Saturday, November 21, 2015

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu Belajar






Dalam belajar, keberhasilan siswa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Adapun dilihat dari keadaan dan lingkungan belajar siswa, maka faktor-faktor yang mempengaruhi mutu belajar tersebut ada 2, yaitu:
1.      Faktor Intern
1)      Motivasi 
            Pengertian Motivasi adalah daya penggerak yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan.[1] Motivasi tersebut dapat ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan yang dipengaruhi oleh lingkungan. Keseringan orang tua dalam memberikan motivasi kepada anaknya akan dapat membangkitkan semangat belajar anak. Motivasi sangat penting dalam proses perkembangan anak dalam menentukan masa depannya.
2)      Kondisi fisik/ jasmani saat mengikuti pelajaran
            Kondisi fisik atau jasmani siswa saat mengikuti pelajaran sangat berpengaruh terhadap minat dan aktifitas belajarnya. Faktor kesehatan badan, seperti kesehatan yang prima dan tidak dalam keadaan sakit atau lelah, akan membantu dalam memusatkan perhatian terhadap perhatian. Sebab untuk mengikuti proses belajar itu memerlukan kegiatan mental yang tinggi, menuntut banyak perhatian dan pikiran yang jernih. Oleh karena itu, apabila siswa mengalami kelelahan atau terganggu kesehatan, akan sulit memusatkan perhatian dan berfikir jernih. Kelelahan akan dapat mengganggu aktifitas belajar siswa.
2.      Faktor Ekstern
1)      Faktor keluarga
a)      Keadaan keluarga
            Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan sebagai yang dijelaskan oleh Slameto, bahwa “kelurga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Kelurga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.[2] Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah mengatakan bahwa, “keluarga merupakan lingkungna pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.[3]
            Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal kelembaga-lembaga formal memerlukan kerja sama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerja sama yang perlu ditingkatkan, dimana oranmg tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak dirumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.

baju wanitab)      Cara orang tua mendidik
            Cara orang tua mendidik adalah sangat besar pengaruh terhadap hasil belajar anak. Orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, maka mereka acuh tak acuh terhadap bacaan anaknya, tidak memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan atau melengkapi bahan bacaannya, tidak memerhatikan tingkah anaknya, apakah anaknya belajar atau tidak, dapat menyebabkan anak kurang berhasil dalam hal prestasi belajar.[4]
c)      Perhatian orang tua
            Perhatian orang tua sangat penting dan diperlukan dalam memberikan bimbingan, arahan dan dukungan kepada anak. Jika anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas dirumah. Terkadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberikan perhatian dan dorongan, membantu kesulitan yang dialami anak disekolah. Jika perlu menghubungi gurunya untuk mengetahui prestasi belajar.
2)      Faktor sekolah
            Sekolah merupakan tempat aktivitas anak mengembangkan intelektualnya, di sekolah selain memperoleh ilmu teoritis, juga ikut mendidik anak dalam memelihara budi pekerti anak. Di sekolah anak harus mengikuti segala peraturan yang telah ditetapkan. Mereka tidak boleh bertindak sesuka hatinya.
            Faktor yang mempengaruhi belajar di sekolah antara lain: metode belajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran dan metode mengajar yang diterapkan oleh guru.
a)      Metode dan gaya mengajar guru
            Metode dan gaya mengajar guru juga memberi pengaruh terhadap minat siswa dalam mempelajarisuatu mata pelajaran. Oleh karena itu hendaknya guru dapat menggunakan metode dan gaya mengajar yang dapat menumbuhkan minat dan perhatian serta motivasi yang besar terhadap siswa.
            Cara penyampaian pelajaran yang kurang menarik menjadikan siswa kurang kurang berminat dan bersemangat untuk mengikutinya. Namun sebaliknya,  jika pelajaran disampaikan dengan cara dan gaya yang menarik perhatian, maka akan menjadikan siswa tertarik dan bersemangat untuk selalu mengikutinya dan mendorongnya untuk selalu mempelajarinya. Cara seorang guru dalam menyampaikan pelajaran sangat terkait dengan tipe atau karakter kepribadiannya. Seperti yang dikemukakan oleh Muhibbin Syah, sebagai berikut:
1)      Guru yang otoriter
            Secara harfiah, otoriter berarti berkuasa sendiri atau sewenang-wenang. Guru yag otoriter  mengarahkan dengan keras segala aktivitas siswa tanpa dapat ditawar-tawar. Hanya sedikit sekali kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk berperan serta memutuskan cara terbaik untuk kepentingan belajar mereka, sehingga antara guru dan murid tidak terdapat hubungan yang akrab.
2)      Guru lezeifee
            Istilah  lezeifee ini sepadan dengan invidualisme yaitu paham yang menghendaki kebebasan pribadi. Guru yang berwatak seperti ini, biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan belajar secara enaknya, sehingga menyulitkan siswa dalam mempersiapkan diri. Sebenarnya guru tersebut tidak menyenangi profesinya sebagai tenaga pendidikmeskipun ia memiliki kemampuan yang memadai.
3)      Guru yang demokratis
            Bersifat demokratis yang pada intinya mengandung makna memperhatikan persamaan hak dan kewajiban semua orang. Guru yang memiliki sifat ini pada umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan ideal. Alasannya, dibanding dengan guru yang lainnya, guru tipe demokratis lebih suka bekerjasama dengan rekan-rekan seprofesinya, namun tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Ditinjau dari hasil sudut pengajaran, guru yang demokratis dengan yang otoriter tidak jauh berbeda. Akan tetapi dari sudut moral, guru yang demokratis lebih disenangi oleh rekan-rekannya maupun oleh siswanya sendiri. 
4)      Guru yang otoritatif
            Otoritatif  berarti berwibawa karena adanya kewenangan baik berdasarkan kemampuan maupun kekuasaan yang diberikan. Guru yang otoritatif adalah guru yang memiliki dasar-dasar pengetahuan baik pengetahuan faknya maupun pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya ditandai dengan oleh kemampuan memerintah secara efektif kepada siswa dan kesenangan mengajak kerjasama kepada para siswa bila diperlukan dalam mengikhtiarkan cara terbaik untuk penyelenggaraan system belajar. Dalam hal ini, guru ini hamper sama dengan guru yang demokratis. Namun, dalam hal memerintah dan memberi anjuran, guru yang otoritatif pada umumnya lebih efektif, karena lebih disegani oleh para siswa dan dipandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuanm yang digelutinya.[5]
            Disamping karakter yang telah disebut di atas, metode yang digunakan dalam menyampaikan pelajaran besar pula pengaruhnya terhadap minat belajar siswa. Apabila guru hanya menggunakan satu metode saja dalam mengajar maka akan membosankan, yang akhirnya siswa tidak tertarik memperhatikan pelajaran. Jadi hendaknya guru dapat menggunakasn berbagai metode mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b)      Sarana dan prasarana
            Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pembelajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya
jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya.[6]
            Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelengkapan sarana dan prasana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Kedua, kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.[7]
3)      Faktor Lingkungan Masyarakat
            Faktor-faktor dalam masyarakat mempunyai pengaruh cukup besar terhadap proses dan hasil belajar peserta didik dalam menwujudkan tujuan belajar, karena siswa sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan masyarakat sekitarnya. Pengaruh ini terjadi disebabkan karena:
a)      Kegiatan siswa dalam masyarakat.
b)      Media.
c)      Teman bergaul.
Bentuk kehidupan masyarakat.[8]


[1]Syukur, laporan action research, (Jakarta: Depdiknas, 2000), h. 4.

[2]Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Cet. IV, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2003), h. 67.

[3]Hasbullah, Pengembangan Belajar Pada Anak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 46.

[4]Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor..., h. 51.

[5]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), h. 253.
[6]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran,(Jakarta: Kencana, 2011), h.18.

[7]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain...,h. 18-19.

[8]T. Raka Joni, Pengelolaan Kelas dan Pengajaran, Cet II, (Jakarta: BP3G, 2003), h. 65.