Tuesday, November 24, 2015

METODE KRITIK DALAM EPISTIMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM




A.    Pengertian Metode Kritik
Pengertian metode kritik menurut Mujammil Qomar adalah “usaha menggali pengetahuan tentang pendidikan Islam dengan cara mengoreksi kelemahan-kejemahan suatu konsep atau aplikasi pendidikan, kemudian menawarkan solusi sebagai alternative pemecahannya”[1]. Metode kritik merupakan suatu metode dalam memperbaiki kelemahan suatu konsep dan menyelesaikannya hingga sempurna. Dengan demikian, dasar atau motif timbulnya kritik bukan karena adanya kebencian, melainkan karena adanya kejanggalan-kejanggalan atau kelemahan-kelemahan yang harus diluruskan.
B.     Landasan Metode Kritik
Metode kritik sebenarnya sudah ada sejak asal mula manusia diciptakan oleh Allah SWT. Hal ini terlihat jelas dalam Al-Qur’an ketika Malaikat dan Iblis mengkritik Tuhannya. Firman Allah SWT dalam Surat Albaqarah ayat 30:
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk menggunakan kritik terhadap suatu konsep atau ide-ide untuk menemukan kebenaran dan mengkritik dengan tidak menggunakan amarah semata, tetapi hanya untuk menemukan dan mencari kebenaran. Dalam ayat di atas jelas bahwa konsep Allah SWT lebih kuat daripada pertanyaan malaikat, dan malaikat membenarkan apa yang dikritiknya. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran adalah hal utama dalam proses kritik.
Dalam ayat lain juga Allah memerintahkan kepada manusia agar menggunakan metode kritik tanpa hawa nafsu, hal tersebut dapat kita temukan dalam Al-Qur’an Surat Syaad ayat 6:
t,n=sÜR$#ur _|yJø9$# öNåk÷]ÏB Èbr& (#qà±øB$# (#rçŽÉ9ô¹$#ur #n?tã ö/ä3ÏGygÏ9#uä ( ¨bÎ) #x»yd ÖäóÓy´s9 ߊ#tãƒ
Artinya: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa dalam memutuskan suatu perkara di dunia ini hendaknya menggunakan keputusan bersama dan keputusan yang adil dengan tanpa menggunakan hawa nafsu semata. Dan hal ini akan dapat mendapat rahmat dari pada Allah SWT.
Dalam ayat lain yang menjadi landasan metode kritik adalah ketika Iblis mengkritik Allah ketika Allah menyuruh Iblis untuk bersujud kepada nenek moyangnya manusia yaitu Nabi Adam. Hal tersebut terlihat jelas dalam Surat Al-Israa ayat 60:
øŒÎ)ur $uZù=è% Ïpx6Í´¯»n=yJù=Ï9 (#rßßÚó$# tPyŠKy (#ÿrßyf|¡sù HwÎ) }§ŠÎ=ö/Î) tA$s% ßßÚór&uä ô`yJÏ9 |Mø)n=yz $YZŠÏÛ
Artinya: Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"

Dalam ayat ini terlihat jelas bahwa Iblis tidak mau menerima konsep yang lebih rendah dari dirinya. Iblis mengagungkan dirinya sebagai makhluk yang lebih tinggi daripada manusia yang diciptakan dengan tanah. Sehingga Iblis tidak menerima konsep Allah yang mengatakan bahwa Adam dan keturunannya adalah makhluk yang paling mulia bila beriman dan paling buruk bila tidak beriman kepada Allah.
Dan ayat-ayat di atas menjadi bukti bahwa metode kritik merupakan metode yang diajarkan dalam al-Qur’an dan diajarkan pada ketika umat manusia diciptakan. Dan landasan ini menurut penulis, merupakan landasan yang kuat dalam mendasari metode kritik. Bila kita telusuri lebih dalam, maka kita akan menemukan teori-teori al-Qur’an yang mengajarkan metode kritik kepada kita.



[1] Mujammil qomar, Epistimologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 350.