Monday, November 16, 2015

KONSEP TAQDIR DAN TAWAQAL MENURUT HAMKA



Konsep Zuhud

Di dalam bukunya Abuya Hamka tasawuf moderen Hamka memang tidak membicarakan tentang istilah zuhud dalam bab khusus. Akan tetapi kalau kita mengkaji dan meneliti keseluruhan isi dari buku tersebut. Akan didapat gambaran yang jelas mengenai sikap zuhud ini. Namun saat  kita dalami   Abuya Hamka menyebutkan istilah radikalisme untuk para sufi dalam hal ta’abudiyah sebagai kebutuhan dan ciri para penganut tasawuf.



Menurut penulis sangat jelas apa yang beliau utarakan. Adapun yang dimaksud radikalisme disini adalah sikap zuhud dalam menghadapi dunia dan kehidupan mensikapi dunia beserta isinya, maka Hamka sebagai sosok yang mendukung terhadap tasawuf (menurut pandangan beliau) menjelaskan konsep zuhud dengan sikap moderat. Pandangan Hamka dalam bukunya pandangan hidup, Hamka merangkan bahwa “kita perlu benda dan perlu rohaniyat.  Kita perlu kaya karena karena hendak membayar zakat kepada fakir miskin. Kita perlu meratakan jalan di permukaan bumi, untuk mengikat tangga kelangit. Kita akan dipukul oleh kesengsaraan jika kita tidak berpegang pada dua tali: yaitu tali Allah dan tali insaniyah.” Dalam hal ini apabila kita sikapi secara gamblang perlu kehidupan dunia tidak akhirat saja. Bagaimana dengan keadaan umat kalau di benak kita Cuma akhirat maka kita akan di hantui selalu oleh hal di atas.

Apabila kita Beranjak  dari ungkapan ini, kita dapat melihat betapa Hamka bukanlah sosok yang acuh terhadap kehidupan duniawi. Ia kembali menegaskan ada terjadi anggapan yang salah bahwa agama adalah sebab kemunduran dan kemalasan karena hanya mengingat keberadaan akhirat saja. Dalam hal ini Hamka menjelaskan. “ada salah sangka terhadap agama akibat kesalah fahaman dan ketidak fahaman. Agama dituduh bahwa dia memundurkan hati, gerak agama membawa manusia malas, sebab ia senantiasa mengajak umatnya membenci dunia.terima saja apa yang ada, terima saja taqdir, jangan berikhtiar  melepas diri, bangsa yang zuhud kian terlempar dalam kemiskinan kata hamka.

Pada dasarnya dunia ini kita yang menaklukkan bukan sebaliknya dunia yang mengelabui kita. Menurut Hamka, kondisi zuhud pada seorang hamba itu muncul atas manifestasi dari keimanan. Sehingga pengertian yang benar menurutnya adalah: tidak ada perhatian yang lain kecuali kepada Allah. Zuhud bukanlah meninggalkan kehidupan duniawi, namun kita dalam mencari kehidupan dunia dengan tujuan akhirat adalah untuk kebahagian akhirat.


Apabila begini cara memahami dan menanggapinya berarti tidak mengunakan akal dan pikiran kita secara maksimal sebab begitu sempit cara kita berpikir serta hasilnya pun kalau orang miskin tak dapat berzakat, tak dapat naik haji, orang lain dapat menjalan rukun islam yang lima, sementara si miskin hanya terbatasi paling tinggi hanya tiga. Yang taat hanya dapat mengisi dengan Tahmid, Takbir, dan membuang duri di jalan sebagai ganti sedekah. Banyak orang yang lurus cita-cita jujur, tetapi karena miskin jadi tidak jujur.


Konsep tawakal
Sebagian dari para sufi yang tergelincir pemahamannya telah menyamakan keberadaan zat antara makhluk dan khalik.demikian sebagaimana yang tercantum dalam penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya. Bagi mereka, diantara keduanya terdapat esensi yang sama  yang tidak dapat dicerai beraikan dengan ketajaman hatinya seorang itu telah mencapai makrifat Al-Haq (Allah). Oleh karena itulah, para sufi yang jenis ini bergantung kepada apa yang disebut taqdir dengan jalan yang salah. Mereka enggan bekerja dan enggan berusaha karena pada diri mereka sendirilah hakikat dari sebab musabab itu. Fenomena seperti jelas bertentangan Islam. Untuk itulah Hamka menjelaskan bagaimana cara bergantungan yang benar menurut apa yang di inginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.