Sunday, November 15, 2015

Menganalisa dan Merawat Luka Perenium pada Pasien Melahirkan

Pengertian dan Devinisi Luka Perenium 

Robekan perenium terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Namun hal ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan jalan menjaga sampai dasar panggul di lalui oleh kepala janin dengan cepat. (sumarah dkk, 2009). Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum vagina, servik dan robekan uterus.
Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan persalinan. Jika perlukaan hanya mengenai bagian luar (superfisial) saja atau jika perlukaan tersebut tidak mengeluarkan darah, biasanya tidak perlu dijahit. Hanya perlukaan yang lebih dalam dimana jaringannya tidak bisa didekatkan dengan baik atau perlukaan yang aktif mengeluarkan darah memerlukan suatu penjahitan. (Midwifery Manual of Maternal Care dan Varney’s Midwifery, edisi ke-3 , 2009).

Laserasi spontan pada vagina atau pada perineum dapat terjadi saat kepala dan bahu dilahirkan.Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. (APN Revisi 2007) 

Bentuk-Bentuk Luka Perenium

Bentuk luka perenium setelah melahirkan ada 2 macam, yaitu :

Ruptur

Ruptur adalah luka perenium yang di akibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk ruptur biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan panjahitan. (Hamilton, 2002)

Episiotomi

Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perenium untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Hamilton, 2002).

Laserasi diklasifikasikan berdasarkan  luasnya robekan
Derajat I Mukosa vagina, komisura posterior dan kulit                      Perineum
Derajat II Mukosa vagina, mukosa posterior, kulit perineum  dan  otot perineum
Derajat III Mukosa vagina, komisura posterior, kulit  perineum, otot   perineum dan otot sfingter ani
Derajat  IV Mukosa vagina, komisura posterior, kulit   perineum, otot perineum, otot sfingter ani dan dinding depan rectum. (APN, Revisi 2007)

Menurut Liu David TY, (2008) Robekan Perenium berkaitan dengan :
Pelahiran primipara
Kala dua persalinan yang lama
Bayi besar
Distonsia bahu
Pelahiran pervaginam dengan menggunakan bantuan ( misalnya forseps)

Cara Perawatan perenium


Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002).

Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan  daerah  antara  paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.

Penyembuhan luka perenium/ luka heating

Penyembuhan luka adalah proses penggantian dan perbaikan fungsi jaringan yang rusak. ( Boyle M, 2009). Pada ibu yang baru melahirkan, banyak komponen fisik normal pada masa postnatal membutuhkan penyembuhan dengan berbagai tingkat. Pada umumnya, masa nifas cenderung berkaitan dengan proses pengembalian tubuh ibu ke kondisi sebelum hamil, dan banyak proses diantaranya yang berkenaan dengan proses involusi uterus, disertai dengan penyembuhan pada tempat plasenta.

Namun, luka-luka lainnya juga sangat lazim terjadi setelah melahirkan, dan bidan memiliki peran penting dalam memberi saran serta asuhan dengan tetap menghargai ibu. Luka perenium dialami oleh 75 % ibu yang melahirkan pervaginam. ( Boyle M, 2009 ).

Luka dapat sembuh melalui proses utama yang terjadi ketika tepi luka disatukan dengan menjahitnya. Jika luka dijahit, terjadi penutupan jaringan yang disatukan dan tidak ada “ ruang yang kosong “. Penyembuhan luka melalui proses sekunder membutuhkan pembentukan jaringan granulasi dan kontraksi luka. ( Boyle M,2009)

Jenis-jenis penyembuhan luka

Penutupan luka primer akan merapatkan jaringan yang terputus dengan bantuan benang, dan perban perekat. Pada penutupan luka sekunder batas – batas luka dibiarkan terbuka dan akhirnya akan saling mendekat oleh proses biologis kontraksi luka. Kegagalan penutupan sekunder dari luka terbuka berakibat terbentuknya luka terbuka kronis.

Fase-Fase Penyembuhan Luka

Fase inflamasi

Pada fase ini, penyempitan pertama dari pembuluh darah untuk memastikan pembentukan gumpalan. Setelahnya, prostaglandin dan histamin dalam darah akan mulai melebarkan pembuluh darah untuk meningkatkan aliran darah ke luka.

Fase prolifetarif

Selama fase ini, matriks darah baru dan sel-sel kulit mulai terbentuk, serta fibrolast yang berfungsi memproduksi kolagen juga terbentuk. Proses ini dipengaruhi oleh asam laktat, asam askorbat dan faktor yang mempengaruhi oksigen seperti zat besi, tembaga.

Fase pematangan

Pada tahap ini, penutupan luka di kulit terjadi, kulit mulai melakukan renovasi meskipun kadang tidak tertutup secara sempurna.

Pemenuhan nutrisi dan perannya dalam penyembuhan luka heating

Wanita yang baru menjadi ibu hampir tidak dihindari mengalami pola tidur yang kurang, nutrisi yang tidak adekuat, dan stres psikologis. Memastikan bahwa wanita memiliki pengetahuan yang cukup tentang nutrisi agar memungkinkan mereka bukan saja untuk menjalani kehamilan yang sehat, tetapi juga untuk mendapatkan sumber–sumber guna mencapai kesehatan secara efisien setelah melahirkan, merupakan salah satu cara menurunkan komplikasi postnatal. Di Amerika Serikat juga ditemukan bahwa sebagian besar wanita memiliki pengetahuan yang tidak adekuat mengenai nutrisi untuk kehamilan dan pada masa nifas. (Boyle M, 2009).
Pada masa nifas terjadi perubahan fisiologis dan anatomis diantaranya yaitu uterus, lochea, vagina, perineum, dan payudara (Varney H, 2009). Pada masa nifas mempunyai beberapa kebutuhan dasar meliputi kebutuhan nutrisi, aktivitas, istirahat, perawatan payudara, perawatan vulva, eliminasi, dan latihan.
Selama kehamilan seorang calon ibu sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk memenuhi pasokan nutrisi bagi ibu dan bayi. Kebutuhan nutrisi meningkat selama kehamilan, namun tidak semua kebutuhan nutrisi meningkat secara proporsional (Paath Francin E, 2005). Setelah melahirkan kebutuhan gizi ibu nifas lebih banyak karena selain untuk pembentukan ASI dalam proses menyusui juga berguna dalam pemulihan kondisi setelah melahirkan.
Periode postnatal adalah waktu ketika banyak wanita memulai diet. Bidan perlu memastikan bahwa wanita sadar apa yang tubuh mereka butuhkan, dan bahwa nutrisi yang baik diperlukan baik untuk penyembuhan dan mempertahankan kesehatan pada waktu stres meningkat. Oleh karena itu tidak akan bermanfaat menjalani diet sembarangan dan/ atau mengurangi nutrien yang diperlukan pada masa nifas.( Boyle M, 2009 )

Ibu nifas di anjurkan untuk :

Makan dengan diet berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/ hari pada 6 bulan  pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400 kalori perharinya. Misal pada ibu dengan kebutuhan kalori per harinya 1800 kalori artinya plus tambahan 800 kalori sehingga kalori yang di butuhkan sebanyak 2600 kalori. Demikian pula pada 6 bulan selanjutnya dibutuhkan rata-rata 2300 kalori dan tahun kedua 2200 kalori. Asupan cairan 3 liter/ hari, 2 liter di dapat dari air minum dan 1 liter dari cairan yang ada pada kuah sayur, buah dan makanan yang lain. Mengkonsumsi tablet besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari.



Mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu


Pemberian vitamin A dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak. Pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi bergantung pada vitamin A yang terkandung dalam ASI.Dengan terwujudnya semua makanan yang dianjurkan untuk ibu nifas maka proses penyembuhan luka heating akan semakin cepat sembuh dan kering. (Suherni dkk, 2009).