Saturday, November 14, 2015

PENGARUH AJARAN ISLAM TERHADAP ETOS KERJA MASYARAKAT




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Islam adalah merupakan agama yang bersifat universal yang diturunkan oleh Allah swt. kepada seluruh ummat manusia dalam rangka untuk mensejahterakan, memberikan kedamaian, menciptakan suasana sejuk dan harmonis bukan hanya di antara sesama ummat manusia tetapi juga bagi seluruh makhluk Allah yang hidup di muka bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam al-Quran : Dan Kami tidak akan mengutus kamu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Implementasi dari kehadiran agama Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam ditunjukkan dengan ajaran-ajaran agama Islam baik yang bersumber dari al-Quran maupun dari hadits Rasulullah saw. yang mengajarkan tentang kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat secara seimbang. Hal ini tercermin dari firman Allah swt. dalam al-Quran yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan kampung akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan  (Q.S. Al-Qashash : 77).
Senada dengan firman Allah swt. tersebut, adalah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah saw. yang artinya : “Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati esok pagi”.
Untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat secara seimbang agama Islam mengajarkan agar ummatnya melakukan kerja keras baik dalam bentuk ibadah maupun dalam bentuk amal shaleh. Ibadah adalah merupakan perintah-perintah yang harus dilakukan oleh ummat Islam yang berkaitan langsung dengan Allah swt. dan telah ditentukan secara terperinci tentang tata cara pelaksanaannya. Sedangkan amal shaleh adalah perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh ummat Islam, dimana perbuatan-perbuatan tersebut berdampak positif bagi diri yang bersangkutan, bagi masyarakat, bagi bangsa dan negara serta bagi agama Islam itu sendiri.
B.       Rumusan Masalah
Adapun permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian etos kerja.
2.      Hal-hal yang menyebabkan timbulnya etos kerja.
3.      Bagaimana pandangan Islam terhadap etos kerja.
4.      Seberapa besar pengaruh ajaran Islam terhadap etos kerja.

C.      Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membahas :
1.      Pengertian etos kerja.
2.      Hal-hal yang menyebabkan timbulnya etos kerja.
3.      Pandangan agama Islam tentang etos kerja.
4.      Pengaruh ajaran Islam terhadap etos kerja.

D.      Metode Penulisan Makalah
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan pendekatan dengan metode deskrptif, yaitu suatu penelitian dengan mengumpulkan data-data dan menganalisa serta menarik kesimpulan dari data-data tersebut dengan mengadakan library research, yaitu dengan cara menelaah sejumlah buku-buku dan web untuk memperoleh data-data, teori-teori, dan konsep-konsep yang berhubungan dengan judul makalah ini. Kiranya dengan menggunakan metode tersebut penulisan makalah ini dapat berguna bagi kita semua.






BAB I
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Etos Kerja
Koentjoroningrat mengemukakan pandangannya bahwa etos merupakan watak khas yang tampak dari luar, terlihat oleh orang lain.[1] Etos berasal dari kata Yunani, ethos, artinya ciri, sifat, atau kebiasaan, adat istiadat, atau juga kecenderungan moral, pandangan hidup yang dimiliki seseorang, suatu kelompok orang atau bangsa.[2]
Adapun kerja, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya: kegiatan melakukan sesuatu.[3] El-Qussy, seorang pakar ilmu jiwa berkebangsaan Mesir, menerangkan bahwa kegiatan atau perbuatan manusia ada dua jenis. Pertama, perbuatan yang berhubungan dengan kegiatan mental, dan kedua tindakan yang dilakukan secara tidak sengaja. Jenis pertama mempunyai ciri kepentingan, yaitu untuk mencapai maksud atau mewujudkan tujuan tertentu. Sedangkan jenis kedua adalah gerakan random (random movement) seperti terlihat pada gerakan bayi kecil yang tampak tidak beraturan, gerakan refleks dan gerakan-gerakan lain yang terjadi tanpa dorongan kehendak atau proses pemikiran.[4] Kerja yang dimaksud di sini tentu saja kerja menurut arti yang pertama, yaitu kerja yang merupakan aktivitas sengaja, bermotif dan bertujuan. Pengertian kerja biasanya terikat dengan penghasilan atau upaya memperoleh hasil, baik bersifat materiil atau nonmateriil.
Etos Kerja, menurut Mochtar Buchori dapat diartikan sebagai sikap dan pandangan terhadap kerja, kebiasaan kerja; ciri-ciri atau sifat-sifat mengenai cara kerja yang dimiliki seseorang, suatu kelompok manusia atau suatu bangsa. Ia juga menjelaskan bahwa etos kerja merupakan bagian dari tata nilai individualnya. Demikian pula etos kerja suatu kelompok masyarakat atau bangsa, ia merupakan bagian darai tata nilai yang ada pada masyarakat atau bangsa itu.[5] Jadi dapat kita tangkap maksud yang berujung pada pemahaman bahwa etos kerja merupakan karakter dan kebiasaan berkenaan dengan kerja yang terpancar dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadapnya. Dan dapat kita mengerti bahwa timbulnya kerja dalam konteks ini adalah karena termotivasi oleh sikap hidup mendasar itu. Etos kerja dapat berada pada individu dan masyarakat.
Di dalam kaitan ini, al-Qur’an banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja tersebut dikaitkan dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu etika kerja positif dan negatif. Di dalam al-Qur’an banyak kita temui ayat tentang kerja seluruhnya berjumlah 602 kata, bentuknya :
1.      Kita temukan 22 kata ‘amilu (bekerja) di antaranya di dalam surat al-Baqarah: 62, an-Nahl: 97, dan al-Mukmin: 40.
2.      Kata ‘amal (perbuatan) kita temui sebanyak 17 kali, di antaranya surat Hud: 46, dan al-Fathir: 10.
3.      Kata wa’amiluu (mereka telah mengerjakan) kita temui sebanyak 73 kali, diantaranya surat al-Ahqaf: 19 dan an-Nur: 55.
4.      Kata Ta’malun dan Ya’malun seperti dalam surat al-Ahqaf: 90, Hud: 92.
5.      Kita temukan sebanyak 330 kali kata a’maaluhum, a’maalun, a’maluka, ‘amaluhu, ‘amalikum, ‘amalahum, ‘aamul dan amullah. Diantaranya dalam surat Hud: 15, al-Kahf: 102, Yunus: 41, Zumar: 65, Fathir: 8, dan at-Tur: 21.
6.      Terdapat 27 kata ya’mal, ‘amiluun, ‘amilahu, ta’mal, a’malu seperti dalam surat al-Zalzalah: 7, Yasin: 35, dan al-Ahzab: 31.
7.      Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang mengandung anjuran dengan istilah seperti shana’a, yasna’un, siru fil ardhi ibtaghu fadhillah, istabiqul khoirot, misalnya ayat-ayat tentang perintah berulang-ulang dan sebagainya.[6]



B.     Ajaran Agama Mempengaruhi Etos Kerja
Salah satu karakteristik yang melekat pada etos kerja manusia, ia merupakan pancaran dari sikap hidup mendasar pemiliknya terhadap kerja. Menurut Sardar, nilai-nilai adalah serupa dengan konsep dan cita-cita yang menggerakkan perilaku individu dan masyarakat.[7] Artinya bahwa manusia adalah makhluk yang diarahkan dan terpengaruh oleh keyakinan yang mengikatnya. Salah atau benar, keyakinan tersebut niscaya mewarnai perilaku orang bersangkutan. Dalam konteks ini selain dorongan kebutuhan, dan aktualisasi diri, nilai-nilai yang dianut, keyakinan atau ajaran agama tentu dapat pula menjadi sesuatu yang berperan dalam proses terbentuknya sikap hidup mendasar ini. Berarti kemunculan etos kerja manusia didorong oleh sikap hidup sebagai tersebut di atas baik disertai kesadaran yang mantap maupun kurang mantap. Sikap hidup yang mendasar itu menjadi sumber motivasi yang membentuk karakter, kebiasaan atau budaya kerja tertentu.
Dikarenakan latar belakang keyakinan dan motivasi berlainan, maka cara terbentuknya etos kerja yang tidak bersangkut paut dengan agama (non agama) dengan sendirinya mengandung perbedaan dengan cara terbentuknya etos kerja yang berbasis ajaran agama, dalam hal ini etos kerja islami. Tentang bagaimana etos kerja dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, kenyataannya bukan sesuatu yang mudah. Sebab, realitas kehidupan manusia bersifat dinamis, majemuk, berubah-ubah, dan antara satu orang dengan lainnya punya latar belakang, kondisi sosial dan lingkungan yang berbeda. Perubahan sosial-ekonomi seseorang dalam hal ini juga dapat mempengaruhi etos kerjanya. Di samping terpengaruh oleh faktor ekstern yang amat beraneka ragam, meliputi faktor fisik, lingkungan, pendidikan dan latihan, ekonomi dan imbalan, ternyata ia juga sangat dipengaruhi oleh faktor intern bersifat psikis yang begitu dinamis dan sebagian di antaranya merupakan dorongan alamiah seperti basic needs dengan berbagai hambatannya. Ringkasnya, etos kerja seseorang tidak terbentuk oleh hanya satu dua variabel. Proses terbentuknya etos kerja (termasuk etos kerja islami), seiring dengan kompleksitas manusia yang bersifat kodrati, melibatkan kondisi, prakondisi dan faktor-faktor yang banyak: fisik biologis, mental-psikis, sosio kultural dan mungkin spiritual transendental. Jadi, etos kerja bersifat kompleks serta dinamis.[8]
Untuk memberikan keterangan lebih jelas bagaimana etos kerja manusia terbentuk, baik yang tanpa keterlibatan agama maupun yang bersifat islami secara sederhana (tanpa menyertakan faktor-faktor yang mempengaruhi) dapat digambarkan sebagai berikut :
Akal dan/atau pandangan hidup/nilai-nilai yang diyakini --> Sikap hidup mendasar terhadap kerja --> Etos Kerja
Gambar 1. Paradigma terbentuknya etos non-agama (tanpa keterlibatan agama). Etos kerja di sini terpancar dari sikap hidup mendasar terhadap kerja. Sikap hidup mendasar itu terbentuk oleh pemahaman akal dan/atau pandangan hidup atau nilai-nilai yang dianut (di luar nilai-nilai agama)[9]

Wahyu akal  --> Sistem keimanan/aqidah Islam berkenaan dengan kerja --> Etos Kerja islami
Gambar 2. Paradigma terbentuknya etos kerja islami. Etos kerja islami terpancar dari sistem keimanan/aqidah Islam berkenaan dengan kerja. Aqidah itu terbentuk oleh ajaran wahyu dan akal yang bekerjasama secara proporsional menurut fungsi masing-masing.[10]

Dua gambar di atas menerangkan bagaimana etos kerja non­ agama (gambar 1) dan etos kerja islami (gambar 2) terbentuk secara garis besar tanpa menyertakan persoalan atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, seperti yang mendorong, menghambat atau menggagalkannya. Ternyata etos kerja itu bukan sesuatu yang didominasi oleh urusan fisik lahiriah. Etos kerja merupakan buah atau pancaran dari dinamika kejiwaan pemiliknya atau sikap batin orang itu. Membayangkan etos kerja tinggi tanpa kondisi psikologis yang mendorongnya mirip dengan membayangkan etos kerja robot atau makhluk tanpa jiwa. Dalam konteks ini, tentu bukan etos kerja demikian yang dikehendaki. Lebih dari itu perlu dijadikan catatan penting bahwa manusia adalah makhluk biologis, sosial, intelektual, spiritual dan pencari Tuhan.[11] Ia berjiwa dinamis.
Oleh karena itu, manusia dalam hidupnya termasuk dalam kehidupan kerjanya sering mengalami kesukaran untuk membebaskan diri dari pengaruh faktor-faktor tertentu, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Yang bersifat internal timbul dari faktor psikis misalnya dari dorongan kebutuhan, frustrasi, suka atau tidak suka, persepsi, emosi, kemalasan, dan sebagainya. Sedangkan yang bersifat eksternal, datangnya dari luar seperti faktor fisik, lingkungan alam, pergaulan, budaya, pendidikan, pengalaman dan latihan, keadaan politik, ekonomi, imbalan kerja, serta janji dan ancaman yang bersumber dari ajaran agama. Kesehatan pun memainkan peranan amat penting.[12]

C.    Indikasi Orang Yang Ber-etos Kerja Tinggi
Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama mengemukakan tiga belas sikap yang menandai etos kerja tinggi pada seseorang : 1. efisien; 2. rajin; 3. teratur; 4. disiplin/tepat waktu; 5. hemat; 6. jujur dan teliti; 7. rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan; 8. bersedia menerima perubahan; 9. gesit dalam memanfaatkan kesempatan; 10. energik; 11. ketulusan dan percaya diri; 12. mampu bekerjasama; dan 13. mempunyai visi yang jauh ke depan.
Menurut Sarsono, Konfusianisme berkenaan dengan orang yang aktif bekerja mempunyai ciri-ciri : (1) etos kerja dan disiplin pribadi; (2) kesadaran terhadap hierarki dan ketaatan; (3) penghargaan pada keahlian; (4) hubungan keluarga yang kuat; (5) hemat dan hidup sederhana; dan (6) kesediaan menyesuaikan diri.[13] Perbandingan orientasi kerja antara orang Cina perantauan dengan orang Amerika sebagai berikut: Cina perantauan memiliki peringkat kerja: (1) kerja keras; (2) belajar; (3) kejujuran; (4) disiplin diri; dan (5) kemandirian. Sedangkan nilai kerja orang Amerika adalah: (1) kemandirian; (2) kerja keras; (3) prestasi; (4) kerjasama; dan (5) kejujuran.[14]
Bangsa Jepang di kawasan Asia khususnya, relatif dikenal mempunyai keunggulan dalam hal etos kerja. Etos kerja mereka ditandai ciri-ciri: 1. suka bekerja keras; 2. terampil dan ahli dibidangnya; 3. disiplin dalam bekerja; 4. tekun, cermat dan teliti; 5. memegang teguh kepercayaan dan jujur; 6. penuh tanggung jawab; 7. mengutamakan kerja kelompok, 8. menghargai dan menghormati senioritas; dan 9. mempunyai semangat patriotisme tinggi. Mokodompit juga mengutip pendapat Paul Charlap. Yakni, agar seseorang sukses dalam bekerja harus didukung oleh etos kerja yang indikasi-indikasinya: 1. bekerja keras, 2. bekerja dengan arif bijaksana, 3. antusias, sangat bergairah dalam bekerja, dan 4. bersedia memberikan pelayanan. Majalah For­tune di Amerika Serikat menyebutkan enam persyaratan untuk memperoleh kesuksesan kerja sebagai eksekutif:
  1. Mempunyai prakarsa, bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan tugas kepemimpinan yang dipercayakan;
  2. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan kerja di bidangnya secara memadai;
  3. Dapat dipercaya dan berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh;
  4. Mempunyai kecakapan dalam berhubungan dengan orang lain;
  5. Tidak mudah menyerah; dan
  6. Mempunyai kualitas pribadi dan kebiasaan kerja yang baik.[15]
Idealisasi kualitas manusia Indonesia sesuai dengan dinamika budaya bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  terwujud dalam sikap perilaku, ungkapan bahasa dalam komunikasi sosial, berbudi pekerti luhur, jujur, adil, dapat dipercaya; 2. berkepribadian, tangguh, dan mandiri; 3. bekerja keras; 4. berdisiplin; 5. bertanggung jawab; 6. cerdas, arif­ bijaksana; 7. terampil dalam bekerja; 8. sehat jasmani dan rohani; dan 9. mempunyai kesadaran patriotisme tinggi.[16]
Dari pendapat-pendapat tersebut di atas, indikasi-indikasi etos kerja secara universal kiranya cukup menggambarkan etos kerja yang baik pada manusia, bersumber dari kualitas diri, diwujudkan berdasarkan tata nilai sebagai etos kerja yang diaktualisasikan dalam aktivitas kerja. Dan sehat jasmani serta mental juga menjadi hal penting pada orang yang bersangkutan yang memiliki modal kepribadian yang mendukung etos kerja tinggi.
                       
D.    Etos Kerja Dalam Perspektif Islam
Ahmad Janan Asifudin menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang diarahkan dan terpengaruh oleh keyakinan yang mengikatnya. Salah atau benar keyakinan tersebut niscaya mewarnai perilaku orang yang bersangkutan. Dalam konteks ini selain dorongan kebutuhan dan aktualisasi diri, nilai-nilai yang dianut, keyakinan atau ajaran agama tentu dapat pula menjadi sesuatu yang berperan dalam proses terbentuknya sikap hidup yang mendasar. Berarti kemunculan etos kerja manusia didorong oleh sikap hidup sebagai tersebut diatas baik disertai kesadaran yang mantap maupun kurang mantap. Sikap hidup yang mendasar tersebut menjadi sumber komitmen yang membentuk karakter, kebiasaan atau budaya kerja tertentu.[17]
Dikarenakan latar belakang keyakinan yang berbeda maka cara terbentuknya etos kerja yang tidak bersangkut paut dengan agama (non agama) dengan sendirinya mengandung perbedaan dengan cara terbentuknya etos kerja yang berbasis agama, dalam hal ini adalah etos kerja Islami. Tentang bagaimana etos kerja dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari kenyataannya bukan sesuatu yang mudah. Sebab realitas kehidupan manusia bersifat dinamis, majemuk, berubah-ubah dan antara satu orang degan lainnya mempunyai latar belakang dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda.
Disamping terpengaruh oleh factor ekstern yang amat beraneka ragam meliputi faktor fisik, lingkangan, ekonomi dan imbalan, ternyata jug adinegaruhi oleh faktor intern bersifat psikis yang begitu dinamis, dan sebagian diantaranya merupaan dorongan alamiah seperti basic needs dengan berbagai hambatanya. Ringkasnya etos kerja seseorang tidak terbentuk oleh satu atau dua varibel. Proses terbentuknya etos kerja (termasuk etos kerja islami), seiring dengan kompleksistas menusia yang besifat kodrati, melibatkan kondisi, prakondisi, dan faktor-faktor yang banyak: fisik bologis, mental psikis, sosio kultural, dan mungkin spiritual trasendental. Jadi etos kerja bersifat kompleks serta dinamis.
Untuk memberikan gambaran mengenai persamaan dan perbedaan etos kerja non agama dan etos kerja islami Ahmad Janan Asifudin mengungkapkan bahwa persamaan etos kerja non agama dengan etos kerja islami antara lain: (1) etos kerja non agama dan etos kerja islami sama-sama berupa karakter dan kebiasaan berkenaan dengan kerja yang terpancar dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadapnya. (2) keduanya timbul karena motivasi, (3) motovasi keduanya samasama didorong dan dipengaruhi oleh sikap hidup yang mendasar terhadap kerja, (4) keduanya sama-sama dipengaruhi secara dinamis dan manusiawi oleh berbagai faktor intern, dan ekstern yang bersifat kompleks.[18]
Sedangkan perbedaan antara etika kerja non agama dengan etika kerja agama (Islami) menurut Ahmad Janan Asifudin adalah sebagai berikut:
Etika kerja non agama:
a)    Sikap hidup mendasar terhadap kerja disini timbul dari hasil kerja akal dan/atau nila-nilai yang dianut ( tiak betolak dari iman keagamaan tertentu).
b)    Tidak ada iman.
c)    Motivasi timbul dari sikap hidup mendasar terhadap kerja. Disini motovasi tidak tersangkut paut dengan iman, agama, atau niat ibadah bersumber dari akal dan/atau pandangan hidup/nilai-nilai yang dianut.
d)   Etika kerja berdasarkan akal dan/atau pandangan hidup/nilai-nilai yang dianut.

Etika kerja Islami:
a)      Sikap hidup mendasar pada kerja disini identik dengan system keimanan/aqidah Islam berkenaan dengan kerja atas dasar pemahaman bersumber dari wahyu dan akal yang saling bekerja sama secara proporsional. Akal lebih banyak berfungsi sebagai alat memahami wahyu (meski dimungkinkan akal memperoleh pemahaman dari sumber lain, namun menyatu dengan system keimana Islam).
b)      Iman eksis dan terbentuk sebagai buah pemahaman terhadap wahyu. Dalam hal ini akal selain berfungsi sebagai alat, juga berpeluang menjadi sumber. Disamping menjadi dasar acuan etika kerja islami, iman islami, (atas dasar pemahaman) berkenaan dengan kerja inilah yang menimbulkan sikap hidup mendasar (aqidah) terhadap kerja, sekaligus motivasi kerja islami.
c)      Motovasi disini timbul dan bertolak dari sistem keimanan/aqidah Islam berkenaan kerja bersumber dari ajaran wahyu dan akal yang saling bekerjasama. Maka motivasi berangkat dari niat ibadah kepada Allah dan iman terhadap adanya kehidupan ukhrawi yang jauh lebih bermakna.
d)     Etika kerja berdasarkan keimanan terhadap ajaran wahyu berkenaan dengan etika kerja dan hasil pemahaman akal yang membentuk sistem keimanan/aqidah Islam sehubungan dengan kerja (aqidah kerja).
Dengan melihat persamaan dan perbedaan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa etos kerja seseorang terbentuk oleh adanya motivasi yang terpancar dari sikap hidupnya yang mendasar terhadap kerja. Sikap itu bersumber dari akal dan atau pandangan hidup/nilai-nilai yang dianut tanpa harus terkait dengan iman atau ajaran agama. Khusus bagi orang yang beretos kerja Islami, etos kerjanya terpancar dari sistem keimanan/aqidah Islam berkenaan dengan kerja yang bertolak dari ajaran wahyu bekerjasama dengan akal. Sistem keimanan ini identik dengan sikap hidup mendasar (aqidah kerja). Ia menjadi sumber motivasi dan sumber nilai bagi terbentuknya etos kerja islami. Etos kerja ini selalau mendapat pengaruh dari berbagai faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal sesuai dengan kodrat manusia selaku makhluk psikofisik yang tidak kebal dari berbagai rangsang, baik langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian terbentuknya etos kerja islami melibatkan banyak faktor dan tidak hanya terbentuk secara murni oleh satu atau dua faktor tertentu.
Menurut Said Mahmud pada hakeketnya etika kerja Islami merupakan pancaran dari nilai yang ikut membentuk corak khusus karakteristik etos kerja islami. Sebagai bagian dari akhlak tentunnya harus dikembangkan pada dua sayap, yakni sayap hubungan manusia dengan Allah yang maha pencipta (mu’amalah ma’al khaliq) dan sayap hubungan antara manusia dengan makhluk (mu’amalah ma’al khalq). Pada sayap pertama dikembangkan etika tauhid dan penghormatan yang banyak bagi Allah dalam kerja. Jadi segala bentuk perilaku syirk, perbuatan dan perkataan yang secara langsung atau tidak langsung merendahkan atau menghujat Allah dapat dikategorikan tidak sejalan dengan etika kerja Islami. Di sini hendaknya ditekankan pada sikap ikhlas dalam menghadapi takdir. Sedangkan pada sayap yang kedua mesti dikembangkan sikap-sikap proporsional dan perilaku yang bertolak dari semangat ketaatan pada norma-norma Ilahi berkaitan dengan kerja.
Said Mahmud menyatakan bahwa ada dua syarat mutlak suatu pekerjaan dapat digolongkan sebagai amal soleh yaitu; (1) husnul fa’illiyyah, yakni lahir dari keikhlasan niat pelaku, (2) husnul fi’illiyyah, maksudnya pekerjaan itu memiliki nilai-nilai kebaikan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh syara, sunnah nabi, atau akal sehat. Keduanya disamping menjadi syarat amal saleh sebagimana tersebut diatas, ternyata juga menjadi dasar dan jiwa etika kerja islami yang bersifat khas. Dengan konteks demikian, minimal terdapat tiga prinsip etis; (1) ikhlas menerima takdir, (2) menegakkan proporsionalitas, (3) sadar menaati norma.[19]
Etika kerja Islam diungkapkan Iwan Triwuyono bahwa tujuan utama etika menurut Islam adalah “menyebarkan rahmat pada semua makhluk”. Tujuan itu secara normatif berasal dari keyakinan Islam dan misi sejati hidup manusia. Tujuan itu pada hakekatnya bersifat trasendental karena tujuan itu tidak terbatas pada kehidupan dunia individu, tetapi juga pada kehidupan setelah dunia ini. Walaupun tujuan itu agaknya terlalu abstrak, tujuan itu dapat diterjemahkan dalam tujuan-tujuan yang lebih praktis (operatif), sejauh penerjemahan itu masih terus terinspirasi dari dan meliputi nilai-nilai tujuan utama. Dalam pencapaian tujuan tersebut diperlukan peraturan etik untuk memastikan bahwa upaya yang merealisasikan baik tujuan umat maupun tujuan operatif selalu dijalan yang benar.[20]
Etika kerja Islam ditegaskan Iwan Triwuyono, terekspresikan dalam bentuk syari’ah, yang terdiri dari Al Qur’an , sunnah (identik dengan hadist), ijma dan Qiyas. Etika merupakan sistem hukum dan moralitas yang komprehensif dan meliputi seluruh wilayah kehidupan manusia. Didasarkan pada sifat keadilan, syari’ah bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber serangkaian kriteria untuk membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang buruk (batil). Dengan menggunakan syari’ah, bukan hanya membawa individu dekat dengan Tuhan, tetapi juga memfasilitasi terbentuknya masyarakat yang adil yang didalamnya individu mampu merealisasikan potensinya dan kesejahteraan diperuntukkan bagi semua.[21]
Qur’an dan sunnah merupakan pegangan dan landasan utama dalam etika Islam, sebab pandangan umum dalam masyarakat Islam tentang berbagai perilaku yang benar dalam melaksanakan kewajiban- kewajiban agama, pemahaman yang benar tentang doktrin-doktrin keagamaan tidak bisa dipisahkan dari berbagai unsur pokok dalam kehidupan moral. Struktur yang komprehensif ini, bagaimanapun berbagai bentuk tingkah laku dalam Islam, secara khusus dibentuk dalam term adab, dimana diskursus adab dalam konteks keagamaan yang paling awal secara khusus memiliki konotasi etik (ethical connotation).
Ahmad Janan Asifudin, Etos kerja dalam perspektif Islam diartikan sebagai pancaran dari akidah yang bersumber dari pada sistem keimanan Islam yakni, sebagai sikap hidup yang mendasar berkenaan dengan kerja, sehingga dapat dibangun paradigma etos kerja yang islami. Sedangkan karakteristikkarakteristik etos kerja islami digali dan dirumuskan berdasarkan konsep; (1) Kerja merupakan penjabaran aqidah, (2) Kerja dilandasi ilmu, (3) Kerja dengan meneladani sifat-sifat Ilahi serta mengikuti petunjuk-petunjuk Nya. Terkait dengan aqidah dan ajaran Islam sebagai sumber motivasi kerja islami, secara konseptual bahwasanya Islam berdasarkan ajaran wahyu bekerja sama dengan akal adalah agama amal atau agama kerja.[22] Bahwasanya untuk mendekatkan diri serta memperoleh ridha Allah, seorang hamba harus melakukan amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas hanya karena Dia., yakni dengan memurnikan tauhid,:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ….
Artinya: “Siapa pun yang mengharapkan pertemuan dengan-Nya hendaknya beramal saleh dan tidak menyekutukan dalam beribadat kepada Tuhannya dengan siapa pun”. (QS al-kahfi:110).
Afzalurrahman (1995) mengungkapkan bahwa banyak ayat dalam Al Qur’an yang menekankan pentingnya kerja. Seseorang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali apa yang telah diusahakannya. Dengan jelas dinyatakan dalam ayat ini bahwa satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu dari alam adalah dengan bekerja keras. Keberhasilan dan kemajuan manusia dimuka bumi ini tergantung pada usahanya. Semakin keras ia bekerja, ia akan semakin kaya.[23] Prinsip ini lebih lanjut dijelaskan dalam ayat-ayat berikut:
…. لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ….
Artinya: “… Bagi laki-laki dapat bagian dari usahanya, dan bagi perempuan ada pula bagian dari usahanya …”. (QS. An Nisaa’:32).
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Yang demikian karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah kenikmatan pada suatu kaum, samapai mereka sendiri yang mengubah-nya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Anfaal:53).
Ahmad Janan Asifudin dengan bekerja orang membangun kepribadian dalam rangka memperoleh peran kemanusiaanya. Bekerja menjadi proses pembebasan serta peneguhan humanitas orang yang bersangkutan. Bekerja dapat dijadikan media untuk mengembangkan pribadi dan kreatifitasnya secara optimal dengan cara membuka usaha, menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan sehubungan dengan kedalaman penguasaan dirinya yang bermuatan cahaya Ilahi. Menghadapi masalah lapangan kerja, Islam lebih cenderung pada sikap optimis sesuai dengan firman Allah “katakanlah masing-masing orang bekerja menurut bakatnya”.[24]

E.     Etos Kerja Rasulullah Sebagai Uswah
Rasulullah saw. selalu menekankan untuk bekerja dan tidak pernah menyukai orang yang tergantung pada sedekah.
“Diriwayatkan bahwa seorang penganggur dari kaum Anshar pernah meminta sedekah pada Rasulullah. Beliau bertanya apakah ia memiliki sesuatu. Ia menjawab bahwa ia memiliki selimut untuk menutupi tubuhnya dan cangkir untuk minum. Rasulullah meminta untuk membawa benda-benda tersebut. Ketika ia membawanya, Rasulullah mengambilnya dengan tangan beliau lalu menawarkannya kepada orang-orang untuk dilelang. Salah satu dari yang hadir lalu menawarnya satu dirham. Rasulullah memintanya untuk menaikkan tawaran. Yang lain menawarnya dengan dua dirham dan membelinya. Rasulullah memberikan yang dua dirham itu pada orang tersebut dan menyarankannya untuk membeli sebuah kapak yang harganya satu dirham. Ketika telah membelinya, Rasulullah memperbaiki tangkai kapak tersebut dengan tangan beliau sendiri, ia memberikannya pada orang tersebut sambil berkata “ pergilah ke hutan dan tebang lah pohon dan janganlah kau datang menemui ku sebelum lima belas hari”. Setelah dua minggu berlalu, ketika ia kembali, Rasulullah menanyakan bagaimana keadaannya. Ia menjawab bahwa ia memperoleh dua belas dirham selama itu dan mampu membeli beberapa helai kain dan padi. Rasulullah berkata “ini lebih baik dari pada mengemis dan membuat malu diri sendiri di hari pembalasan nanti”. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).
Hadist ini secara jelas telah memperlihatkan bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya bersepakat atas penting dan besarnya manfaat tentang kerja dan betapa mereka lebih menyukai untuk menanggung hidupnya dengan kerja keras. Unsur utama etika kerja Islami ialah petunjuk syari’ah bahwa kerja apapun hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya guna menunjang kehidupan pribadi, keluarga, dan orang yang menunggu uluran tangan. Nilai kerja demikian menurut pandangan Islam adalah sebanding dengan nilai amaliyah wajib. Jadi, kerja positif bercorak keduniaan juga merupakan tugas keagamaan. Islam dapat menerima baik tindakan individu yang mempunyai profesi atau bidang kerja tertentu kemudian dia memprioritaskan profesi dan bidang kerjanya daripada menunaikan amaliyahamaliyah sunnah. Dengan catatan pekerjaan yang dilakukan tetap dijiwai oleh motivasi ibadah dan kegiatannya tidak menjadikan dia menelantarkan amal-amal ibadah yang hukumnya wajib.[25]
Rasulullah saw. menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Rasul bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridaan Allah swt.. Suatu hari Rasulullah saw. berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Rasul kepada Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.[26]
Bekerja adalah manifestasi amal saleh. Bila kerja itu amal saleh, maka kerja adalah ibadah. Dan bila kerja itu ibadah, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kerja. Bukankah Allah swt. menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya?
Kisah di awal menggambarkan betapa besarnya penghargaan Rasulullah saw. terhadap kerja. Kerja apapun itu selama tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama. Demikian besarnya penghargaan beliau, sampai-sampai dalam kisah pertama, manusia teragung ini “rela” mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari yang melepuh lagi gosong. Rasulullah saw., dalam dua kisah tersebut, memberikan motivasi pada umatnya bahwa bekerja adalah perbuatan mulia dan termasuk bagian dari jihad.[27]
Rasulullah saw. adalah sosok yang selalu berbuat sebelum beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Hal ini sesuai dengan tugas beliau sebagai ushwatun hasanah; teladan yang baik bagi seluruh manusia. Maka saat kita berbicara tentang etos kerja islami, maka beliaulah orang yang paling pantas menjadi rujukan. Dan berbicara tentang etos kerja Rasulullah saw. sama artinya dengan berbicara bagaimana beliau menjalankan peran-peran dalam hidupnya.
Ada lima peran penting yang diemban Rasulullah saw., yaitu :[28]
Pertama, Sebagai Rasul. Peran ini beliau jalani selama 23 tahun. Dalam kurun waktu tersebut beliau harus berdakwah menyebarkan Islam; menerima, menghapal, menyampaikan, dan menjelaskan tak kurang dari 6666 ayat al-Quran; menjadi guru (pembimbing) bagi para sahabat; dan menjadi hakim yang memutuskan berbagai pelik permasalahan umat-dari mulai pembunuhan sampai perceraian.
Kedua, Sebagai kepala negara dan pemimpin sebuah masyarakat heterogen. Tatkala memegang posisi ini Rasulullah saw. harus menerima kunjungan diplomatik “negara-negara sahabat”. Rasul pun harus menata dan menciptakan sistem hukum yang mampu menyatukan kaum muslimin, nasrani, dan yahudi, mengatur perekonomian, dan setumpuk masalah lainnya.
Ketiga, Sebagai panglima perang. Selama hidup tak kurang dari 28 kali Rasul memimpin pertempuran melawan kafir Quraisy. Sebagai panglima perang beliau harus mengorganisasi lebih dari 53 pasukan kaveleri bersenjata. Harus memikirkan strategi perang, persedian logistik, keamanan, transportasi, kesehatan, dan lainnya.
Keempat, sebagai kepala rumahtangga. Dalam posisi ini Rasulullah harus mendidik, membahagiakan, dan memenuhi tanggung jawab-lahir batin-terhadap para istri beliau, tujuh anak, dan beberapa orang cucu. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Di tengah kesibukannya Rasul pun masih sempat bercanda dan menjahit sendiri bajunya.
Kelima, Sebagai seorang pebisnis. Sejak usia 12 tahun pamannya Abu Thalib sudah mengajaknya melakukan perjalanan bisnis ke Syam, negeri yang saat ini meliputi Syria, Jordan, dan Lebanon. Dari usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan bisnis Rasul karena beliau harus mandiri dan bersaing dengan pemain pemain senior dalam perdagangan regional. Usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan entrepreneurship Rasulullah saw. terbukti dengan “terpikatnya” konglomerat Mekah, Khadijah binti Khuwailid, yang kemudian melamarnya menjadi suami. Afzalurrahman dalam bukunya, Muhammad Sebagai Seorang Pedagang (2000: 5-12), mencatat bahwa Rasul pun sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri seperti Yaman, Oman, dan Bahrain. Dan beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Adalah kenyataan bila Rasulullah saw. mampu menjalankan kelima perannya tersebut dengan sempurna, bahkan menjadi yang terbaik. Tak heran bila para ilmuwan, baik itu yang muslim maupun non-muslim, menempatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh.[29]







BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan materi di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Etos kerja adalah sikap dan pandangan terhadap kerja, kebiasaan kerja; ciri-ciri atau sifat-sifat mengenai cara kerja yang dimiliki seseorang, suatu kelompok manusia atau suatu bangsa.
2.      Etos kerja merupakan buah atau pancaran dari dinamika kejiwaan pemiliknya atau sikap batin orang itu.
3.      Indikasi dfari orang yang ber-tos kerja tinggi ialah: 1. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian, tangguh, dan mandiri, bekerja keras, berdisiplin, bertanggung jawab, cerdas, arif­ bijaksana, terampil dalam bekerja, sehat jasmani dan rohani, dan mempunyai kesadaran patriotisme tinggi.
4.      Etos kerja ditinjau dari agama Islam ialah (1) Kerja merupakan penjabaran aqidah, (2) Kerja dilandasi ilmu, (3) Kerja dengan meneladani sifat-sifat Ilahi serta mengikuti petunjuk-petunjuk Nya.
5.      Contoh yang sempurna yang patut kita teladani dalam etos kerja adalah Rasulullah saw., sebagaimana beliau selain sebagai rasul, juga sebagai kepala negara, kepala keluarga, panglima perang, dan pebisnis, yang dapat dijalankan secara harmonis.

B.     Penutup
Demikianlah gambaran umum tentang ruang lingkup pembahasan Pengaruh Ajaran Islam Terhadap Etos Kerja Masyarakat sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, semoga setelah membaca dan menelaahnya bias bermanfaat bagi kita. Kalau ada salahnya, itu datangnya dari kami dan benarnya datang dari Allah swt. Lebih dan kurang mohon dimaafkan.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Aziz, El-Qussy,Abdul, 1974, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Terj. Dr. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang).
2.      Asifudin, Ahmad, Janan,  Dr. M.A. 2004, Etos Kerja Islami. (Surakarta: Muhammadiyah University Press, Cetakan Pertama).
3.      Shihab, Quraish, 1998, Wawasan al-Qur’an, (Jakarta : Mizan)
4.      Buchori, Mochtar, 1994, Penelitian Pendidikan dan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta. IKIP Muhammadiyah Press).
5.      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka).
6.      Sarsono, 1998 , Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina”, Disertasi Psikologi UGM, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM).
7.      Koentjoroningrat, 1980, Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi, (Jakarta: LIPI).
Sardar, Ziauddin, 1993, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Penerbit Mizan).


[1] Koentjoroningrat, Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi, (Jakarta: LIPI, 1980), hal. 231.
[2] Mochtar Buchori, Penelitian Pendidikan dan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta. IKIP Muhammadiyah Press, 1994), hal. 6.
[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), Cet. ke 3, hal. 488.
[4] Abdul Aziz El-Qussy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Terj. Dr. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hal. 100-101.
[5] Mochtar Buchori, Penelitian Pendidikan, , hal. 6-7.
[6] Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Jakarta : Mizan, 1998), hal. 107.
[7] Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Penerbit Mizan, 1993), Cet. ke-4, hal. 45.
[8] Mitsuo Nakamura, Bulan Sabit Muncul dari Batik Pohon Beringin, Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kota Gede, Terj. Drs. Yusron Asyrafi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1983), hal. 12-14.
[9] Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A. Etos Kerja Islami. (Surakarta: Muhammadiyah University Press, Cetakan Pertama, April; 2004), hal. 31
[10] Ibid, hal. 32
[11] Lihat, Prajudi Atmosudirdjo, Pengambilan Keputusan, (Jakarta: Ghalia Indah, 1982), Cet. ke-6, hal. 32.
[12] Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A., Opcit., hal. 33.
[13] Sarsono, “Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina”, Disertasi Psikologi UGM, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998), hal. 66.
[14] Ibid., hal.69
[15] Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A., Opcit., hal. 37
[16] Ibid., hal. 12-13.
[17] Ibid., hal. 26.
[18] Ibid., hal. 39.
[19] Said Mahmud, “Konsep Amal Saleh dalam al-quran”, Disertasi (1995), dalam Alwiyah Jamil, ”Pengaruh EtikaKerja Islam Terhadap Sikap-sikap Pada Perubahan Organisasi: Komitmen Organisasi Sebagai mediator”, Tesis (Program Study Magister Akuntansi, Universitas Diponegoro, 2007, Semarang). hal. 67-68.
[20] Iwan Triyuwono, “Organisasi dan Akuntansi Syari’ah”. (cetakan pertama LKis, 2000, Yogyakarta). hal. 32.
[21] Iwan Triyuwono, Ibid., hal. 35.
[22] Ahmad Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A., Opcit., hal. 42.
[23] Astria Fitria, “Pengaruh Etika Kerja Islam Terhadap Sikap Akuntan dalam Perubahan Organisasi dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Intervening”. (Jurnal Manajemen Akuntansi dan Sistem Informasi, 2003).
[24] Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A., Opcit., hal. 51.
[25] Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A., Opcit., hal. 36.
[26] Said Ramadhan Al-Buthy, “Sirroh Nabawiyah”, dalam Jazuli Suryadhi, “Etos Kerja Dalam Persfektif Islam”, Artikel (Ketua Harian DKM Masjid Manarul ‘Amal UMB), http://www.mercubuana.ac.id
[27] Jazuli Suryadhi, Ibid.
[28] Jazuli Suryadhi, Ibid.
[29] Jazuli Suryadhi, Ibid.