Sunday, November 15, 2015

PERAN ORANG TUA DALAM PENINGKATAN MUTU BELAJAR



Peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu. Menurut Amran, peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.[1]Dengan demikian peranan dapat diartikan dengan sesuatu yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan terutama dalam terjadinya pendidikan.
Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa “orang tua berarti orang yang sudah tua, orang yang dianggap tua (seperti cerdik, pandai) dalam kampong”.[2]
Menurut W. J. S Poerwandarminta, orang tua yaitu orang yang dianggap tua dan mampu memberikan nasehat untuk anaknya dan orang lain.[3]
Orang tua sangat berperan penting dalam pendidikan anak. Peranan orang tua dalam pendidikan anak dilakukan atas dasar tanggung jawabnya sebagai Pembina anak dalam lingkungan keluarga. Hal ini menunjukkan orang tua sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga. Zakih Daradjat menyatakan bahwa “orang tua mempunyai kedudukan dalam keluarga dam punya tanggung jawab penuh demi kelangsungan rumah tangga, harus mampu memberikan segala kebutuhan hidup dan memberikan perlindungan kepada semua anggota kelurga seperti pangan, sandang, dan pendidikan.”Pendidikan merupakan hal utama dalam perhatian orang tua. Sehingga pendidikan anak dapat tumbuh berkembang dan suatu hari nanti bila ia sudah dewasa dapat hidup mandiri.[4]
Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Dalam kaitan ini Winarno Surachmad menyatakan sebagai berikut:
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, keluarga besar atau kecil, keluarga miskin atau berada. Situasi keluarga tenang, damai, gembira, atau kelurga yang sering cekcok, bersikap keras, ini semua akan mewarnai sikap anak.[5]

Keberhasilan pendidikan di suatu lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh guru di sekolah, akan tetapi peranan orang tua juga sangat menentukan. Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Surya bahwa:
Pihak yang paling langsung bersentuhan dengan proses pelaksanaan pendidikan anak adalah keluarga dan sekolah. Dalam kenyataan sering terjadi situasi saling menyalahkan satu dengan lainnya. Sekolah menyalahkan orang tua dan sebaliknya orang tua menyalahkan sekolah. Sebenarnya pihak-pihak terkait ini mempunyai tujuan yang sama yaitu mempersiapkan anak dan generasi muda bagi perwujudan dirinya dimasa yang akan datang.[6]

Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya akan menyebabkan anak kurang berhasil dalam belajar. Hubungan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa dipikulkan kepada orang lain. Namun untuk kesempurnaan pendidikan secara utuh, orang tua juga perlu pelimpahan tanggung jawab pendidikan anak pada orang lain, yaitu sekolah dan masyarakat. Mengasuh dan mendidik anak merupakan tanggung jawab utama setiap orang tua. Karena bersama orang tualah anak lebih banyak menghabiskan waktunya, bila dibandingkan dengan lingkungan pendidikan lainya seperti lingkungan sekolah dan masyarakat.
Dari berbagai sumber dapat dikemukakan bahwa peran paling penting dan efektif dari orang tua adalah menyediakan lingkungan yang kondusif, sehingga peserta didik dapat belajar dengan tenang dan menyenangkan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membentuk lingkungan belajar yang kondusif di rumah, antara lain sebagai berikut:
a.       Menciptakan budaya belajar di rumah
b.      Memprioritaskan tugas yang terkait secara langsung dengan pembelajaran sekolah. Jika banyak kegiatan yang dilakukan anak, maka utamakan yang terkait dengan tugas pembelajaran.
c.       Mendorong anak untuk aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi sekolah, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler.
d.      Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan gagasan, ide, dan berbagai aktivitas yang menunjang kegiatan belajar.
e.       Menciptakan situasi yang demokratis di rumah, agar terjadi tukar pendapat dan pikiran sebagai sarana belajar dan membelajarkan.
f.       Memahami apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh sekolah dalam mengembangkan potensi anaknya.
g.      Menyediakan sarana belajar yang memadai, sesuai dengan kemampuan orang tua dan kebutuhan sekolah.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua sangat berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan anaknya baik di sekolah di rumah. Keberhasilan anak dalam dunia pendidikan sangat tergantung dari diri orang tua. Orang tua yang memperhatikan pendidikan anaknya, akan menyebabkan anak gagal dalam pendidikannya. Sebaliknya orang tua yang memperhatikan pendidikan anaknya, maka anaknya akan berhasil dalam dunia pendidikan.
Selanjutnya, secara lebih mendetil M. Nipan Halim menambahkan, bahwa tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anakya meliputi:
1.)    Menyelamatkan fitrah, setiap anak yang terlahir ke dunia ini menurut ajaran islam telah membawa fitrah islamiah. Maka setiap orang tua wajib menyelamatkannya dengan usaha-usaha yang nyata. Selain berbekal fitrah islamiyah, manusia ditakdirkan menjadi makhluk pelupa. Maka orang tua selaku pemegang amanah Allah SWT berkewajiban mengingatkannya dan menghindari anaknya terjerumus ke dalam akhlak Yahudi, Nasrani, Majusi atau lebih parah lagi berpaham Aithes.
2.)    Mengembangkan potensi pikir anak. Setiap anak yang terlahir ke dunia ini pasti memiliki potensi pikir tersendiri, potensi pikir inilah yang membedakan antara makhluk Allah SWT yang bernama manusiaperlu dikembangkan melalui pendidikan. Sehingga potensi yang ada tidak statis. Anak semakin hari akan berkembang ke arah kedewasaan berfikir. Ia dapat menelaah, merenungi dan menghayati segala hal yang dihadapi termasuk juga merenungisegala gejala alam ini.
3.)    Mengembangkan potensi karsa anak. Bersamaan dengan potensi pikirdan potensi rasa yang merupakan hidayah Allah SWT, setiap anak memilki pula potensi karsa atau potensi kehendak. Potensi rasa dan potensi pikirkan menyuarakan sebuah kehendak untuk bertindak. Potensi karsa sangat penting artinya bagi kehidupan anak, oleh sebab itu orang tua dituntut untuk memenuhi kehendak anak melalui jalur pendidikan dan tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Dengan berkembangnya potensi karsa secara wajar dan mengandung nilai aqidah islamiah, maka anak akan tumbuh dewasamenjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT.
4.)    Mengembangkan potensi kerja anak. Potensi kerja anak hendaknya tidak dibiarkan statis, tetapi harus diusahakan pengembangannya melalui pendidikan yang diupayakan orang tua pada hakikatnya hanyalah mengembangkan dan memberdayakan potensi kerja yang sudah ada. Orang tua tidak perlu memaksakan pilihan pekerjaan kepada anak. Orang tua cukup mengarahkan bakat kerja mereka. Pemaksaan terhadap anak akan dapat menimbulkan kecelakaan pada masa depan anak.
Mengembangkan potensi sehat pada anak. Kesehatan anak merupakantanggung jawab orang tua untuk mendidik anakya menjadi generasi yang sehat dan mampu melaksanakannya sebagai hamba Allah SWT. Orang tua memberikan pendidikan tentang kesehatan kepada anaknya, seperti kesehatan jasmani berupa olahraga secara teratur dan menjaga kebersihan.[7]


[1]M. Anton Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, (Jakarta Balai Pustaka, 1994), h. 449.

[2]Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 568.

[3]W. J. S Poerwandarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), h. 688.

[4]Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000), h. 71.    

[5]Winarno Surachmad, Dasar-Dasar  Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Depdikbud, 1993), h. 32.

[6]Muhammad Surya, Percikan Perjuangan Guru, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), h.379.
[7]M. Nipan Abdul Halim, Anak Shaleh Dambaan Keluarga, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003), h. 46-47.