Tuesday, November 24, 2015

Mengenal Tahapan Metode Kritik dalam Dunia Pendidikan





A.    Tahapan Metode Kritik

Adapun pelaksanaan metode kritik ini adalah melalui tahapan-tahapan: Pertama usaha mencermati objek kritik (bisa teori maupun praktek pendidikan), usaha merelevansikan objek kritik dengan pedoman atau pijakan, usaha menemukan kesalahan-kesalahan, usaha mencari alternatif pemecahan, usaha menawarkan teori baru sebagai alternatif pemecahan dan menguji Teori alternatif pemecahan itu. Tahapan-tahapan ini merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Tahapan yang satu memiliki kaitan erat dengan tahapan lainnya, sehingga jika salah satu tahapan dipisahkan akan menjadikan kritik kurang atau tidak berbobot lagi.[1]
Jadi, metode kritik sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan tentang pendidikan Islam dimulai dari usaha mencermati objek baik berupa teori-teori pendidikan atau yang mengaku pendidikan Islam maupun praktek-prakteknya. Teori-teori tersebut dapat dicermati dari latar belakang timbulnya, alur pikirannya, orientasinya, substansinya dan sebagainya. Aspek-aspek lain yang dipandang penting untuk dicermati dapat dijadikan pusat perhatian dalam tahapan ini. Sedangkan praktek-praktek pendidikan, baik berasal dan kalangan pendidikan non Islam pendidikan versi pemerintah (negeri) maupun pendidikan Islam sendiri layak untuk dijadikan objek pencermatan.
Tahapan ini membutuhkan tahapan berikutnya. Usaha pencermatan objek ini tidak akan menghasilkan suatu penilaian kalau tidak ada pedoman atau pijakan yang dijadikan sebagai penilai atau pengukur. Maka tahapan kedua dari mekanisme kerja kritik ini adalah usaha merelevansikan substansi objek kritik dengan pedoman atau pijakan[2]. Sedangkan pedoman atau pijakan yang bisa dijadikan parameter untuk menilai relevan tidaknya substansi objek kritik itu bisa berupa pengalaman yang telah teruji berkali-kali, teori-teori yang telah terkenal kevalidannya, pertimbangan-pertimbangan rasional, dan pesan-pesan wahyu. Salah satu atau keseluruhan dari empat macam pijakan ini dapat dijadikan model untuk nnenilai dan mengukur objek kritik. Setelah objek kritik dinilai atau diukur dari salah satu pedoman tersebut, maka tahapan ketiga baru dilakukan, yaitu usaha menemukan kesalahan -kesalahan.[3]
Pada tahapan ketiga ini tidak ada usaha yang sifatnya rekayasa harus menemukan kesalahan, meskipun tahapan ini merupakan usaha menemukan kesalahan-kesalahan. Jika suatu teori pendidikan misalnya setelah diukur dan dinilai dari salah satu satu keseluruhan pedoman tersebut ternyata terdapat kesalahan-kesalahan atau penyimpangan-penyimpangan, berarti proses kritik dalam masalah ini berlanjut. Namun, jika tidak ditemukan kesalahan atau penyimpangan, maka proses kritik dalam masalah ini tidak boleh dilanjutkan. Tidak boleh ada paksaan-paksaan, lebih baik mencari objek kritik yang baru untuk dicermati, kendatipun berangkat dari awal lagi.
Kalau ternyata berdasarkan penilaian tersebut benar-benar didapatkan kesalahan-kesalahan, maka proses kritik bisa dilanjutkan pada tahapan keempat, yaitu usaha mencari alternarif pemecahan[4]. Usaha ini tidak sekadar bersifat memunculkan teori tandingan, tetapi lebih ditekankan pada kemampuan untuk memberi pemecahan terhadap kesalahan-kesalahan tersebut. Sifat kedua ini yang lehih penting, sebab teori tandingan itu tidak selalu berkonotasi penyelesaian bahkan tidak jarang hanya merupakan variasi dan teori yang telah ada semata yang diangkat validitasnya belum terjamin. Berbeda dengan sifat rnemberikan pemecahan, memang dirancang untuk memberikan penyelesaian terhadap masalah yang sedang dihadapi. Adapun model untuk memberikan pemecahan atas kesalahan-kesalahan itu tidak terlepas dari salah satu empat macam pedoman tersebut sebagai modal dasar.
Setelah ditemukan alternatif pemecahan, maka pindah pada tahapan kelima berupa usaha menawarkan teori baru, sebagai alternatif pemecahan[5]. Jika pada tahapan mencari alternatif pemecahan tersebut masih bersifat kedalam (untuk kita ketahui sendiri), maka pada tahapan menawarkan teori baru sebagai alternative pemecahan ini bersifat keluar. Artinya, teori baru yang kita bangun sebagai hasil koreksi terhadap suatu teori perlu diketahui dan direspons orang lain, sehingga kita sosialisasikan dengan cara menawarkannya. Tentu saja pada tahapan ini prosesnya lebih matang daripada tahapan keempat, di samping konseptual. Tawaran teori baru ini didukung sejumlah argumentasi, baik yang dilontarkan bersamaan dengan penawaran itu maupun yang masih tersimpan. Pada tahapan ini, kita harus bersiap-siap, baik secara psikologis maupun intelektual untuk memberikan penjelasan-penjelasan secara logis, rasional dan memuaskan terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya sanggahan atau bantahan dari orang lain. Penjelasan-penjelasan yang kita berikan harus terkonsep dengan jelas dan kita harus selalu menghindari penjelasan-penjelasan yang bersifat emosional, meskipun sanggahan dari orang lain itu bernada mengejek. Pada akhirnya yang akan diterima orang justru teori yang tangguh dan tahan dari serangan-serangan itu, termasuk juga yang tahan terhadap ejekan itu.
Selanjutnya sebagai tahapan terakhir atau tahapan keenam, yaitu menguji teori baru sebagai alternatif pemecahan itu[6]. Jadi, teori yang kita bangun, kita uji sendiri melalui kritik lagi. Kita kritisi kemungkinan terdapat celah-celah kelemahan atau kesalahan, meskipun merupakan celah kecil, Terkadang celah kecil yang tidak diperbaiki ini menjadi penyebab kesesatan. Tahapan ini di samping untuk mewujudkan “objektivitas”, “netralitas”, juga untuk menghadirkan kewaspadaan atau kehati-hatian pada diri kita sendiri, sekaligus menepis tudingan, bahwa kritik yang kita lancarkan ini merupakan sikap latah. Dengan mengkritik terhadap teori kita sendiri tidak ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, jka orang lain menuduh kita latah.
Dengan melalui seluruh rangkaian proses tersebut sebanyak enam tahapan maka kritik yang kita lontarkan adalah kritik ilmiah: kritik yang didasarkan atas kesadaran, kritik yang diproses melalui kesiapan-kesiapan, kritik yang didasarkan argumentasi-argumentasi, kritik yang berorientasi memberikan pemecahan, kritik yang terkonsep, kritik yang terhindar dar unsur pelecehan dan sikap emosional, kritik yang selalu kita kritik, kritik yang bisa dipertanggungjawabkan, dan kritik yang terbuka terhadap serangan balik sehingga kita tidak hanya siap mengoreksi kelemahan-kelemahan pikiran orang lain, terapi juga kita siap dikoreksi orang lain.



[1] Walid Harmaneh, Kritik Kontemporer atas Filsafat Arab Islam, (Yogjakarta: Islamika, 2006), hal. 89.

[2] Ibid., hal. 91.

[3] Ibid., hal. 93.

[4] Ibid., hal. 95.

[5] Ibid., hal 100.

[6] Ibid., hal. 101.