Thursday, December 24, 2015

HAKIKAT TAUBAT ADALAH SIKAP HATI


Untuk mencapai ibadat yang sempurna dan agar diterima oleh Allah SWT harus didahului oleh taubat apabila orang yang beribadah itu pernah melakukan dosa. Maka lazim atau wajib kepada kita untuk bertaubat kepada Allah SWT supaya diterima ibadat kita oleh ALLAH SWT. Dosa merupakan hutang kita yang wajib dibayar dengan taubat. Apabila kita melakukan ibadah sunnah kepada Allah sedangkan dosa terdahulu belum terbayarkan maka ibadat tidak akan diterima oleh Allah SWT. Karena pemilik hutang tidak menerima hadiah dari pada orang yang berhutang.

Taubat dari segala maksiat dan merezakan segala orang yang bersengketa atau permusuhan adalah farzu yang mesti di dalam taubat. Dan umum ibadah itu sunat. Bagaimana ibadat sunat diterima oleh Allah kalau yang farzu belum ditunaikan dan dikerjakan. Bagaimana kita bermunajah, bertasbih kepada allah padahal allah itu marah kepada kita karena kita belum melunasi hutang dosa. Inilah yang tampak pada zahir kenyataan kehidupan manusia sekarang. Kepada allah kita memohon pertolongan.

Maka apa makna taubat nasuha dan apa yang patut dapat kita lakukan untuk menebus dosa. Maka imam ghazali menjawab taubat itu amal daripada segala amalan hati, hakikat taubat adalah sikap hati bukan sikap perilaku zahir. Adapun sikap yang zahir adalah pencerminan dalam sikap hati. Taubat itu membersihkan hati dari berbagai dosa atau niat apapun yang berkaitan dengan dosa.

Devinisi taubat
Sesungguhnya taubat nasuha adalah rencana meninggalkan dosa dalam tingkatan dosa atau bentuk derajat karena ta’zim kepada allah dan takut marah allah SWT.

Maka bagi taubat itu empat syarat:
meninggal rencana dosa
Menetapkan hatinya dan memfokuskan cita-citanya untuk tidak kembali kepada dosa kapanpun dan bagaimanapun. Maka adapun meninggalkan dosa padahal dalam hatinya akan melakukan dosa atau masih ragu-ragu untuk melakukan dosa, maka orang tersebut adalah orang yang meninggalkan dosa bukan orang yang bertaubat.

Taubat dari dosa yang terdahulu umpamanya dosa
Karena jika tidak didahulu oleh dosa dinamakan dengan taqwa dari dosa bukan orang yang taubat dari dosa. Adakah tidak engkau lihat. Umar Ra ada ia yang taubat daripada kufur karena beliau adalah kafir.

Dosa yang terdahulu daripada umpama setingkat untuk tidak dilakukan walaupun bentuknya berbeda.