Monday, November 16, 2015

KONSEP TAQDIR



Konsep Taqdir
Allah berkehendak menciptakan makhluk-makhluk dan menenttukan ukuran-ukuran. Dari segi bahasa berati “taqdir” berasal dari kata “qaddara” yang berati menentukan  atau membuat ukuran  sebenarnya taqdir adalah penetapan atau penentuan Allah terhadap sesuatu. Manusia sesungguhnya diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebas dan berikhtiar, dalam artian bahwa ia diberikan pikiran dan kehendak.  Manusia dalam perbuatannya tidaklah sama seperti wayang yang di permainkan. Manusia selalu menempati dirinya di persimpangan jalan, agar ia memilih salah satu yang dikehendakinya antara jalan-jalan itu dengan penuh kemerdekaan  dan sesuai dengan kehendak pikirannya. Ia tidak terpaksa dalam melakukan perbuatannya.

Berdasarkan penjelasan yang terdapat pada Tafsir Al-Azhar, Hamka memandang bahwa iman, islam dan tawakal adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, dimana muncul yang satu tumbuh yang lain. Iman adalah kepercayaan hati dan  islam adalah perbuatan. Jika iman dan islam telah ada, secara otomatis ia akan bertawakal pada Allah. Hamka juga menambahkan bahwa: dengan begitu, tawakal bukan berarti berdiam saja menunggu nasib.dengan tidak melakukan ikhtiar. Tawakal memberi jiwa menjadi kuat, dan kalau jiwa sudah kuat, akal dan pikiranpun terbuka untuk menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalani kehidupan ini kita membutuhkan berbagai usaha.

Iman adalah sumber kekuatan dan hati adalah sumber keindahan alam pada penglihatan mata, iman menjadi hidup dan mempunyai maksud dan tujuan, sehingga timbullah minat untuk mencapai maksud dan tujuan. Iman menimbulkan cita-cita untuk memperoleh ganda dan pahala di atas pekerjaan yang dikerjakan. Tidak beriman membawa hidup tak bersendi, membawa keberanian yang semena-mena yang merusak kehidupan orang banyak. Padahal dimata Allah hanya orang-orang yang bagus akhlaknya dan bermanfaat bagi khalayak ramai, yang seperti inilah yang kita dambakan dan harapkan bukan sebaliknya penyakit dalam masyarakat yang hanya bisa mengangu.


Taqdir Dan Permasalahannya
Sebenarnya taqdir itu adalah penetapan atau penetuan Allah terhadap sesuatu istilah lain tentang taqdir ini adalah qadar qadha, qadar berarti program atau rencana Allah yang akan di berlakukan kepada makhluk-Nya, sedangkan qadha adalah ketetapan tuhan atau keputusan Allah tentang perlakuan qadar pada makhluk-Nya sesuai dengan yang di programkan-Nya. Keputusan inilah yang disebut taqdir,

Setiap peristiwa di bumi, alam semesta, sejarah, dan masa semuanya tercatat di sisi Allah  dalam sebuah buku di lauh Al-Mahfud. Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. tidak ada suatupun yang luput dari pengetahuan Allah. Perlu kita ketahui, bahwa segala sesuatu yang berlaku di alam dunia ini, baik berupa gerak, diam, buruk, akibat baik dan buruk, iman kufur, ketaatan ataupun kemaksiatan. Semua itu terjadi dengan qadha dan qadhar tuhan. 
 
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi ini, dari sisi kejadiannya, dalam qadar atu ukuran tertentu.pada tempat dan waktu tertentu itulah yang di sebut taqdir, oleh karenanya tidak ada satupun yang terjadi tampa taqdir. Termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Allah. Para ulama menyimpulkan dalam istilah sunnahtullah, atau yang sering disebut dengan hukum-hukum alam. M.Qurais Shihab membedakan antara sunnahtullah dan taqdir, karena sunnahtullah yang digunakan oleh Al-Quran adalah hukum-hukum yang pasti berlaku bagi kita makhluk, sedangkan taqdir mencakup hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum tuhan.mencermati berbagai pendapat tentang taqdir di atas, agaknya semuanya memberikan pengertian yang hampir sama.bahwa taqdir merupakan ketentuan Allah SWT. yang harus kita terima.

Berdasarkan prinsip amal perbuatan yang di usahakan manusia, maka sebenarnya percaya pada taqdir tidak sama dengan fatalisme, karena fatalisme mengandung makna menyerah kalah kepada nasib yang tidak di sertai dengan usaha.  Dengan demikian percaya pada taqdir yang di kehendaki islam adalah mengajarkan pentingnya amal usaha yang di iringi dengan aktivitas  dan menyerahkan hasil dari amal tersebut kepada Allah SWT , yaitu ketentuan Yang Maha Tinggi ialah “Taqdir” Allah

Beriman Kepada Taqdir
Pilar-pilar  iman yang keenam merupakan ajaran inti yang kita yakini dan mayoritas umat islam yang ada di dunia. Keyakinan kepada taqdir perlu di mantapkan lagi dengan merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang masalah ini. Sebagai firman Allah SWT.
“Dan tidak ada satupun melainkan pada sisi kamilah khazanahnya: dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (Q.S. Al-Hijr.21)

Allah juga berfirman pada ayat yang lain.
“Sesungguhnya kami ciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar) masing-masing. (Q.S.Al-Qamar:49).

Sehingga Mehdi Nacosten berpendapat bahwa kemajuan umat islam telah memberi kontribusi besar terhadap peradaban manusia, bukan saja di dunia islam tapi juga di dunia barat.sebaliknya masa-masa berikutnya takkala persepsi terhadap dogma qadha dan qadhar beralih mengambil bentuk fatalisme, maka umat islam mengalami kemunduran. Kondisi memprihatinkan ini disadari sepenuhnya oleh para pakar cendikiawan muslim seperti pengakuan Jamaluddin al-afghani sebagaimana di kutip oleh  Harun Nasution yang menyatakan bahwa kemunduran umat islam disebabkan oleh umatnya sendiri yang telah meninggalakan ajaran yang asli  dan mengikuti ajaran asing yang datang dari luar dan merusak dogma qadha dan qadhar, merubahnya fatalisme yang membawa kepada gaya hidup pasif dan statis.

Kenyakinan terhadap taqdir akan mendatangka ketentraman jiwa dan batin manusia. Hatinya tidak akan tergoncang dan kita tidak akan dipermainkan oleh kenyataan hidup. Oleh karena itu, manusia yang percaya pada sistem bijaksana dan taqdir tuhan terhadap dunia ini tidak akan kehilangan dirinya sendiri dalam menghadapi peristiwa-peristiwa dan bencana yang tidak menyenangkan.bahkan dia tidak akan lupa daratan  apabila ia mendapat kenikmatan, yang menyenangkan dan membahagiakan. Dalam hidup di dunia ini. Tidak ada bahaya yang membuatnya takut untuk melupakan kewajiban, dan jiwanya tidak akan dipenuhi dengan rasa putus asa dan kelemahan dalam menghadapi kekalahan dan kegagalan hidup.

Taqdir Baik Dan Buruk

Allah SWT, adalah zat yang maha bijaksana dan selalu berada dalam posisi kebaikan secara mutlak, sehingga dengan kebijaksanaan-Nya mengharuskan segala amalan baik juga. Demikian juga, qadha dan qadhar atau taqdir merupakan pancaran dari kebijaksanaan-Nya.

Berdasarkan kasat mata kebenaran, seluruh perbuatan Allah adalah mutlak, walaupun secara pandangan manusia (lahiriah melalui panca melalui panca indra) tampak sebgai hal yang buruk. Didalam kehidupan dunia ini Allah telah menanugerahi manusia kehendak bebasan dan menempatkannya sebagai ujian agar dengan kehendak itu manusia berusaha dan selalu patuh dalam menjalan atau meraih kebahagian yang abadi. Anugerah tersebut merupakan kebaikan yang sangat berharga dan sekalipun merupakan penghormatan yang di berikan Allah kepada manusia.Taqdir Allah berlaku bagi manusia, baik dalam kondisi menyenangkan hati maupun tidak menyenangkan hati manusia. Orang beriman hendaknya bersyukur ketika berada dalam posisi menyenangkan seraya tidak bersifat angkuh atau mengkufuri nikmat itu, dan sebaliknya mesti bersabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan hati.

Hal-hal yang bersifat tidak menyenangkan, memang menyakitkan, lalu di anggap sebagai musibah, namun   pada hakikatnya itu adalah suatu bentuk ujian yang harus kita alaminya. Meski demikian secara hakiki, manusia mesti percaya bahwa berbagai bentuk nikmat yang dirasakan manusia merupakan buah dari kebaikan sedangkan berbagai bentuk musibah merupakan hasil dari keburukan.
Hidup didunia hanya sementara, dunia ini tempat untuk kita siap bekal untuk tempat yang  abadi, dunia ini milik Allah swt. Allah berkehendak dan mempunyai ketetapan, tetapi manusi tidak ada hak bertanya kenapa Allah memutuskan ini dan itu.justru sebaliknya Allah akan menanyakan ini dan itu pada manusia kelak di akhirat segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini. Dan sudah sewajarnya manusia bersyukur dengan apa yang telah Allah tentukan. Dibalik itu semua ada rahasia dan hikmah yang terkandung, kita terus berusaha dengan segenap kenyakinan kita tampa pamrih dan putus asa. Walaupun ada sebagian permintaan kita terkabulkan, ada juga yang hal yang sudah atur dengan begitu baik dan matang kadang menuju jalan buntu, bukan tugas kita untuk menguras pikiran dan akal kita, untuk berpikir kenapa orang yang baik belum tentu bernasib baik pula, sedangkan orang yang jahat dan bermaksiat pada Allah bisa denga mudah mendapat keberhasilan dalam usahanya.  

Jika pelajaran dan didikan tentang taqdir adanya rasa dan kepercayaan bahwasanya segala sesutu yang baik dan buruk, senang dan sakit, hina dan mulia, naik dan jatuh telah kita resapi kejiwa kita, maka semakin meningkatkan nilai-nilai keimana dalam diri kita sebab semua itu akan memancarkan kepercayaan ketauhidan serta mengagungkan Allah SWT. Dengan demikian  segala sesuatu yang kita usahakan akan berdampak positif walau kegagalan yang kita hadapi.Allah pun akan memberikan imbangan bagi kita agar tidak sombong di saat Allah memberikan kenikmatan dan tidak lemah di saat Allah memberi musibah baik dalam usaha kita maupaun apa saja yang sedang kita ikhtiar.

Sesenang dan seberat apapun ujian dan musibah yang melanda kita yang teralamat pada kita, selalu  berhubungan dengan Allah sebagai zat yang maha agung  dan berkuasa. Dengan adanya ikhtiar yang dilakukan akan bertambah dekat manusia kepada tuhan,dapat mengasuh budi pekerti dan akal akan menjadikan manusia untuk mencapai derajat yang sempurna dalam kodrat insani.

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa begitu jelas manusia dapat membedakan dengan kemampuan insani yang di miliki manusia dengan membedakan di antara yang baik dan buruk serta dapat meyimpulkan untuk memilih salah satu darinya(baik dan buruk). Dan barang siapa yang mau mengunakan kemampuan sesuai dengan sunnatullah, maka Allah akan memberi keluasan dan hidayah dengan cara Allah mengilhamkan  kepadanya untuk memilih taqdir yang baik, di antara taqdir-taqdir yang telah Allah tetapkan baginya. Dan kebalikan orang-orang yang angkuh dan sombong serta mengabaikan sunnatullah, maka iblis akan menuntun jalan untuk memilih taqdir yang buruk. 

Menurut penulis sangat jelas bahwa manusialah yang menentukan akan nasibnya sendiri mau di kemanakan arah hidupnya dan peran manusia dalam menentukan nasibnya sangat berpengaruh besar bahkan kalau bahasa penulis  itulah sebagai ujung tombak atau modal yang besar, apapun yang kita ikhtiar hanya keyakinan yang berbicara.