Wednesday, December 2, 2015

FILSAFAT ILMU: Pokok-Pokok Pemikiran David Hume

Mengenal David Hume

David Hume merupakan seorang filsuf yang anti rasionalisme namun argumennya sangat mempengaruhi ilmu pengetahuan di dunia. Sebagai tokoh puncak empirisme, Hume secara serius dan konsisten menggunakan prinsip-prinsip empiris dengan cara yang paling radikal. Dalam berbagai kajian filosofisnya, ia tidak hanya melawan rasionalisme Descartes terutama yang berkenaan dengan paham “Innate Ideas” yang dipakai sebagai landasan ontology bagi kaum rasionalis dalam usahanya memahami dunia sebagai suatu kesatuan interelasi tetapi ia juga mengkritik doktrin-doktrin teologi sebelumnya yang sebagian besar didasarkan atas aksioma universal seperti hukum kausalitas yang dianggap sebagai penjamin pemahaman manusia akan Tuhan dan alam.

Bahkan ia juga menentang pemikiran para pendahulunya terutama empiris dan Locke dan Barkeley walaupun dalam beberapa spek ia masih mengikuti pandangan kedua filosofi tersebut.

Maka dalam makalah ini akan sedikit mengulas tentang david Hume dan berbagai pemikirannya. Yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah bagaimana pendapat David Hume dengan antirasionalismenya?

Riwayat Hidup David Hume


David Hume adalah seorang filsuf yang dilahirkan dari keluarga borjuasi yang terpandang.Ayahnya seorang tuan tanah yang kaya tetapi meninggal ketika Hume masih kecil. Semasa mahasiswa di Universitas Edinburgh, Hume meminati Studi Klasik dan secara mandiri memelajari filsafat dan kesusasteraan. Hal ini sangat bertentangan sekali dengan keinginan ibunya yang sangat ingin Hume belajar Studi Hume. Akhirnya, terlihatlah Hume menyukai filsafat secara perlahan.

David Hume sendiri lahir di Edinburgh tanggal 7 Mei 171. Dia membuat karya filsafat ketika usianya belum mencapai 30-an. Karya yang ia hasilkan tidak bisa diterima oleh semua aliran. Dia berharap ada kritikan yang tajam yang akan dia tanggapi dengan jawaban yang cerdas. Namun, kenyataannya tak ada yang perhatian sama sekali terhadap bukunya. Akhirnya, dia lebih mengabdikan dirinya pada penulisan esai pada tahun 1741.

Hume tinggal di Perancis selama tiga tahun sampai ia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul, “A Treatise of Human Nature”. Sampai September 1737, Hume kembali ke London selama 16 bulan tinggal, disana ia menerbitkan hasil karyanya. Dari situ Hume kembali ke tanah kelahiran Skotladia. Kembali ke Skotlandia, Hume mengajar di Edingurgh university at Edinburgh (Professorship of Moral Philosophy) namun sebentar disini ia mengalami kegagalan dalam adaptasi terutama harus mengampu subyek kuliah yang berhubungan dengan agama.

Pada 1752, setelah kejadian di Edinburgh Hume kembali menggeluti dunia universitas, dia mengajar logika di Glasgow. Disana juga Hume menyetujui menjadi pendamping penjaga  buku di Perpustakaan di Edinburgh. Beberapa kali Hume juga menjadi pembantu militer di kedutaan Skotlandia di Viena Turin, Italia yang dimulai pada 1740-an. Pada 1763 dia menjadi sekretaris Lord Hartford di Paris, dia disana setelah Raja haris tidak lagi bekerja di pemerintah Irlandia pada 1765. Di Paris Hume menjadi seorang penyuka fashion dan gaya, dan disini pulalah ia meninggal.

Hume tidak pernah menikah dan semenjak sarjana dia memutuskan untuk mengambil jalan peripatetik. Di Skotlandia ia dan keluarganya memutuskan untuk bersenang - senang dan menikmati kehidupan intelektual. Hume menghargai nilai persahabatan sebagai sesuatu yang mulia, dan ia menilai percakapan adalah sebuah jalan untuk membangun peradaban. Hume menilai dirinya sebagai seorang laki-laki dengan disposisi yang ringan dan terbuka secara sosial dengan humor-humor segar dengan hasrat hidup yang tinggi.
 
Sampai hari ini Hume sering dikenal sebagai sejarawan, dan sampai hari ini dia dikenal sebagai seorang filsuf. Karya Filsafat Hume, “An Enquiry Concerning Human Understanding”, telah ditulis pada 1748. Karyanya tersebut sedikit lebih kurang terkenal dari karyanya, ” A Treatise of Human Nature”. Pada 1752, Hume menulis Political Discourses. Pada 1755 dia menulis The Natural History of Religion; dan kemudian diantara tahun 1754 sampai 1762, dan juga menulis 6 volume, History of England;  dan akhirnya dia setidaknya mengumpulkan 14 karya selama hidup. sebuah pemikir yang cukup produktif.
David Hume adalah filsuf Skotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukkan sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia. Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi, sebagai sejarawanlah dia mendapat pengakuan dan penghormatan.

Tahun 1744 upayanya tidak berhasil dalam meraih jabatan guru besar di Edinburgh. Kemudian ia mencoba menjadi tutor bagi orang yang sakit ingatan dan menjadi sekretaris jendral. Hume menjelaskan dalam sebuah obituary diri atau yang biasa disebut “pidato pemakaman” sebagai berikut: saya adalah orang yang berwatak halus, menguasai amarah, terbuka, sosial dan humoris, welas asih. Akan tetapi, sedikit rawan dalam permusuhan dan memilki hasrat yang sedang-sedang saja. Kecintaan saya terhadap ketenaran kesusasteraan tidak menyurutkan amarah saya kendati saya sering merasa kecewa. 

Pokok-Pokok Pemikiran David Hume


Pemikiran Locke tentang pengetahuan memiliki pengaruh besar terhadap para filsuf setelahnya, khususnya David Hume di Inggris dan Kant di Jerman.  Pandangan Locke tentang proses manusia mendapat pengetahuan memiliki dua implikasi penting. Pertama, munculnya anggapan bahwa seluruh pengetahuan manusia berasal dari pengalaman, dan tiadanya pengetahuan secara apriori (sebelum pengalaman) sebagaimana yang dikatakan Descartes. Kedua, semua hal yang manusia ketahui melalui pengalaman, bukanlah obyek atau benda pada dirinya sendiri, melainkan hanya kesan-kesan indrawi dari hal itu yang diterima oleh panca indra manusia.

Pertama, mengenai pengetahuan yang berasal dari pengalaman, berarti segala pengetahuan manusia sebenarnya hanya merupakan kait-mengait dari pengalaman-pengalaman sederhana. Konsep ini akan memengaruhi dan dipertajam oleh David Hume di kemudian hari, dan akhirnya mendapat bentuk paling tajam di dalam filsafat Kant, yang merupakan seorang filsuf paling berpengaruh di era Filsafat moderen. 

Kant menolak semua kemungkinan metafisika, maksudnya manusia tidak dapat mengetahui sesuatu apapun di luar panca-indranya. Lebih jauh, Kant menyatakan bahwa pengetahuan atau pemikiran tentang Allah telah kehilangan legitimasi karena tidak mungkin lagi, sebab Allah berada di luar jangkauan indrawi manusia. Tentu saja pandangan Kant ini telah banyak dikritik, namun pengaruhnya tetap besar.

Kedua, bahwa manusia dalam pengalamannya sebenarnya hanya menerima kesan-kesan indrawi yang ditangkap oleh panca indra kita dari benda-benda atau hal-hal tertentu, memiliki implikasi terhadap kecenderungan subyektivisme. Maksudnya subyektivisme adalah pandangan yang menolak adanya sesuatu yang obyektif, yang berlaku umum, dan hal itu akan mengarah ke relativisme. Hal itu disebabkan manusia yang satu dengan yang lain dapat menarik kesimpulan berbeda mengenai kesan-kesan indrawi mereka masing-masing terhadap suatu hal atau benda. Apa yang obyektif, yakni benda tersebut sesungguhnya pada dirinya sendiri, tidak dapat diketahui oleh manusia.

Sikap antirealisme Hume ditunjukkan dengan skeptisismenya terhadap keakuratan representasi manusia dalam menjiplak semesta. Skeptsisme hume harus dibedakan dengan skeptisisme Descartes. Skeptisme Hume disebut juga sebagai cosequent scepticism, sikap skeptis yang membawa subjek untuk menyadari kesalahan absolut dari fakultas-fakultas mental atau ketidakmampuan mereka mencapai kepastian. Sedangkan skeptisisme Descartes disebut antecedent scepticism, sikap skeptis yang sistematik-metodik guna membawa kita pada kepastian apodiktis-tak terbantahkan.

Hume menolak argumentasi Locke yang menyatakan bahwa ide merupakan representasi dari objek pada dirinya. Ide kausalitas misalnya, tidak memiliki rujukan eksternal. Ide tersebut tak lebih dari rentetan peristiwa yang karena kebiasaan kemudian dipersepsi memiliki hubungan sebab akibat. Ide Locke tentang kesesuaian ide dan kenyataan ditolak mentah-mentah oleh Hume.

Menurutnya, proses tranformasi dari data-data inderawi menjadi pengetahuan dikonstruksi oleh pikiran manusia lewat kebiasaan dan pengalaman. Saat kita memandang objek-objek di luar kita dan merasa ada hubungan sebab akibat, kita tidak pernah bisa-pada saat itu juga-menemukan suatu keterkaitan yang niscaya, selain rentetan peristiwa belaka.Hume mengusulkan agar kita kembali kepada pengalaman spontan menyangkut dunia.

Akal menurut Hume tidak dapat bekerja tanpa bantuan pengalaman. Sebagai contoh ada seorang dari planet lain yang dianugrahi kemampuan akal yang sangat kuat kemudian dibawa ke bumi, tentu saja dia secara langsung dapat mengobservasi peristiwa-peristiwa yang beruntun, namun dia tidak mampu menemukan sesuatu yang lebih dari itu. Untuk pertama kali dia tidak mungkin dapat menangkap ide sebab akibat karena kekuatan-kekuatan partikular yang berjalan secara alami belum tertangkap oleh inderanya.

Begitu juga akal tidak mampu sekaligus menyimpulkan berdasarkan satu peristiwa bahwa suatu sebab menimbulkan akibat tertentu karena hubungan itu bisa berubah-ubah dan kasuistik. Menurut-nya, hanya dua peristiwa yang terjadi yang satu setelah yang lain. Bahwa gerak yang satu disebabkan oleh gerak yang lain hanya berdasarkan pendapat manusia yang mengasosiasikan dua peristiwa yang dulu biasanya juga terjadi secara bersamaan.

Bagi Hume, kausalitas yang ada di alam raya adalah fiksi belaka. Pernyataan  kontroversial itu ditegaskan oleh Hume dalam bukunya, An Enquiry Concerning human Understanding (1748) melalui tiga tanya jawab yang cukup menarik. 

  1. Apa kodrat penalaran kita terhadap kenyataan? Jawabannya adalah relasi sebab akibat. 
  2. Apa dasar seluruh penalaran dan kesimpulan seputar relasi tersebut? Jawabannya adalah pengalaman 
  3. Apa dasar semua kesimpulan yang ditarik dari pengalaman? Jawabannya adalah kebiasaan.
Representasi melibatkan keyakinan dan kebiasaan. Kita biasa mengelompokkan hal-hal yang memiliki kualitas akibat. Hubungan kausalitas pada dasarnya tidak ada, ia hanya konstruksi subjek melalui kebiasaan. Menurut Hume, itu disebabkan oleh “kuasa tersembunyi” yang tidak terpersepsi, namun kita yakini lewat kebiasaan.

Mari kita ambil contoh suatu pristiwa faktual. Selepas makan Baso Sigit merasa kenyang, pada Baso kita mempersepsikan kualitas-kualitas seperti warna, bau, berat dan lain sebagainya, namun tidak pernah terpesepsi “daya tersembunyi” yang membuat perut Sigit kenyang, maka kita menganggap ada hubungan sebab akibat.

Argumen-argumen skeptis hume telah membangunkan seorang filsuf Jerman, Immanual Kant, dari tidur dogmatisnya dalam bilik rasionalisme. Melalui Hume, Kant mengembangkan proyek revolusioner untuk mensintesakan rasionalisme dan emperisme. Rasionalisme dan emperisme dianggapnya terlampau ekstrim dalam mengklaim sumber pengetahuan. Kant, Menyatakan proses transformasi dari data-data inderawi menjadi pengetahuan melalui suatu proses yang sifatnya mental. 

Manusia memiliki kategori-kategori apriori yang berfungsi menata data-data inderawi semesta luar, yang dapat diibaratkan seperti pembuatan kue. Kategori-kategori berfungsi sebagai cetakan kue, sedangkan data-data inderawi sebagai adonannya. Pengetahuan manusia merupakan kue yang suadah matang dan siap disantap. Manusia memandang semesta dengan kacamata kategori-kategori yang hanya dapat diterapkan pada fenomena. Benda pada dirinya (das-ding-an sich) tetap tersembunyi. 

Prinsip Prioritas Kesan-Kesan 


Hume mengajak kita untuk mengalami realitas memulai relasinya dengan realitas melalui persepsi. Persepsi adalah gambaran inderawi atas bentuk luar dari objek-objek. Manusia bagi Hume memiliki dua jenis persepsi yaitu kesan dan gagasan. Kesan dimaksudkan sebagai penginderaan langsung atas realitas lahiriah dan gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan.

Contohnya, jika tangan kita terbakar api, kita akan mendapatkan kesan panas dengan segera. Dan setelah itu kita mengingat bahwa tangan terbakar akan panas, ingatan inilah yang disebut gagasan. Realitas masu dalam diri kita melalui kesan: seseorang yang belum pernah melihat sayap tidak akan membayangkan adanya manusia bersayap. Dengan kata lain kesanlah yang membuat kita mengenal realitas. Sedang gagasan hanyalah tiruan yang samar-samar dari kesan.

Hume mengemukakan bahwa kesan maupun gagasan bisa sederhana(tunggal) bisa juga rumit (majemuk). Sebuah gagasan merupakan perpanjangan dari kesan. Misalnya, gagasan tunggal berasal dari kesan tunggal. 

Misalnya, gagasan mengenai api berasal dari kesan indera terhadap api. Sedangkan gagasan majemuk berasal dari kumpulan kesan majemuk. Misalnya, kita jalan-jalan ke Jakarta, kita akan mendapatkan kesan majemuk mengenai jakarta: seperti tentang demonstrasi, jalan macet, udara panas, dan monas. Namun, gagasan majemuk pada dasarnya dapat diturunkan kepada gagasan tunggal. Misalnya, “Jakarta Panas” merupakan gabungan dari gagasan “Jakarta” dan gagasan “Panas”. Tentu saja gagasan tentang Jakarta dan Panas berasal dari kesan indera terhadap realitas Jakarta dan Panas.

Teori ini mengisyaratkan bahwa gagasan apapun selalu berkaitan dengan kesan. Karena kesan berkaitan dengan pengalaman langsung atas realitas maka gagasan harus pula sesuai dengan realitas. Namun menurut Hume kita seringkali membuat gagasan majemuk yang tidak berkaitan dengan objek yang ada di dunia fisik. Seperti malaikat, apa itu malaikat? Kita misalnya sering mendefinisikan sebagai “manusia bersayap”. Malaikat terdiri dari satu kata namun ia merupakan gagasan majemuk karena terdiri dari gagasan manusia dan bersayap.

Dalam kasus ini indera hanya mempersepsi “manusia” dan “makhluk yang bersayap” misalnya burung. Lalu pikiran kita merekatkan potongan pengalaman inderawi tersebut secara serampangan. Misalnya, karena malaikat datang dari langit tentulah ia bisa terbang seperti burung, namun karena ia datang untuk manusia tentulah pula ia berbentuk manusia. Maka jadilah gagasan bahwa malaikat adalah “manusia yang bersayap”.

Penggabungan seperti ini bagi Hume disebut sebagai penuh omong kosong bukti karena tidak pernah memiliki bukti dalam realitas. Bukankah tak pernah kita menemui ada sosok manusia bersayap? 

Kesan Sensasi dan Kesan Refleksi menurut Hume 


Menurut Hume kesan-kesan itu dibagi menjadi kesan sensasi dan kesan refleksi. Kesan sensasi adalah kesan-kesan yang masuk ke dalam jiwa yang tidak diketahui sebab musababnya. Apa yang kita sadari melalui indera kita selalu merupakan ini adalah sesuatu. Sedangkan kesan refleksi adalah hasil dari gagasan.

Indera mencerap realitas, dan mengirimkan kesan pada diri kita. Lalu kesan itu disalin oleh pikiran (akal budi) sehingga gambaran dari kesan itu tetap ada walaupun indera sudah tak mencerap realitas itu. Kesan dalam akal budi itu muncul kembali ke dalam jiwa akan membentuk kesan-kesan baru. Kesan baru hasil pencerminan dari ide sebelumnya inilah yang disebut dengan kesan refleksi. 

Gagasan Majemuk menurut Hume 


Menurut hume ada tiga sifat yang membuat gagasan sederhana bisa digabungkan menjadi gagasan majemuk:
  1. berdasarkan prinsip kesamaan (Resemblance). Yaitu gagasan sebuah gambar pemandangan alam di benak kita berdasarkan kemiripannya dengan pemandangan alam yang pernah dipersepsi.
  2. berdasarkan keterkaitan (Continguity) dalam ruang dan waktu. Yaitu kalau kita memikirkan sebuah rumah maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga berpikir tentang adanya jendela, pintu, atap, perabot yang sesuai dengan gambaran rumah yang pernah kita dapatkan lewat pengalaman indera sebelumnya.
  3. berdasarkan prinsip sebab akibat (cause and effect). Yaitu jika kita memikirkan luka kita akan memikirkan secara serentak rasa sakit yang diakibatkan oleh luka tersebut.
    Sifat-sifat relasi tersebut membentuk gabungan gagasan-gagasan dengan cara sendiri, sehingga muncullah gagasan majemuk. Pada umumnya gagasan majemuk muncul dari gabungan gagasan-gasan tunggal. Gagasan majemuk bisa dibagi ke dalam relasi, modus dan substansi. Relasi berarti penghubung antara dua gagasan tunggal, sehingga bisa menjadi gagasan majemuk.

    Relasi biasanya digunakan dalam dua arti. Arti pertama, menunjukkan pada kualitas menggabungkan dua ide. Misalnya “buku itu bagus”. Arti kedua menunjuk pada lingkungan tertentu dimana kita bisa membandingkan dua gagasan. Dalam arti kedua ini Hume menunjukkan tujuh relasi filosofis: kesamaan, identitas, ruang dan waktu, kuantitas atau jumlah, tingkatan-tingkatan, kebertentangan dan sebab atau akibat. Sedangkan subtansi menurut Hume adalah sekumpulan gagasan-gagasan tunggal yang disatukan oleh imajinasi lalu diberi nama tertentu.

    Modus sebagai ganti aksidensi dimaksudkan sebagai sifat suatu hal yang muncul dalam keadaan tertentu saja, tidak mutlak, dan dapat berubah-ubah. Jadi modus bukan aksidensi, karena modus hanyalah mode adanya sesuatu yang terus berubah tergantung pada pemunculannya. Sementara aksidensi merupakan suatu yang berubah namun ia tetap dimiliki oleh suatu aksiden. Jadi jika kita melihat suatu gejala , itu bukan aksidensi yang akan menggambarkan substansi tertentu, namun hanyalah modus (penampakan) yang adalah substansi itu sendiri dalam kesan seperti itu.

    Gagasan abstrak (yang bersifat umum) bagi Hume adalah berasal dari gagasan partikular yang digabung dalam suatu gagasan dengan arti yang bersifat umum. Jadi gagasan abstrak disusun oleh gagasan-gagasan partikular, atau dapat dikatakan sebagai hasil dari sesusun kesan. Misalnya malaikat sebagai manusia bersayap, merupakan gagasan abstrak, karena tidak ditemukan kesan nyata dari gagasan tersebut. Dan bahasan ini akan membawa kita pada pembahasan ruan dan waktu.

    Hume menentang semua pemikiran dan gagasan yang tidak dapat dilacak kaitannya dengan persepsi indera. Hume menghapus seluruh omong kosong tak bermakna yang telah lama mendominasi pemikiran metafisika. Cara yang ditempuh Hume dimulai dengan pertanyaan: dari kesan mana sebuah gagasan disusun?
Mekanismenya sebagai berikut:
a.       gagasan majemuk itu tersusun dari gagasan tunggal, dan gagasan tunggal pasti berasal dari kesan inderawi. Karena itu cara meneliti suatu gagasan majemuk adalah mengurainya menjadi gagasan-gagasan tunggal penyusunnya.
b.      Setelah ditemukan gagasan tunggal penyusun, kita harus menemukan kesan yang menjadi asal gagasan tersebut. Jika ada kesan yang mendasari gagasan itu maka gagasan itu bertanggung jawab atau benar. 

Kesimpulan 


Hume adalah seorang skeptis, ia menolak segala keyakinan rasional. Baginya tak semuanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan. Tidak ada yang namanya keyakinan rasional. Hume mengajak kita untuk mengoperasikan pertanyaan apa yang menyebabkan kita percaya pada keberadaan sesuatu? Bukan menanyakan ada tidaknya sesuatu?