi anak didik baik secara individual maupun klasikal.
b.Berorientasi pada hasil belajar.
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d.      Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya  yang memenuhi sumber edukatif.
e.         Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.[1] 
Lebih lanjut dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasi kurikulum berbasis kompetensi memiliki enam karakteristik yaitu:
a.       Sistem belajar dengan modul
Dalam hal ini modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaaannya untuk para guru. Sebuah modul adalah pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan, pre-tes aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi-kompetensi yang belum dikuasai dari hasil pre-tes, dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar.[2]
b.      Menggunakan keseluruhan sumber belajar.
Sumber belajar adalah segala macam sumber yang berada diluar diri seseorang (anak didik) dan yang memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.[3] Seperti halnya guru, dosen, teman, laboratorium, perpustakaan, buku, majalah, Koran, televisi, film dan lain sebagainya.
         Dari berbagai sumber belajar yang ada dan mungkin dikembangkan dalam pembelajaran pada dasarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1)      Manusia, yaitu orang yang menyampaikan pesan secara langsung seperti guru, konselor, administrator dan lain-lain
2)      Bahan, yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran baik yang diniati secara khusus seperti film pendidikan, peta, grafik, buku paket, dan sebagainya, yang biasa disebut media pengajaran, maupun bahan yang bersifat umum seperti, film keluarga berencana bisa dimanfaatkan untuk kepentingan belajar.
3)      Lingkungan, yaitu ruang dan tempat dimana sumber-sumber dapat berinteraksi dengan para peserta didik. Ruang dan tempat yang diniati secara sengaja untuk kepentingan belajar misalnya perpustakaan, ruang kelas, laboratorium, ruang mikro teaching dan sebagainya. Disamping itu ada juga ruang yang tidak diniati untuk kepentingan belajar namun bisa dimanfaatkan misalnya, museum, kebun binatang, candi, dan tempat-tempat peribadatan.
4)      Alat dan peralatan, yaitu sumber belajar untuk produksi dan atau memainkan sumber-sumber lain. Alat dan peralatan untuk produksi misalnya kamera untuk produksi fhoto, dan tape recorder untuk rekaman. Sedangkan alat dan peralatan yang digunakan untuk memainkan sumber lain, misalnya proyektor film, pesawat televisi dan pesawat radio.
5)      Aktivitas, yaitu sumber belajar yang biasanya merupakan kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, misalnya pengajaran program merupakan kombinasi antara teknik penyajian bahan dengan buku, contoh lainnya seperti simulasi dan karya wisata.[4]
Pendayaan sumber belajar memiliki arti yang sangat penting, selain melengkapi, memelihara, dan memperkaya khazanah belajar, sumber belajar juga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar, yang sangat menguntungkan baik bagi guru maupun bagi para peserta didik. Dengan didayagunakannya sumber belajar secara maksimal, dimungkinkan orang yang belajar menggali berbagai jenis ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya sehingga pengetahuannya senantiasa aktual serta mampu mengikuti akselerasi teknologi dan seni yang senantiasa berubah.
c.  Pengalaman lapangan
Pengalaman  lapangan dapat secara sistematis melibatkan masyarakat dalam pengembangan program, aktivitas dan evaluasi pembelajaran. Keterlibatan ini penting karena masyarakat adalah pemakai produk pendidikan dan dalam banyak kasus, sekaligus sebagai penyandang dana untuk pembangunan dan pengoperasian program. Pengalaman lapangan dapat melibatkan tim guru dari berbagai disiplin dan antar disiplin, sehingga memungkinkan terkerahkannya kekuatan dan minat  peserta didik terhadap pelaksanaan pembelajaran, dan terlindungnya guru terhadap rasa ketidaksenangannya peserta didik. 
d.                         Strategi belajar individual personal.
Belajar individual adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik sedangkan belajar personal adalah interaksi edukatif berdasarkan keunikan peserta didik: bakat, minat, dan kemampuan (personalisasi)
e.       Kemudahan belajar
Kemudahan belajar ini diberikan dengan mengkombinasikan antara pembelajaran individual dan personal dengan pengalaman lapangan, kemudian mengoptimalkan media atau sumber belajar yang ada untuk memberikan kemudahan belajar bagi anak didik dalam menguasai dan memahami materi.[5]
f. Belajar tuntas.
Belajar tuntas menekankan pada strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi di dalam kondisi baik dan memperoleh hasil  belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari[6]
               Belajar mengajar menggunakan prinsip belajar tuntas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Pengajaran didasarkan atas tujuan-tujuan pendidikan yang tidak ditentukan terlebih dahulu.
2)      Memperhatikan perbedaan individu.
3)      Mempergunakan program perbaikan dan pengayaan.
4)      Menggunakan prinsip siswa belajar aktif
Evaluasi dilakukan secara kontinue dan didasarkan atas kriteria


[1] Depdiknas, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang , 2002) hal 3
[2] E.Mulyasa, Kurikulum, hal 43
[3] Ahmad Rohani, Media Intruksional Educatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997) hal 102
[4] Ibid, hal 49
[5] Ibid, hal 52
[6] Ahmad Rohani,Media, hal 53