Monday, November 16, 2015

BIOGRAFI HAMKA



Sejarah dan Riwayat Hidup Hamka
Tokoh yang Sedang penulis kaji ini bernama Abdul Malik, lahir di sebuah kampung yang bernama tanah desa nagasari sungai batang di tepi sungai maninjau sumatera barat,pada tanggal 13 muharram 1326 h, yang bertepatan dengan tanggal 16 februari 1908 m.ayahnya bernama syehk haji abdul karim amrullah dan ibunya bernama safiah. Setelah menunaikan ibadah haji, maka nama lengkap tokoh yang sedang kita bahas ini adalahHaji Abdul Malik Ibnu Abdul Karim Amrullah yang lebih sering kita singkat dengan HAMKA.

Ayah Hamka adalah, Haji Abdul Karim Amrullah. Adalah seorang ulama yang terkenal yang membawa paham-paham pembaharuan islam di minangkabau. Ayah Hamka juga mempelopori gerakan pembaharuan Islam di minangkabau, karena pembaharuan beliau pada saat itu di sebut kelompok kaum muda, sekaligus menjadi pembeda.

Ditengah-tengah pertentangan antara kaum muda dan kaum tua inilah Hamka lahir dan dibesarkan. Pada usia enam tahun, Hamka dibawa ayahnya kepadang panjang, pada usia tujuh tahun ia dimasukkan kesekolah desa dana malamnya belajar mengaji Al-Quran pada ayahnya sendiri hingga tamat. Hamka mendapat pendidikan rendah di sekolah dasar maninjau hingga kelas dua. Ketika usia Hamka mencapai sepuluh tahun, ayahnya telah mendirikan sumatera thwalib di panjang padang. Disitu Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa arab. Hamka juga mengikuti pengajaran di surau dan masjid yang di berikan ulama terkenal seperti: Syehk Ibrahim Musa, Syehk Ahmada Rasyid, Sutan Mansur, R.M Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusomo.

Mula-mula Hamka bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di perkebunan tebing tinggi,dan guru agama di padang panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu Hamka di angkat menjadi Rektor Penguruan Tinggi Islam,   dan Profesor  Universitas Mustopo, Jakarta dari tahun 1951  hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai pegawai tinggi agama oleh Menteri Agama Indonesia. Tapi beliau meletakkan jabatan itu  setelah Soekarnoe menyuruh memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergelut dalam politik majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Saat kita dalami tentang perjalanan kehidupan Hamka kian jelas bahwa beliau sebagai pengarang dan pujangga serta filsuf islam yang keberadaannya diakui, dengan keahliannya, hamka di samping keasyikan mempelajari kesusastraan melayu dan kesustraan arab sehingga seorang ahli tentang kesustraan indonesia menyatakan bahwa hamka adalah “Hamzah Fansuri zaman baru” reputasinya sebagai seorang ulama dan sastrawan telah diakui baik secara nasional maupun Internasional. Hal ini di buktikan dengan berbagai penghargaan yang diterima dari berbagai lembaga-lembaga dalam negeri maupun luar negeri.


Pandangan Hamka Terhadap Aqidah Dan Tasawuf

Ditengah maraknya tokoh-tokoh islam pada waktu itu mereka hanya memikirkan akhirat saja para tokoh tidak peduli dengan keadaan umat waktu yang sedang kacau balau ditambah dengan pemimpin semakin hari semakin menampakkan batang hidung kezalimannya, maka Hamka dengan segenap ketulusan dan keprihatina beliau ingin umat islam tidak meninggalkan ajaran islam yang keluar dari teks maupun konteks yang sebenarnya. Untuk menimbulkan persepsi yang berbeda dikalangan khalayak ramai tentang tasawuf, Hamka kemudian memunculkan istilah tasawuf moderen. Pengunaan istilah tasawuf yang diimbuhi dengan kata “Modern”  sebenarnya merupakan suatu terobosan yang rentan kritik dan pertentangan. Hal ini mengingat ketokohan hamka yang lahir dari pengerakan kaum moderenis berafiliasi dengan gerakan Muhammadiyah, seorang sufi bukanlah meninggalkan kehidupan duniawi yang melakukan suluk-suluk digua-gua terpencil dan jauh dari keramaian.

Namun seorang dikatakan sufi kalau ia dalam segala tindakannya selalu mendekatkan diri hanya kepada Allah SWT semata. Kaum sufi sering kali salah menafsirkan makna sufi, mereka menolak hal-hal yang bersifat duniawi, padahal islam tidak pernah menyuruh umatnya untuk meninggalkan duniawi, tetapi harus mampu menjadikan dunia sebagai sarana untuk kebahagiaan akhirat.  

Oleh karenanya, Muhammad Damminin  dalam bukunnya “tasawuf positif” mencoba mendudukkan kepentingan Hamka dalam mengetengahkan konsep tasawuf modernnya bahwa, istilah “tasawuf modern” merupakan lawan terhadap istilah “Tasawuf tradisional,” dimana tasawuf yang ditawarkan oleh Hamka berdasarkan pada prinsip tauhid, bukan mencari pengalaman yang dapat dirasakan melalui  mukasyafah, jalan tasawufnya dibangun lewat sikap zuhud yang dapat dirasakan melalui peribadatan resmi.penghayatan tasawufnya melalui pengalaman taqwa yang dinamis. Bukan keingginan untuk menyatukan dengan tuhan, dan refleksinya tasawufnya berupa penampakan semakin tinggi semangat dan nilai kepekaan sosial-relegius (sosial keagamaan) bukan karena keinginan mendapat karamah  yang bersifat magis, metafisis dan lainnya.  

Sebagai hamba dituntun untuk selalumendekatkan diri pada sang pencipta yaitu Allah SWT. Keberadan tasawuf yang difahami oleh Hamka adalah semata-mata hendak menegakkan prilaku dan budi manusia yang sesuai dengan karakter Islam, yang seimbang atau menurut bahasa hamka “I’tidal”, untuk itulah, manusia dalam prosesnya mesti mengusahakan benar-benar  kearah terbentuknya budi pekerti yang baik, terhindar dari kejahatan dan penyakit batin.