Saturday, November 14, 2015

BUYA HAMKA




A.  SEJARAH DAN RIWAYAT HIDUP HAMKA.
Tokoh yang Sedang penulis kaji ini bernama Abdul Malik, lahir di sebuah kampung yang bernama tanah desa nagasari sungai batang di tepi sungai maninjau sumatera barat,pada tanggal 13 muharram 1326 h, yang bertepatan dengan tanggal 16 februari 1908 m.ayahnya bernama syehk haji abdul karim amrullah dan ibunya bernama safiah.[1] Setelah menunaikan ibadah haji, maka nama lengkap tokoh yang sedang kita bahas ini adalahHaji Abdul Malik Ibnu Abdul Karim Amrullah yang lebih sering kita singkat dengan HAMKA.
Ayah Hamka adalah, Haji Abdul Karim Amrullah. Adalah seorang ulama yang terkenal yang membawa paham-paham pembaharuan islam di minangkabau. Ayah Hamka juga mempelopori gerakan pembaharuan Islam di minangkabau, karena pembaharuan beliau pada saat itu di sebut kelompok kaum muda, sekaligus menjadi pembeda.
Ditengah-tengah pertentangan antara kaum muda dan kaum tua inilah Hamka lahir dan dibesarkan. Pada usia enam tahun, Hamka dibawa ayahnya kepadang panjang, pada usia tujuh tahun ia dimasukkan kesekolah desa dana malamnya belajar mengaji Al-Quran pada ayahnya sendiri hingga tamat. Hamka mendapat pendidikan rendah di sekolah dasar maninjau hingga kelas dua. Ketika usia Hamka mencapai sepuluh tahun, ayahnya telah mendirikan sumatera thwalib di panjang padang. Disitu Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa arab. Hamka juga mengikuti pengajaran di surau dan masjid yang di berikan ulama terkenal seperti: Syehk Ibrahim Musa, Syehk Ahmada Rasyid, Sutan Mansur, R.M Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusomo.
Mula-mula Hamka bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di perkebunan tebing tinggi,dan guru agama di padang panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu Hamka di angkat menjadi Rektor Penguruan Tinggi Islam,   dan Profesor  Universitas Mustopo, Jakarta dari tahun 1951  hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai pegawai tinggi agama oleh Menteri Agama Indonesia. Tapi beliau meletakkan jabatan itu  setelah Soekarnoe menyuruh memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergelut dalam politik majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Saat kita dalami tentang perjalanan kehidupan Hamka kian jelas bahwa beliau sebagai pengarang dan pujangga serta filsuf islam yang keberadaannya diakui, dengan keahliannya, hamka di samping keasyikan mempelajari kesusastraan melayu dan kesustraan arab sehingga seorang ahli tentang kesustraan indonesia menyatakan bahwa hamka adalah “Hamzah Fansuri zaman baru” reputasinya sebagai seorang ulama dan sastrawan telah diakui baik secara nasional maupun Internasional.[2]  Hal ini di buktikan dengan berbagai penghargaan yang diterima dari berbagai lembaga-lembaga dalam negeri maupun luar negeri.

B.  PANDANGAN HAMKA TERHADAP AQIDAH DAN TASAWUF
Ditengah maraknya tokoh-tokoh islam pada waktu itu mereka hanya memikirkan akhirat saja para tokoh tidak peduli dengan keadaan umat waktu yang sedang kacau balau ditambah dengan pemimpin semakin hari semakin menampakkan batang hidung kezalimannya, maka Hamka dengan segenap ketulusan dan keprihatina beliau ingin umat islam tidak meninggalkan ajaran islam yang keluar dari teks maupun konteks yang sebenarnya. Untuk menimbulkan persepsi yang berbeda dikalangan khalayak ramai tentang tasawuf, Hamka kemudian memunculkan istilah tasawuf moderen. Pengunaan istilah tasawuf yang diimbuhi dengan kata “Modern”  sebenarnya merupakan suatu terobosan yang rentan kritik dan pertentangan. Hal ini mengingat ketokohan hamka yang lahir dari pengerakan kaum moderenis berafiliasi dengan gerakan Muhammadiyah, seorang sufi bukanlah meninggalkan kehidupan duniawi yang melakukan suluk-suluk digua-gua terpencil dan jauh dari keramaian. Namun seorang dikatakan sufi kalau ia dalam segala tindakannya selalu mendekatkan diri hanya kepada Allah SWT semata. Kaum sufi sering kali salah menafsirkan makna sufi, mereka menolak hal-hal yang bersifat duniawi, padahal islam tidak pernah menyuruh umatnya untuk meninggalkan duniawi, tetapi harus mampu menjadikan dunia sebagai sarana untuk kebahagiaan akhirat.[3]    
Oleh karenanya, Muhammad Damminin  dalam bukunnya “tasawuf positif” mencoba mendudukkan kepentingan Hamka dalam mengetengahkan konsep tasawuf modernnya bahwa, istilah “tasawuf modern” merupakan lawan terhadap istilah “Tasawuf tradisional,” dimana tasawuf yang ditawarkan oleh Hamka berdasarkan pada prinsip tauhid, bukan mencari pengalaman yang dapat dirasakan melalui  mukasyafah, jalan tasawufnya dibangun lewat sikap zuhud yang dapat dirasakan melalui peribadatan resmi.penghayatan tasawufnya melalui pengalaman taqwa yang dinamis. Bukan keingginan untuk menyatukan dengan tuhan, dan refleksinya tasawufnya berupa penampakan semakin tinggi semangat dan nilai kepekaan sosial-relegius (sosial keagamaan) bukan karena keinginan mendapat karamah  yang bersifat magis, metafisis dan lainnya.
Sebagai hamba dituntun untuk selalumendekatkan diri pada sang pencipta yaitu Allah SWT. Keberadan tasawuf yang difahami oleh Hamka adalah semata-mata hendak menegakkan prilaku dan budi manusia yang sesuai dengan karakter Islam, yang seimbang atau menurut bahasa hamka “I’tidal”, untuk itulah, manusia dalam prosesnya mesti mengusahakan benar-benar  kearah terbentuknya budi pekerti yang baik, terhindar dari kejahatan dan penyakit batin.
a.       Konsep Zuhud
Di dalam bukunya Abuya Hamka tasawuf moderen Hamka memang tidak membicarakan tentang istilah zuhud dalam bab khusus. Akan tetapi kalau kita mengkaji dan meneliti keseluruhan isi dari buku tersebut. Akan didapat gambaran yang jelas mengenai sikap zuhud ini. Namun saat  kita dalami   Abuya Hamka menyebutkan istilah radikalisme untuk para sufi dalam hal ta’abudiyah sebagai kebutuhan dan ciri para penganut tasawuf.
Menurut penulis sangat jelas apa yang beliau utarakan. Adapun yang dimaksud radikalisme disini adalah sikap zuhud dalam menghadapi dunia dan kehidupan mensikapi dunia beserta isinya, maka Hamka sebagai sosok yang mendukung terhadap tasawuf (menurut pandangan beliau) menjelaskan konsep zuhud dengan sikap moderat. Pandangan Hamka dalam bukunya pandangan hidup, Hamka merangkan bahwa “kita perlu benda dan perlu rohaniyat.  Kita perlu kaya karena karena hendak membayar zakat kepada fakir miskin. Kita perlu meratakan jalan di permukaan bumi, untuk mengikat tangga kelangit. Kita akan dipukul oleh kesengsaraan jika kita tidak berpegang pada dua tali: yaitu tali Allah dan tali insaniyah.” Dalam hal ini apabila kita sikapi secara gamblang perlu kehidupan dunia tidak akhirat saja. Bagaimana dengan keadaan umat kalau di benak kita Cuma akhirat maka kita akan di hantui selalu oleh hal di atas.
Apabila kita Beranjak  dari ungkapan ini, kita dapat melihat betapa Hamka bukanlah sosok yang acuh terhadap kehidupan duniawi. Ia kembali menegaskan ada terjadi anggapan yang salah bahwa agama adalah sebab kemunduran dan kemalasan karena hanya mengingat keberadaan akhirat saja. Dalam hal ini Hamka menjelaskan. “ada salah sangka terhadap agama akibat kesalah fahaman dan ketidak fahaman. Agama dituduh bahwa dia memundurkan hati, gerak agama membawa manusia malas, sebab ia senantiasa mengajak umatnya membenci dunia.terima saja apa yang ada, terima saja taqdir, jangan berikhtiar  melepas diri, bangsa yang zuhud kian terlempar dalam kemiskinan kata hamka.
Pada dasarnya dunia ini kita yang menaklukkan bukan sebaliknya dunia yang mengelabui kita. Menurut Hamka, kondisi zuhud pada seorang hamba itu muncul atas manifestasi dari keimanan. Sehingga pengertian yang benar menurutnya adalah: tidak ada perhatian yang lain kecuali kepada Allah. Zuhud bukanlah meninggalkan kehidupan duniawi, namun kita dalam mencari kehidupan dunia dengan tujuan akhirat adalah untuk kebahagian akhirat.[4]
 Apabila begini cara memahami dan menanggapinya berarti tidak mengunakan akal dan pikiran kita secara maksimal sebab begitu sempit cara kita berpikir serta hasilnya pun kalau orang miskin tak dapat berzakat, tak dapat naik haji, orang lain dapat menjalan rukun islam yang lima, sementara si miskin hanya terbatasi paling tinggi hanya tiga. Yang taat hanya dapat mengisi dengan Tahmid, Takbir, dan membuang duri di jalan sebagai ganti sedekah. Banyak orang yang lurus cita-cita jujur, tetapi karena miskin jadi tidak jujur.

b.      Konsep tawakal.
Sebagian dari para sufi yang tergelincir pemahamannya telah menyamakan keberadaan zat antara makhluk dan khalik.demikian sebagaimana yang tercantum dalam penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya. Bagi mereka, diantara keduanya terdapat esensi yang sama  yang tidak dapat dicerai beraikan dengan ketajaman hatinya seorang itu telah mencapai makrifat Al-Haq (Allah). Oleh karena itulah, para sufi yang jenis ini bergantung kepada apa yang disebut taqdir dengan jalan yang salah. Mereka enggan bekerja dan enggan berusaha karena pada diri mereka sendirilah hakikat dari sebab musabab itu. Fenomena seperti jelas bertentangan Islam. Untuk itulah Hamka menjelaskan bagaimana cara bergantungan yang benar menurut apa yang di inginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Hamka, tawakal adalah salah satu sifat yang telah tersimpul dalam diri orang-orang yang telah memiliki sifat Qanaah. Hamka kemudian mengartikan tawakal dengan arti penyerahan keputusan setiap suatu perkara atau urusan hajat hidup manusia, berupa ikhtiar dan usahanya hanya kepada Allah pemilik sekalian alam. Artinya rasa ketergantungan manusia kepada Allah SWT. berlaku atas setiap perkara yang kita turut memiliki usaha di dalamnya. Hal ini sesuai denga apa yang disampaikan oleh syekh Abu Bakar Al Jazairi dalam kitabnya. “Minhajul Muslim”. Dimana ia menjelaskan bahwa makna tawakal tidak harus di fahami oleh setiap orang beriman dengan dengan penyerahan tanpa usaha saja, atau berlepas tangan terhadap sesuatu yang akan terjadi. Menurut penulis memang ada yang keliru seperti yang kita artikan selama hanya menunggu dan terus menanti tampa usaha dan berikhtiar bukankah segala sesuatu itu akan menghasilkan menurut apa yang kita usahakan.
c.       Konsep Taqdir
Allah berkehendak menciptakan makhluk-makhluk dan menenttukan ukuran-ukuran.[5] Dari segi bahasa berati “taqdir” berasal dari kata “qaddara” yang berati menentukan  atau membuat ukuran  sebenarnya taqdir adalah penetapan atau penentuan Allah terhadap sesuatu. Manusia sesungguhnya diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebas dan berikhtiar, dalam artian bahwa ia diberikan pikiran dan kehendak.  Manusia dalam perbuatannya tidaklah sama seperti wayang yang di permainkan. Manusia selalu menempati dirinya di persimpangan jalan, agar ia memilih salah satu yang dikehendakinya antara jalan-jalan itu dengan penuh kemerdekaan  dan sesuai dengan kehendak pikirannya. Ia tidak terpaksa dalam melakukan perbuatannya.[6]
Berdasarkan penjelasan yang terdapat pada Tafsir Al-Azhar, Hamka memandang bahwa iman, islam dan tawakal adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, dimana muncul yang satu tumbuh yang lain. Iman adalah kepercayaan hati dan  islam adalah perbuatan. Jika iman dan islam telah ada, secara otomatis ia akan bertawakal pada Allah. Hamka juga menambahkan bahwa: dengan begitu, tawakal bukan berarti berdiam saja menunggu nasib.dengan tidak melakukan ikhtiar. Tawakal memberi jiwa menjadi kuat, dan kalau jiwa sudah kuat, akal dan pikiranpun terbuka untuk menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalani kehidupan ini kita membutuhkan berbagai usaha.
Iman adalah sumber kekuatan dan hati adalah sumber keindahan alam pada penglihatan mata, iman menjadi hidup dan mempunyai maksud dan tujuan, sehingga timbullah minat untuk mencapai maksud dan tujuan. Iman menimbulkan cita-cita untuk memperoleh ganda dan pahala di atas pekerjaan yang dikerjakan. Tidak beriman membawa hidup tak bersendi, membawa keberanian yang semena-mena yang merusak kehidupan orang banyak. Padahal dimata Allah hanya orang-orang yang bagus akhlaknya dan bermanfaat bagi khalayak ramai, yang seperti inilah yang kita dambakan dan harapkan bukan sebaliknya penyakit dalam masyarakat yang hanya bisa mengangu.
   d.Taqdir Dan Permasalahannya
Sebenarnya taqdir itu adalah penetapan atau penetuan Allah terhadap sesuatu istilah lain tentang taqdir ini adalah qadar qadha, qadar berarti program atau rencana Allah yang akan di berlakukan kepada makhluk-Nya, sedangkan qadha adalah ketetapan tuhan atau keputusan Allah tentang perlakuan qadar pada makhluk-Nya sesuai dengan yang di programkan-Nya. Keputusan inilah yang disebut taqdir,
Setiap peristiwa di bumi, alam semesta, sejarah, dan masa semuanya tercatat di sisi Allah  dalam sebuah buku di lauh Al-Mahfud. Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. tidak ada suatupun yang luput dari pengetahuan Allah. Perlu kita ketahui, bahwa segala sesuatu yang berlaku di alam dunia ini, baik berupa gerak, diam, buruk, akibat baik dan buruk, iman kufur, ketaatan ataupun kemaksiatan. Semua itu terjadi dengan qadha dan qadhar tuhan.[7]  
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi ini, dari sisi kejadiannya, dalam qadar atu ukuran tertentu.pada tempat dan waktu tertentu itulah yang di sebut taqdir, oleh karenanya tidak ada satupun yang terjadi tampa taqdir. Termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Allah. Para ulama menyimpulkan dalam istilah sunnahtullah, atau yang sering disebut dengan hukum-hukum alam. M.Qurais Shihab membedakan antara sunnahtullah dan taqdir, karena sunnahtullah yang digunakan oleh Al-Quran adalah hukum-hukum yang pasti berlaku bagi kita makhluk, sedangkan taqdir mencakup hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum tuhan.mencermati berbagai pendapat tentang taqdir di atas, agaknya semuanya memberikan pengertian yang hampir sama.bahwa taqdir merupakan ketentuan Allah SWT. yang harus kita terima.
Berdasarkan prinsip amal perbuatan yang di usahakan manusia, maka sebenarnya percaya pada taqdir tidak sama dengan fatalisme, karena fatalisme mengandung makna menyerah kalah kepada nasib yang tidak di sertai dengan usaha.  Dengan demikian percaya pada taqdir yang di kehendaki islam adalah mengajarkan pentingnya amal usaha yang di iringi dengan aktivitas  dan menyerahkan hasil dari amal tersebut kepada Allah SWT , yaitu ketentuan Yang Maha Tinggi ialah “Taqdir” Allah
e. Beriman Kepada Taqdir.
Pilar-pilar  iman yang keenam merupakan ajaran inti yang kita yakini dan mayoritas umat islam yang ada di dunia. Keyakinan kepada taqdir perlu di mantapkan lagi dengan merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang masalah ini. Sebagai firman Allah SWT.
“Dan tidak ada satupun melainkan pada sisi kamilah khazanahnya: dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (Q.S. Al-Hijr.21)
Allah juga berfirman pada ayat yang lain.
“Sesungguhnya kami ciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar) masing-masing. (Q.S.Al-Qamar:49).

Sehingga Mehdi Nacosten berpendapat bahwa kemajuan umat islam telah memberi kontribusi besar terhadap peradaban manusia, bukan saja di dunia islam tapi juga di dunia barat.sebaliknya masa-masa berikutnya takkala persepsi terhadap dogma qadha dan qadhar beralih mengambil bentuk fatalisme, maka umat islam mengalami kemunduran. Kondisi memprihatinkan ini disadari sepenuhnya oleh para pakar cendikiawan muslim seperti pengakuan Jamaluddin al-afghani sebagaimana di kutip oleh  Harun Nasution yang menyatakan bahwa kemunduran umat islam disebabkan oleh umatnya sendiri yang telah meninggalakan ajaran yang asli  dan mengikuti ajaran asing yang datang dari luar dan merusak dogma qadha dan qadhar, merubahnya fatalisme yang membawa kepada gaya hidup pasif dan statis.[8]
Kenyakinan terhadap taqdir akan mendatangka ketentraman jiwa dan batin manusia. Hatinya tidak akan tergoncang dan kita tidak akan dipermainkan oleh kenyataan hidup. Oleh karena itu, manusia yang percaya pada sistem bijaksana dan taqdir tuhan terhadap dunia ini tidak akan kehilangan dirinya sendiri dalam menghadapi peristiwa-peristiwa dan bencana yang tidak menyenangkan.bahkan dia tidak akan lupa daratan  apabila ia mendapat kenikmatan, yang menyenangkan dan membahagiakan. Dalam hidup di dunia ini. Tidak ada bahaya yang membuatnya takut untuk melupakan kewajiban, dan jiwanya tidak akan dipenuhi dengan rasa putus asa dan kelemahan dalam menghadapi kekalahan dan kegagalan hidup.
f.Taqdir Baik Dan Buruk
Allah SWT, adalah zat yang maha bijaksana dan selalu berada dalam posisi kebaikan secara mutlak, sehingga dengan kebijaksanaan-Nya mengharuskan segala amalan baik juga. Demikian juga, qadha dan qadhar atau taqdir merupakan pancaran dari kebijaksanaan-Nya.
Berdasarkan kasat mata kebenaran, seluruh perbuatan Allah adalah mutlak, walaupun secara pandangan manusia (lahiriah melalui panca melalui panca indra) tampak sebgai hal yang buruk. Didalam kehidupan dunia ini Allah telah menanugerahi manusia kehendak bebasan dan menempatkannya sebagai ujian agar dengan kehendak itu manusia berusaha dan selalu patuh dalam menjalan atau meraih kebahagian yang abadi. Anugerah tersebut merupakan kebaikan yang sangat berharga dan sekalipun merupakan penghormatan yang di berikan Allah kepada manusia.Taqdir Allah berlaku bagi manusia, baik dalam kondisi menyenangkan hati maupun tidak menyenangkan hati manusia. Orang beriman hendaknya bersyukur ketika berada dalam posisi menyenangkan seraya tidak bersifat angkuh atau mengkufuri nikmat itu, dan sebaliknya mesti bersabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan hati.
Hal-hal yang bersifat tidak menyenangkan, memang menyakitkan, lalu di anggap sebagai musibah, namun   pada hakikatnya itu adalah suatu bentuk ujian yang harus kita alaminya. Meski demikian secara hakiki, manusia mesti percaya bahwa berbagai bentuk nikmat yang dirasakan manusia merupakan buah dari kebaikan sedangkan berbagai bentuk musibah merupakan hasil dari keburukan.
Hidup didunia hanya sementara, dunia ini tempat untuk kita siap bekal untuk tempat yang  abadi, dunia ini milik Allah swt. Allah berkehendak dan mempunyai ketetapan, tetapi manusi tidak ada hak bertanya kenapa Allah memutuskan ini dan itu.justru sebaliknya Allah akan menanyakan ini dan itu pada manusia kelak di akhirat segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini. Dan sudah sewajarnya manusia bersyukur dengan apa yang telah Allah tentukan. Dibalik itu semua ada rahasia dan hikmah yang terkandung, kita terus berusaha dengan segenap kenyakinan kita tampa pamrih dan putus asa. Walaupun ada sebagian permintaan kita terkabulkan, ada juga yang hal yang sudah atur dengan begitu baik dan matang kadang menuju jalan buntu, bukan tugas kita untuk menguras pikiran dan akal kita, untuk berpikir kenapa orang yang baik belum tentu bernasib baik pula, sedangkan orang yang jahat dan bermaksiat pada Allah bisa denga mudah mendapat keberhasilan dalam usahanya.  
     Jika pelajaran dan didikan tentang taqdir adanya rasa dan kepercayaan bahwasanya segala sesutu yang baik dan buruk, senang dan sakit, hina dan mulia, naik dan jatuh telah kita resapi kejiwa kita, maka semakin meningkatkan nilai-nilai keimana dalam diri kita sebab semua itu akan memancarkan kepercayaan ketauhidan serta mengagungkan Allah SWT. Dengan demikian  segala sesuatu yang kita usahakan akan berdampak positif walau kegagalan yang kita hadapi.Allah pun akan memberikan imbangan bagi kita agar tidak sombong di saat Allah memberikan kenikmatan dan tidak lemah di saat Allah memberi musibah baik dalam usaha kita maupaun apa saja yang sedang kita ikhtiar.
Sesenang dan seberat apapun ujian dan musibah yang melanda kita yang teralamat pada kita, selalu  berhubungan dengan Allah sebagai zat yang maha agung  dan berkuasa. Dengan adanya ikhtiar yang dilakukan akan bertambah dekat manusia kepada tuhan,dapat mengasuh budi pekerti dan akal akan menjadikan manusia untuk mencapai derajat yang sempurna dalam kodrat insani.
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa begitu jelas manusia dapat membedakan dengan kemampuan insani yang di miliki manusia dengan membedakan di antara yang baik dan buruk serta dapat meyimpulkan untuk memilih salah satu darinya(baik dan buruk). Dan barang siapa yang mau mengunakan kemampuan sesuai dengan sunnatullah, maka Allah akan memberi keluasan dan hidayah dengan cara Allah mengilhamkan  kepadanya untuk memilih taqdir yang baik, di antara taqdir-taqdir yang telah Allah tetapkan baginya. Dan kebalikan orang-orang yang angkuh dan sombong serta mengabaikan sunnatullah, maka iblis akan menuntun jalan untuk memilih taqdir yang buruk.
Menurut penulis sangat jelas bahwa manusialah yang menentukan akan nasibnya sendiri mau di kemanakan arah hidupnya dan peran manusia dalam menentukan nasibnya sangat berpengaruh besar bahkan kalau bahasa penulis  itulah sebagai ujung tombak atau modal yang besar, apapun yang kita ikhtiar hanya keyakina yang berbicara.               
C.  HIKMAH-HIKMAH DAN PELAJARAN DARI TAQDIR
a.       Sebagai ujian Allah
b.      Sarana pendidikan dan pengajaran
c.       Pembalasan yang di segerakan



D.  TELADAN ABUYA HAMKA
Hamka mewakili sosok kepribadian yang cemerlang. Ratusan karya beliau tulis dilahirkannya dari ketajaman memotret berbagai aspek kehidupan kemasyarakatan. Tidak mengherankan bila dalam Oxford History of Islam (2000), John L Esposito pun menyandingkannya dengan pemikir besar Muslim terkemuka.
Menulis, menafsirkan berbagai karya Hamka di masa lalu yang masih aktual di masa kini bisa didapatkan kesimpulan bahwa diri dan pemikirannya mewakili sosok cendekiawan yang, meminjam Idi Subandy Ibrahim dalam Hamka, Jembatan Dua Dunia (Pikiran Rakyat 2008), humanis-religius. ”Di Bawah Lindungan Ka`bah”, ”Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, ”Falsafah Hidup”, ”Islam dan Demokrasi”, ”Keadilan Sosial dalam Islam”, dan lainnya menunjukkan kecintaannya yang mendalam akan nilai-nilai keadilan dalam bermasyarakat dan kepekaannya terhadap realitas sosial. Karya-karya tersebut menjadi penunjuk atas keluasan cakrawala berpikir seorang Buya Hamka yang beliau nampakkan melalui teks yang nyata buah kecintaan Hamka terhadap masyarakat dan generasi islam pada khususnya.
Pemikiran Buya Hamka cukup relevan di tengah-tengah masalah keberagamaan bangsa ini yang pasang surut di tengah tarik-menarik antara konflik dan kekerasan. Keberagamaan yang tidak kontekstual dan hanya mementingkan tata cara keberagamaan formal sebagai ”substansi” beragama dan ”satu-satunya” cara terbaik beragama justru seringkali menyeret seseorang ke dalam pemikiran yang sempit. Seolah-olah kehidupan ini dihuni oleh segolongan orang yang memiliki cara beriman dan beragama yang sama persis.
Secara kontekstual, kehidupan beragama seperti adanya inilah yang menjadi fakta masyarakat. Kekerasan dan konflik kerap dipicu oleh sentimen yang dibangun melalui sempitnya cara memandang hidup dan kehidupan. Pluralitas adalah kenyataan kehidupan. Dalam konteks ini dibutuhkan pemikiran yang bisa mengayomi semua dimensi kehidupan. Penghargaan dan sikap toleran atas perbedaan jauh lebih penting dikemukakan untuk menciptakan tata kehidupan yang damai. Keadaan inilah yang tidak yang harus di gapai pada masa ini di sebabkan faktor dangkalnya aqidah umat dan pola pikir yang hanya memikirkan hawa nafsu dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan teks dan kejadian dalam masyarakat yang semakin hari terus menyimpang bahkan semakin jauh dari jalur agama.
Tafsir atas pemikiran Buya Hamka memang beragam. Namun perbedaan tafsir di dalamnya seharusnya dikokohkan dalam kerangka memperkaya khasanah keberagamaan dari sudut pandang substansinya. Ini akan sejalan dengan semangat pemikiran Buya Hamka sebagai intelektual yang mencintai keadilan dan memandang perbedaan sebagai suatu kenyataan hidup. Untuk mendapatkan contohnya, sosok pemikiran Buya Hamka seperti di atas dapat dijumpai dalam jejak-jejak pengaruhnya kepada, misalnya, pemikiran dan kepribadian.
E.   HAMKA DI MATA TOKOH PADA MASANYA.
Buya Syafii Maarif, salah seorang mantan Ketua PP Muhammadiyah yang mengaku pembentukan kepribadiannya banyak dipengaruhi olehnya. Kecintaan atas keadilan dan kemanusiaan menjadi semangat untuk memperbaiki kehidupan yang lebih damai di tengah realitas sosial yang beragam. Pribadi tangguh yang dilahirkan dari tanah Minang ini memberikan teladan untuk bersikap dewasa dan menghargai pluralisme serta mengakui perbedaan.
Perbedaan keyakinan bukan jalan atau peluang untuk saling bermusuhan. Hemat penulis, karakteristik keberimanan yang otentik seperti ini bila tidak dikembangkan justru berpeluang melahirkan keberimanan yang sempit yang menjadi jalan untuk melihat the others selalu sebagai sosok yang harus dilawan dan dimusuhi.Keberpihakannya pada keadilan tercermin dari persahabatan antara Buya dengan Kardinal Justinus Darmoyuwono.
Kedua tokoh agama tersebut bersatu menentang kekuasaan Soeharto pada tahun 1970an yang sudah mulai menampakkan tanda-tanda otoriterismenya. Buya Hamka dan Kardinal Darmoyuwono memiliki perbedaan prinsip keagamaan tetapi justru memiliki hubungan yang sangat baik. Pada saat menyangkut masalah kebangsaan mereka bersatu menentang kekuasaan pemerintahan yang zalim. Hal itulah yang saat ini sudah minimal, saat Indonesia kehilangan tokoh-tokoh yang peduli pada masalah kebangsaan. Saat ini tokoh-tokoh masyarakat dan elite politik kehilangan roh kerakyatan seperti yang dimiliki Buya Hamka.
Beliau adalah seseorang yang terbuka terhadap keyakinan orang lain. Selain itu, memiliki sikap bahwa manusia harus hidup berdampingan secara toleran, menghormati perbedaan, menjaga keyakinan dan menjunjung tinggi kebebasan. Pergaulan Buya Hamka melintas batas suku, bangsa, agama dan keturunan.
Kepribadiannya dicerminkan dari sikapnya yang terbuka. Buya juga membaca karya-karya sarjana Prancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud dan sebagainya. Ia seorang Muslim yang tidak harus antibarat hanya karena melihat barat dianggap terlalu banyak yang tidak sesuai dengan sikap keberagamaannya.
Ketegaran dan ketangguhan seorang cendekiawan seperti Buya Hamka inilah yang semakin jarang ditemui di tengah dunia yang instan, pragmatis dan simplifikatif. Buya adalah seorang yang berpendirian teguh memperjuangkan keadilan. Ia berani melawan kekuasaan yang zalim sehingga ia dipenjara berkali-kali. Keberaniannya sungguh-sungguh ditegakkan atas nama kebenaran dan pembelaan atas ketidakadilan. Sikap keberagamaan yang memerankan kepedulian pada realitas sosial akan melahirkan cara beriman yang lebih terbuka dan menghargai perbedaan.
Kemajemukan adalah fakta sosial yang tak bisa diingkari. Pemikiran yang sempit akan berkecenderungan untuk membela dirinya sendiri dengan kepedulian yang sangat kecil, bahkan musnah, terhadap orang lain. Bahkan dalam segolongan sekalipun, sikap seperti ini bisa membayakan perdamaian karena apapun yang terlihat berbeda selalui disikapi sebagai musuh. Sebagai musuh, tak ada cara lain selain ditundukkan, karena ia dianggap mengganggu.
Buya Hamka sudah menyelami realitas sosial seperti ini dalam khasanah kebangaan Indonesia di masa lalu. Keterbukaannya terhadap perbedaan sekaligus meletakkan sikap dasar toleransi adalah jalan yang paling baik daripada menutup semua peluang dialog dan hidup berdampingan. Indonesia adalah bangsa yang dibangun atas dasar kesamaan nasib, bukan semata-mata kesamaan berkeimanan. Sudah selayaknya bangsa ini diolah dan dibangun dengan cara pandang yang terbuka pula.
Adapun keimanan bersifat membantu mendorong tumbuhnya semangat penghargaan ini. Apapun jenis keimanan ini sifatnya lebih individualistik dan diharapkan memberikan semangat untuk lebih arif terhadap realitas sosial yang ada. Keimanan bukan untuk melahirkan permusuhan, melainkan untuk meretas persaudaraan setiap saat. Perbedaan bukan jalan menuju peperangan, melainkan jalan menuju kedamaian yang sesungguhnya. Dan untuk itu pula perbedaan itu ada.
Buya Hamka memberikan banyak teladan kepada Indonesia sebagai bangsa di tengah-tengah realitas perbedaan yang ada. Sosok yang tangguh dan mau bersahabat dengan siapa saja yang memiliki kemanusiaan perlu dicontoh bukan hanya oleh mereka yang Muslim, melainkan siapa saja yang mengaku sebagai manusia Indonesia.
Sumbangsih pemikiran yang otentik dan kontekstual untuk kehidupan kebangsaan yang sehat itulah yang perlu digali dari sosok Buya Hamka. Menelusuri jejak-jejak pemikiran seharusnya memupuk keteladanan berpikir, bertindak dan berperilaku. Para elit politik, sosial, dan agama yang masih mengedepankan cara berpikir ”segolongan” seharusnya lebih banyak menimba pemikiran Buya Hamka.
Bangsa ini merindukan lahirnya buya-buya baru yang berani belajar dari kegagalan masa lampau dan menatap masa depan dengan landasan utama: kemanusiaan dan keadilan. Konsep-konsep inilah yang jarang di kaji dan anut oleh generasi dewasa ini, membicara, membahas sosok Abuya Hamka sama halnya membicarakan sosok Al-marhum Tgk. Muhammad Hasan Tiro walaupun ada sedikit bidang yang berbeda namun lika-liku perjalanan kehidupan mereka terus di rasakan di nikmati oleh generasi intelektual sekarang ini. 
            Sudah waktunya sosok Hamka dan Hasan tiro baru lahir untuk meneruskan cita-cita mulia ini. Perbedaan bukanlah sebuah hambatan untuk mencapai keadilan dan ketentraman Allah telah memberi begitu banyak nikmat dan akal. Moga kita selalu menggunakannya untuk terus berfikir dan memikirkannya untuk kemajuan negeri dan bangsa ini. Abuya Hamka telah membesarkan bangsa ini dengan pemikiran yang begitu cemerlang yang membuat bangsa lain takut dan  segani karena mereka juga. Baik dengan kiprah maupun teladan-teladan yang mengagumkan dan ketulusan hati beliau dalam memashurkan dunia islam dengan sentuhan-sentuhan lembut dan bijak, dan arif. Kita patut bersyukur dengan keberadaan mereka.   


[1] Herri Muhammad, tokoh islam yang berpenggaruh abad 20, (jakarta: gema insani pres, 2006) hlm,61
[2] Triyana harsa M.Ag, Taqdir Manusia  Dalam Pandangan Hamka,(Banda Aceh: yayasan Pena,2008) hlm,17
[3] Akbar Ahmed, citra muslim tinjauan sejarah dan sosial, (jakarta :erlangga, 1992), hlm 100
[4] Herry muuhammad, opt cit, hlm, 67.
[5] “Menentukan ukuran-ukurannya” ialah menyiapkan apa yang baik dan layak untuknya dengan sempurna dan baik
[6] Triana Maharsa, Taqdir Manusia Dalam pandangan Hamka(Banda Aceh: yayasan pena, 2008) hlm,42.
[7] Opcit. Hlm, 43.
[8] Opct. Hlm, 48.