Tuesday, November 24, 2015

KRITIK DIBOLEHKAN ISLAM, METODENYA??


Sebenarnya, Islam sendiri mendorong kepada kita untuk menghindari sikap irrasional (tidak masuk akal), seruan Islam adalah rasional dan kritis.[1] Manusia sekalian dianjurkan untuk memberdayakan potensi akal guna memikirkan secara serius dan memberikan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan keputusan akal itu terhadap sesuatu, terutama persoalan-persoalan yang ada dalam wilayah yang terpikirkan. Pemberdayaan potensi akal secara maksimal, bagaimanapun secara otomatis dan spontan akan menumbuhkan sikap kritis, sebab akal tidak bisa dipaksa untuk menerima sesuatu yang bertentangan dengannya sendiri. Paling mungkin akal hanya dipaksa untuk menerima sesuatu yang belum dapat dijangkaunya. Akal akan senantiasa mengoreksi terhadap sesuatu yang dipandang menyimpang dan salah.
Seruan normatif untuk bersikap kritis dan Islam ini semestinya dijadikan pijakan inspiratif dalam membangun setiap disiplin ilmu, baik hukum Islam, ekonomi Islam, sosiologi Islam, politik Islam, maupun pendidikan Islam. Pendidikan Islam sebagai bangunan ilmu dapat terwujud atas sumbangan metode kritik, di samping metode-metode lainnya seperti dipaparkan di muka. Metode kritik bisa memperkokoh sendi-sendi bangunan ilmu pendidikan Islam. Bahkan di samping memberikan kontribusi terhadap bangunan pendidikan Islam berupa teori-teori ilmiah, metode kritik juga bisa difungsikan untuk melakukan evaluasi kritis terhadap bangunan ilmu pendidikan Islam tersebut secara kontinyu agar menjadi bangunan ilmu yang valid dan lolos dari pengujian ilmiah.[2]
Selama ini bangunan ilmu pendidikan Islam itu masih terlihat rapuh, karena didasarkan pada tiruan-tiruan pendidikan Barat sehingga menjadi sasaran yang strategis bagi metode kritik. Metode ini bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan dari bangunan ilmu pendidikan Islam secara mendetail, kemudian memberikan dorongan untuk melakukan pembongkaran terhadap bangunan ilmu pendidikan Islam itu, jika benar-benar rapuh secara ilmiah dan menurut ukuran wahyu. Dua hal ini menjadi kriteria valid tidaknya ilmu-ilmu keislaman termasuk ilmu pendidikan Islam. Sebagai disiplin ilmu memang harus diukur dan diuji secara ilmiah, sedangkan karena disiplin ini bercirikan atau mengandung nilai-nilai Islam, maka ia harus diukur dan diuji melalui wahyu. Bisa jadi bangunan ilmu pendidikan Islam itu lolos dari ujian ilmiah, tetapi gagal dalam ujian wahyu, kendatipun antara ilmu dan wahyu tidak bertentangan.
“Metode kritik ini bisa diandalkan untuk meraih pengetahuan dalam jumlah yang besar asalkan diterapkan secara matang, terkonsep dan professional”[3]. Pengkritik harus bersikap ekstra hati-hati dan telah memantapkan persiapan-persiapan secara konseptual ketika akan melancarkan kritikan terhadap teori-teori yang dipandang lemah dan tidak layak dipertahankan. Persiapan-persiapan itu tidak hanya sekadar berupa kemampuan untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan suatu teori, tetapi juga kemampuan untuk menguasai alur pemikiran yang menyebabkan munculnya teori yang dikritik itu dan kemampuan untuk menawarkan teori alternatif. Kritik yang tidak memberikan pemecahan sebenarnya tidak memiliki arti sama sekali, dan kritik semacam ini sebaiknya memang tidak perlu diperhatikan, sebab formalitasnya kritik, terapi substansinya bukan kritik, melainkan pelampiasan emosi semata.
Dalam kapasitasnya sebagai salah satu metode epistemologi pendidikan Islam, kritik ini bisa ditujukan kepada teori pendidikan yang berasal dari mana pun; teori dan Barat, dan luar Islam. Lebih lanjut kritik juga ditujukan pada sesuatu praktek pendidikan, juga dari mana pun asal-usulnya. Di samping itu, wilayah jelajah kritik bisa diperluas lagi, seperti pemahaman pemikir terhadap mash-nash wahyu yang berkaitan langsung dengan pendidikan, sejarah pendidikan, teks-teks pendidikan, perencanaan pendidikan, kecenderungan pendidikan, evaluasi pendidikan dan sebagainya.



[1] Hamid Basyaib, Menuju Pendekatan Baru Islam, (Jakarta: Gramedia, 2003), hal. 47.

[2] Ibid., hal. 49.

[3] A. Baiquni, Islam dan Pengetahuan Moderen, (Bandung: Pustaka Salaman, 1983), hal. 2.