Sunday, November 15, 2015

PENINGKATAN MUTU BELAJAR ANAK



Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara guru dan orang tua siswa. Ini suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa adanya kerjasama maka upaya peningkatan mutu belajar tidak tercapai hasil yang optimal. Baharuddin dalam hal ini mengatakan bahwa: “suatu kerjasama antara orang tua, pemerintah, guru, dan masyarakat adalah suatu hal yang mutlak diperlukan dan sudah dapat dipastikan bahwa tanpa adanya kerjasama ini, maka pendidikan tidak akan dapat di selenggarakan dengan baik.”[1]
            Guru merupakan wakil dari orang tua mempunyai kewajiban mengisikan intelektual, sikap, dan keterampilan anak di sekolah. Guru sebagai ibu/bapak tempat anak mengadu, bertukar fikiran, memecah masalah, di samping itu guru juga memiliki hak untuk menghukum, menasehati anak tatkala ia salah. Kesuksesan guru sebagai pendidik di sekolah berkat kerjasama dengan orang tua, sebaliknya guru akan sukar mendidik, membimbing, dan melatih anak di sekolah tanpa adanya kerjasama dengan orang tua. Demikian pula para orang tua kan berhasil mendidik anaknya bila bersenergi dengan guru-guru di sekolah.[2]
            Zakiah Darajat mengatakan bahwa kerjasama orang tua murid dengan guru terhadap pendidikan anak antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Adanya perhatian orang tua murid terhadap daftar nilai. Daftar nilai sebenarnya laporan guru kepada orang tua tentang kemajuan serta didik mengenai pelajaran, kelakuan dan kerajinannya. Dengan adanya pemberian daftar nilai akan tercipta kerjasama yang baik antara orang tua murid dengan guru dalam memajukan pendidikan anak di sekolah.
2.      Adanya surat peringatan. Dengan pengiriman surat peringatan kepada peserta didik, maka memberikan peluang kepada orang tua murid untuk datang ke sekolah dan menanyakan permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan anaknya.
3.      Mengadakan kunjungan kesekolah atau kerumah guru. Kunjungan orang tua murid ke sekolah atau kerumah guru merupakan hal yang sangat positif dalam rangka peningkatan mutu peserta didik. Di sekolah atau di rumah orang tua murid dengan guru dapat menukar pikiran dalam rangka mendidik anak kearah kedewasaan.
4.      Mengadakan pertemuan orang tua murid dengan guru. Pertemuan orang tua murid dengan guru merupakan salah satu kerja sama yang sangat efektif dalam peningkatan pendidikan anak, Karena denga adanya pertemuan tersebut dapat membicarakan dan bahkan menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
5.      Orang tua murid denga dewan guru sama-sama memahami kebutuhan anak didik. Memahami kebutuhan anak didik merupakan suatu hal yang sanagt penting, karena dengan adanya pemenuhan keinginan anak didik, maka akan memudahkan dalam mengontrol, mendidik dan merubah segala perilaku anak kearah kedewasaan.[3]

            Dari uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa kerja sama orang tua dan pihak sekolah sangat penting dalam rangka memajukan proses pendidikan anak didik. Semua bentuk kerjasama tersebut sangat besar manfaat dan artinya dalam memajukan pendidkan sekolah pada umumnya, dan anak didik khususnya.
1.      Adanya perhatian orang tua murid terhadap daftar nilai.
              Salah satu bentuk kerjasama antara orang tua murid dengan guru yaitu adanya daftar nilai atau sering dikenal dengan raport.Sebaiknya pembagian buku raport yang dilakukan tiap semester, diselenggarakan melalui pertemuan antara orang tua dengan para guru. Orang tua sedapat mungkin tidak mewakili kepada orang lain dalam pembagian buku raport.
            Dalam pertemuan ini, kepala sekolah atau madrasah akan memberikan penjelasan-penjelasan kepada orang tua murid tentang kegiatan belajar mengajar pada umumnya, khususnya tentang mutu belajar pada umumnya, khususnya tentang mutu belaj pada umumnya, khususnya tentang mutu belajar murid dan kelemahan-kelemahan yang perlu ditingkatkan oleh para orang tua di rumah.
Muhammmad surya, menyebutkan bahwa “pengambilan buku raport atau STTB sebagai laporan kemajuan belajar siswa akan lebih tepat apabila dilakukan oleh orang tua secara langsung agar orang tua dapat memperoleh penjelasan dari pihak sekolah. Selanjutya dapat dilakukan diskusi untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya dalam kegiatan belajar mengajar.[4]
              Dari uraian dapat disimpulkan bahwa pembagian buku raport akan lebih efektif apabila diserahkan langsung kepada orang tua, dalam pertemuan tersebut orang tua dapat bermusyawarah langsung dengan guru tentang hal-hal penyebab menurunnya prestasi belajar siswa dan sama-sama mencari jalan keluarnya.        
2.      Adanya surat peringatan.
            Surat peringatan merupakan surat yang dikeluarkan oleh sekolah untuk orang tua mengenai permasalahan anaknya di sekolah. Dengan adanya surat peringatan dari sekolah, memberikan peluang besar bagi orang tua untuk bertemu dengan para guru. Orang tua dan guru dapat membahas permasalahan yang dihadapi siswa misalnya menyangkut dengan kenakalan siswa, kelambanan belajar siswa, tingkat kedisiplinan belajar siswa, dan lainnya.
            Dalam menyampaikan masalah-masalah yang di hadapi anak didik di sekolah kepada orang tua, guru harus menjelaskannya dengan cara yang baik dan jelas dengan cara bermusyawarah dengan orang tua dalam mencari solusinya dan orang tua harus bijaksana dalam menanggapi hal tersebut. Antara kedua belah pihak jangan saling menyalahkan.
3.      Mengadakan kunjungan kesekolah atau kerumah guru.
            Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya bukan hanya di rumah saja, selebihnya orang tua lepas tangan tanpa mau tahu tentang hal anaknya disekolah. Akan tetapi, orang tua juga mempunyai kewajiban mengontrol belajar anaknya di sekolah salah satunya yaitu mengunjungi sekolah. Banyak orang tua yang enggan datang ke sekolah anaknya di karenakan sibuk dengan pekerjaannya.
            Kunjungan orang tua ke sekolah bertujuan untuk meningkatkan hubungan yang harmonis antara guru dan orang tua, dapat melahirkan sikap terbuka antara kedua belah pihak dalam mendidik anak, melahirkan perasaan pada sekolah, bahwa orang tua bukan hanya di rumah mengawasi dan mengontrol anaknya tetapi orang tua juga mempunyai peranan penting di sekolah, terjadinya komunikasi dan saling memberi informasi tentang keadaan anak serta saling memberikan petunjuk antara guru dengan orang tua.
4.      Mengadakan pertemuan orang tua murid dengan guru.
            Di antara banyak pertemuan emosional dan paling menantang dalam sejarah adalah pertemuan yang lazim antara orang tua murid dan guru, karena dirumitkan oleh banyaknya harapan, keinginan, kekhawatiran, dan sikap bertahan. Salah satu kesulitan utama dalam konferensi orang tua murid dan guru adalah kemampuan untuk saling mengenal dan terbiasa satu sama lainnya. Para guru mengatakan bahwa orang tua menganggap semua yang disampaikan berkaitan dengan anak-anak mereka akan dianggap sebagai serangan pribadi. Orang tua menyalahkan pada guru karena terlalu banyak mengajar dan bukannya mendengarkan, terlalu banyak menyalahkan dan bukannya memahami.[5]
            Masalah Konferensi yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran dapat mencegah munculnya sosial dan akdemis yang serius. Sejumlah sekolah dasar memulai praktek yang sangat baik pada konferensi saat buku rapor pertama diterimakan.[6]
            Menurut John W. Santrock, untuk menghindari problem sejak awal, konferensi orang tua dan guru pertama dapat dijadwalkan dalam dua minggu pertama masa sekolah sehingga orang tua dapat mengajukan pertanyaan, keluhan, dan saran. Pada pertemuan pertama ini guru mencari tahu tentang struktur keluarga murid, aturan keluarga, peran keluarga, dan gaya belajar.[7]       Dari penjabaran diatas, dengan diselenggarakannya konferensi lebih awal, orang tua dan guru dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka sejak lebih awal juga.


5.      Orang tua murid dengan dewan guru sama-sama memahami kebutuhan anak didik.
Semua orang tua menginginkan anaknya berhasil dalam belajar. Hal itu tak akan terwujud tanpa adanya kerjasama yang baik antara orang tua murid dengan para dewan guru. Orang tua mendidik anaknya di rumah, dan di sekolah untuk mendidik anak diserahkan kepada sekolah, agar berjalan dengan baik kerjasama antara kedua belah pihak maka harus ada dalam suatu rel yang sama dalam memenuhi kebutuhan anak baik saat anak berada di rumah atau di sekolah.
      Setiap ada sesuatu hal yang dirasakan janggal pada diri anak baik di rumah ataupun di sekolah, baik orang tua ataupun guru harus sesegera mungkin untuk menanganinya dengan cara saling menginformasikan di antara orang tua dan guru, mungkin lebih lanjutnya mendiskusikannya supaya bisa lebih cepat tertangani masalah yang dihadapai oleh anak dan tidak berlarut-larut. Oleh karena itu seperti apa yang tertulis di atas bahwa orang tua dan sekolah merupakan satu kesatuan yang utuh di dalam mendidik anak, agar apa yang dicita-citakan oleh orang tua atau sekolah dapat tercapai, maka harus ada kekonsistenan dari kedua belah pihak dalam melaksanakan program-program yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Sutisna, beliau mengemukakan maksud hubungan sekolah dengan masyarakat khususnya dengan orang tua yaitu sebagai berikut:
a.       Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan saran-saran dari sekolah.
b.      Untuk menilai program sekolah.
c.       Untuk mempersatukan orang tua murid dengan guru dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak didik.
d.      Untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan.
e.       Untuk membangun dan memelihara kepercayaan masayarakat terhadap sekolah.
f.       Untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah.
g.      Untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.
Jika hubungan antara orang tua dan guru sudah terjalin dengan baik dan harmonis, maka akan memberikan efek yang baik diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.      Sekolah senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua.
2.      Sekolah berusaha melibatkan para orang tua siswa dalam pelaksanaan program sekolah
3.      Prosedur-prosedur untuk melibatkan para orang tua siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah disampaikan secara jelas, dan dilaksanakan secara konsisten.
4.      Orang tua di sekolah ini mempunyai kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan.
5.      Pada pertemuan antara orang tua dengan sekolah, tingkat kehadiran orang tua siswa tinggi.
6.      Ada kerjasama yang baik antara guru dan orang tua sehubungan dengan pemantauan pekerjaan rumah.
7.      Para guru sering berkomunikasi dengan para orang tua siswa tentang kemajuan siswa, dan menunjukkan bidang-bidang keunggulan dan kelemahannya.
8.      Orang tua dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan di sekolah.[8]

Dari penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa hubungan antara guru dan orang tua siswa sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas belajar siswa dan memberikan efek yang sangat penting diantaranya: sekolah senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua, sekolah berusaha melibatkan para orang tua siswa dalam pelaksanaan program sekolah, prosedur-prosedur untuk melibatkan para orang tua siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah disampaikan secara jelas, dan dilaksanakan secara konsisten, orang tua di sekolah ini mempunyai kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan, pada pertemuan antara orang tua dengan sekolah, tingkat kehadiran orang tua siswa tinggi, ada kerjasama yang baik antara guru dan orang tua sehubungan dengan pemantauan pekerjaan rumah, para guru sering berkomunikasi dengan para orang tua siswa tentang kemajuan siswa, dan menunjukkan bidang-bidang keunggulan dan kelemahannya, orang tua dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan di sekolah.


[1]Baharuddin M, Anak Putus Sekolah dan Masalah Penanggulangannya, (Jakarta: Yayasan Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66, 1982), h. 415.

[2]Martinis Yamin, Paradigma Pendidikan Konstruktivistik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 208-209.

[3]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 67.
[4] Muhammad Surya, Percikan Perjuangan.., h. 392.
[5]Dorothy Rich, Menciptakan Hubungan Sekolah Rumah Yang Positif, (Jakarta: Indeks, 2008), h.36.

[6]Dorothy Rich, Menciptakan Hubungan Sekolah..., h. 41.

[7]John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 99.
[8]Mulyasa, Implementasi..., h. 128-129.