Monday, November 16, 2015

REMAJA DAN PERMASALAHAN SOSIAL



Berbagai ragam krisis akhlak dan moral kini terus menular, merebak dan mewabah dalam masyarakat kita, khususnya di kalangan remaja. Mulai dari kes bosia, hamil di luar nikah yang diikuti dengan pembuangan zuriat di dalam tong sampah, gengsterisme dan vandalisme, rogol, sumbang mahram, ketagihan narkoba, hingga kepada mat rempit. Ternyata bahwa pendidikan moral yang dilaksanakan masih jauh untuk dapat menangani permaslahan dalam bidang ini. Hal ini merupakan sebuah kenyataan miris yang sangat menyedihkan. Dengan demikian tujuan pendidikan Nasional tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan.
1.      Karakteristik Remaja
Dunia remaja adalah dunia yang sangat berkesan dalam kehidupan manusia, penuh pengalaman dan tantangan. Ada beberapa karekteristik umum yang ada pada diri remaja sebagaimana dikatakan oleh beberapa pakar:
Menurut Intan Qurratul Ain dan kawan-kawan menyatakan bahwa: "Remaja selalu berusaha mencari cara bagaimana mereka bisa menghadapi orang lain."[1] Jadi remaja akan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Karena remaja ingin memperlihatkan usahanya bagi orang lain sekitarnya. Hal ini merupakan sifat dan cirri khas remaja yang sangat sulit dipisahkan. Mereka selalu ingin mencoba sesuatu hal.
Intan Qurratul Ain dan kawan-kawan juga menyatakan bahwa: "Remaja mencoba mengerti apa yang orang lain harapkan dari mereka, dan apa pula yang mereka harapkan."[2] Remaja akan mencapai cita-cita dan ingin melakukan sesuatu atas kehidupan mereka. Remaja selalu ingin mendapatkan perhatian dari orang lain.
Hal lain tentang karakteristik remaja juga dinyatakan oleh Abu Naufal dan Hidayat Mustafid bahwa: "Remaja berani merefleksi pikiran-pikiran mereka dalam kehidupan nyata."[3]  Karena pada masa remaja, mereka tertarik untuk membuat kesimpulan dari segala fenomena yang timbul dan mereka tertarik serta ingin mengerti hal-hal yang lebih luas dalam kehidupan.
Abu Naufal dan Hidayat Mustafid juga menyatakan bahwa: "Remaja mengalami hal yang normal terhadap lawan jenis."[4] Pada masa ini mereka tertarik dan melirik lawan jenis untuk dijadikan lebih dari sekedar kawan. Ketertarikan hati ini merupakan kodrat insani dan merupakan fitrah manusia. Namun semua tetap harus berdasarkan norma agama dan sosial-budaya.
Menurut Abu Naufal dan Hidayat Mustadid ada empat hal yang tidak dapat dihilangkan, tetapi hanya dapat diminalisir pada kaum remaja yaitu: Yang pertama, mudah terpengaruh, ikut trend yang tak jelas asal-usul."[5] Alangkah sedihnya jika remaja terpengaruh dengan budaya-budaya yang melenceng dari ajaran agama karena dapat merusak etika kaum remaja. Maka hendaknya seluruh elemen masyarakat dapat menyaring budaya-budaya luar yang dapat merusak moralitas kaum remaja.
Yang kedua, menurut Abu Naufal dan Hidayat Mustafid adalah “remaja mencoba memanage hidup mereka sendiri dan merasa bangga bila dapat melakukan sesuatu di luar control orang tua atau orang lain."[6] Jadi pada masa ini, ada beberapa keputusan yang tidak mereka sandarkan pada orang tua atau orang lain karena mereka menganggap sudah mampu untuk berdiri sendiri dan merasa malu jika tergantung penuh pada orang lain.
Dan yang ketiga, “Remaja selalu meningkatnya rasa ego dan merasa mereka lebih dari orang lain, ingin selalu di depan, tak jarang untuk mencapai ini semua mereka akan melalui jalan yang negatif."[7] Maka hal ini harus ada peran orang tua dalam menyikapi hal tersebut.
Oleh sebab itu menurut Abu Naufal dan Hidayat menyatakan bahwa: “remaja membutuhkan ketrampilan sosial dan kemampuan menyesuaikan diri sangat dibutuhkan saat seseorang berada di masa remaja."[8] Kegagalan remaja dalam memasuki dan menguasai lingkungannya, akan menyebabkan remaja sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
Maka dalam hal ini remaja memerlukan pembinaan dari orang tuanya dan lingkungan sekitarnya. Dan dalam hal ini peran serta Badan Kemakmuran Mesjid merupakan basis penting dalam pembinaan akhlaq dan prilaku remaja. Badan kemakmuran mesjid harus berperan dalam pembinaan etika remaja dalam masyarakat. Pentingnya peranan BKM dalam pembinaan akhlaq manusia sangat diharapkan oleh agama Islam.
2.      Remaja Muslim Yang Ideal
Sangat banyak figur-figur manusia ideal yang diungkapkan dalam al-Qur'an dan hadist. Menurut Adhia Rizki Ananda salah satu figur remaja ideal dijelaskan sebagai berikut: “remaja yang gerak geriknya merupakan pancaran dari ajaran Islam."[9] Dengan demikian setiap langkah remaja merupakan aplikasi dari tuntunan agama yang mulia. Gerak-gerik remaja selalu diwarnai dengan etika yang terkandung dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasul.
Adhia Rizki Ananda juga menyatakan bahwa ciri-ciri remaja yang ideal, dijelaskan sebagai berikut: “remaja yang dapat memetakan langkah hidupnya, memiliki visi dan misi dalam hidupnya yang sesuai dengan ajaran Islam."[10] Mereka selalu merencanakan misi dan visi sebagaimana yang telah dianjurkan oleh ajaran Islam dan tidak pernah bertentangan dengan syariat Islam.
Menurut Qurratul Ain, remaja ideal adalah sebagai berikut: "remaja yang mengenal dirinya sendiri, menjadi suri tauladan bagi yang lainnya."[11] Bila mereka mengenal dirinya maka ia akan mengenal siapa penciptaanya, yang melahirkannya dan orang yang memberikan pendidikan spiritual kepada diri mereka.
Menurut Adhia Rizki Ananda remaja ideal yang seperti didalam al-Qur’an dan Hadits adalah "remaja yang memiliki dasar pendidikan yang baik secara formal ataupun non formal."[12] Pendidikan sangat mempengaruhi etika para remaja. Karena bila seseorang ingin mencapai kebahagiaan, maka manusia tersebut harus memiliki ilmu pengetahuan agama dan umum.
Adhia Rizki Ananda juga menyatakan bahwa remaja ideal adalah sebagai berikut: "remaja yang bersifat terbuka, fleksibel serta kritis terhadap segala informasi dan nilai-nilai baru."[13] Karena remaja yang ideal memiliki pikiran yang kritis. Segala sesuatu yang datang terhadap dirinya lebih dahulu dicerna, disaring dan dipilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Dan satu hal lagi menurut Adhia Rizki Ananda yang merupakan remaja ideal, menurutnya remaja ideal adalah sebagai berikut "remaja yang membangun dasar pengetahuan dan intuisi melalui pendidikan formal dan informal."[14] Karena pengetahuan dan instuisi yang baik akan melahirkan regenerasi yang baik terhadap agama dan bangsa.
Untuk mengaplikasikan hal tersebut, maka perlu adanya lembaga pembinaan etika bagi kaum remaja. Dalam hal ini peran serta Badan Kemakmuran Mesjid merupakan basis sentral dan sangat penting dalam mendidik dan membina kaum remaja untuk berakhlaq baik.



[1] Intan Qurratul ain, dkk, Dinamika Peran Perempuan Aceh Dalam Lintasan Sejarah:Peran Orang Tua Dalam Pembinaan Keimanan Anak, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2007), hal 200

[2] Ibid., hal. 202

[3] Abu Naufal, Hidayat Mustafid, Menuju Orang Tua Teladan Sepanjang Masa…, hal 201

[4] Ibid., hal. 211

[5] Ibid., hal. 211

[6] Ibid., hal. 212

[7] Adhia Rizki Ananda, Masa Depan Remaja Islam, (Banda Aceh: Lapena, 2007), hal. 54.

[8] Ibid., hal. 55.

[9] Ibid., hal. 55.

[10] Ibid., hal. 57.

[11] Intan Qurratul Ain, dkk, Dinamika Peran Perempuan Aceh Dalam Lintasan Sejarah…, hal. 123.

[12] Ibid., hal. 55.

[13] Ibid., hal. 55

[14] Ibid., hal. 56