Friday, November 20, 2015

Teori Belajar yang Melandasi Model Pembelajaran Learning Strategies



2.1.1        Teori belajar construktivisme
Construktivisme merupakan landasan berpikir pembelajaran konstektual, yaitu bahwa pengetahuan yang dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri (Dalyono, 2002:124).
Dalam pandangan construktivisme, strategi lebih diutamakan. Oleh sebab itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
1.      Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
2.      Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
3.      Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2.1.2        Teori Bandura
Ada empat elemen penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran yaitu:
1)      Atensi
Seseorang harus menaruh perhatian atau atensi agar supaya dapat belajar melalui pengamatan. Sulzer dan Mayer dalam Woolfolk (2005:262) mengemukakan bahwa sehubungan dengan perhatian, "seseorang khususnya menaruh perhatian kepada orang yang menarik, popular, kompeten, atau dikagumi. Dalam pengajaran, guru harus menjamin agar siswa memberi atensi kepada bagian-bagian penting dari pelajaran dengan memberikan penekanan yang jelas dengan menggaris bawahi poin-poin penting".
2)      Retensi
Agar dapat meniru prilaku suatu model, seseorang siswa harus mengingat perilaku yang diamati. Mengingat itu termasuk menggambarkan tindakan-tindakan model dalam berbagai cara, dapat berbagai langkah verbal atau gambaran-gambaran visual atau kedua-duanya. Agar prilaku dapat diingat, perlu diadakan pengulangan. Retensi dapat diperlancar melalui pengulangan secara mental dan melalui latihan sebenarnya (Dalyono, 2004:129).
3)      Produksi
Fase ini merupakan fase hasil daripada peniruan yang dilakukan secara berulang-ulang. Keyakinan bahwa siswa mampu melakukan suatu tugas merupakan hal penting pada fase ini dan mempengaruhi motivasi siswa tersebut untuk menunjukkan kinerjanya. Hal ini memerlukan latihan-latihan berulang kali, latihan untuk langkah-langkah yang sulit dan umpan balik terhadap perilaku yang ditirukan. (Dalyono, 2004:140)
4)      Fase motivasi dan Penguatan
Motivasi dan penguatan dapat memainkan beberapa peran dalam pembelajaran melalui pengamatan. Apabila siswa itu mengantisipasi akan memperoleh penguatan pada saat meniru tindakan-tindakan suatu model, siswa lebih termotivasi untuk menaruh perhatian, mengingat dan memproduksi prilaku itu. Disamping itu penguatan penting dalam mempertahankan pembelajaran.