Friday, November 20, 2015

KARAKTERISTIK TANAMAN SIRIH


“Sirih atau dalam ilmu biologi dikenal dengan Piper betle Linn atau Chavica Aurculata Miq” (Rostiana, 2001:12). Tanaman sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dimakan dengan cara mengunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Daun sirih merupakan makanan tradisional yang merupakan simbol dari sebuah kemulian khususnya bagi masyarakat Aceh.
Dalam farmakologi Cina, “sirih dikenal sebagai tanaman yang memiliki sifat hangat dan pedas” (Rostiana, 2001:15). Secara tradisional mereka menggunakan daun sirih untuk meluruhkan kentut, menghentikan batuk, mengurangi peradangan, dan menghilangkan gatal. Pada pengobatan tradisional India, daun sirih dikenal sebagai zat aromatik yang menghangatkan, bersifat antiseptik, dan bahkan meningkatkan gairah seks.
Di Indonesia sangat banyak tumbuh tanaman sirih dengan berbagai macam variasi. Rostiana (2001:16) mengkategorikan sirih kepada 4 macam yaitu: "sirih jawa, sirih belanda, sirih cengkih dan sirih kuning". Sirih tersebut merupakan sirih yang banyak tumbuh di Indonesia yang dijadikan sebagai bahan obat-obatan dan menjadi makanan tradisonal.
Boror dan kawan-kawan (1992:19) mengatakan bahwa:
Dan sirih yang kerap digunakan sebagai obat adalah sirih hitam (rasa lebih tajam, sering digunakan sebagai obat), dan sirih merah (warna daun merah, berlendir jika daun disobek, aroma lebih wangi, untuk mengobati bebagai penyakit). Meski sangat beragam, ciri-ciri fisik dari kesemua jenis sirih ini hampir sama yaitu tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, dan tumbuh berselang seling dari batangnya. 
Jadi karakteristik tanaman sirih hamper sama pada setiap tempat tumbuhnya. Sirih merupakan tanaman yang merambat pada tanaman lain atau pada penopang lain dengan tanpa merugikan tanaman lain. Tanaman sirih kerap dijadikan sebagai bahan obat-abatan yang sangat berkhasiat. Tanaman sirih sangat berbagai macam ragam coraknya tumbuh di Indonesia.
Di Aceh, sirih merupakan simbol kemulian, sirih dijadikan bahan untuk memuliakan tamu. Jadi sirih bukan hanya menjadi obat bagi fisik manusia, akan tetapi juga menjadi peneduh mental seseorang. Sirih merupakan tanaman yang berfungsi sebagai obat dan penobat. 
Secara umum tanaman sirih ini mengandung "minyak atsiri 1-4,2% yang terdiri dari hidroksikavikol, kavikol, kavibetol, metileugenol, karvakol, terpena, seskuiterpena, fenil propane, tannin, enzim diastasae 0,8-1,8%, enzim katalase, gula, pati, vitamin A, B dan C" (Rostiana, 1991: 32). Bahan-bahan tersebut merupakan bahan yang dijadikan sebagai obat-obatan dalam dunia kedokteran. Selain itu bahan-bahan tersebut menjadi bahan penghilang virus yang membahayakan tubuh manusia.
Berdasarkan penelitian  (Fardiaz, 1989:23) menunjukkan bahwa: "82,8% komponen penyusun minyak atsiri daun sirih terdiri dari senyawa-senyawa fenol dan hanya 18,2% merupakan senyawa non-fenol. Senyawa anti bakteri dapat bersifat bakterisidal, fungisidal maupun germisidal". Senyawa fenol merupakan komponen utama minyak atsiri yang diduga berperan sebagai anti mikroba. Senyawa fenol tersebut sangat dibutuhkan untuk menghancurkan mikroba antrack.
Menurut Andarwulan dan Nuri (2000:26), semakin banyak fenol maka aktivitas antioksidan akan semakin meningkat. Zat anti mikroba yang terkandung dalam ekstrak daun sirih dapat merusak dinding sel dari jamur, sehingga menyebabkan pertumbuhan jamur menjadi lambat/terhambat.
Ingram (1981:124) menyatakan bahwa senyawa-senyawa fenol mampu memutuskan ikatan silang peptidoglikan untuk dapat menerobos dinding sel jamur. Ekstrak daun sirih diketahui juga dapat menghambat pertumbuhan spora jamur. Ekstrak daun sirih juga mengandung asam volatile yang berfungsi untuk menurunkan derajat kemasaman dari media tumbuh jamur, sehingga menghambat pertumbuhan dari jamur. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi, fungisida, anti jamur hidroksikavicol,  kavibetol, allylpyrokatekol, cyneole, caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena,  fenil propana, tannin (Boror, 1992:21).