Monday, November 23, 2015

BAB II D. Perpustakaan Di Dunia Pendidikan Islam



"Iqra’ atau perintah membaca, adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw."[1] Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama. Mungkin mengherankan bahwa perintah atau amaran tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Quran, bahkan seorang yang tidak pandai membaca dan menulis suatu tulisan sampai akhir hayatnya. Namun, keheranan ini akan sirna jika disadari arti iqra’ dan disadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw semata-mata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.
            "Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diembannya sebagai khalifah."[2] Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik (akademik) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat.
Dalam lintasan sejarah peradaban islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa dilaksanakan pada masa-masa kejayaan Islam. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang Jazirah Arab, Asia Barat hingga Eropa Timur. Perpustakaan tersebar diseluruh jazirah. Pendidikan islam menjadi kiblat seluruh ummat.
Perhatian agama Islam terhadap Ilmu Pengetahuan sudah dimulai sejak masa permulaan nubuwwah Nabi Muhammad SAW. Hal ini ditandai dengan diturunkannya al-Qur’an Surat al-Alaq yang bunyinya :
إقرأ باسم ربك الذى خلق ٬خلق الانسان من علق، إقرأ ﯠﺮﺒﻚ ﺍﻷﻜﺮﻢ ، ﺃﻠﺬﯼﻋﻠﻢ ﺑﺎﻠﻗﻠﻢ، ﻋﻠﻢ ﺍﻷﻧﺴﺎﻥ ﻤﺎ ﻠﻢ ﻴﻌﻠﻢ
Artinya "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (pena), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."[3]
Dengan Al-Qur’an ( pena ) yang disebutkan dalam Al-‘Alaq tersebut maka manusia merumuskan buah fikirannya dan menyatakan pendapatnya. Dengan pena seorang Kepala Negara dapat menyatakan perang dan dapat menyatakan perdamaian. Buah pikiran yang dirumuskan dalam bentuk tulisan inilah yang terdapat di dalam buku-buku yang terdapat di dalam perpustakaan. Firman Allah dalam Al-qur’an Surat Ali imran ayat 191 menyatakan :
ﺁﻠﺬﻳﻦ ﻴﺬﻜﺮﻮﻦ ﺁﻠﻠﻪ ﻘﻴﻤﺎ ﻭﻘﻌﻮﺪﺍ ﻭﻋﻠﻰ ﺠﻧﻮﺒﻬﻢ ﻮﻴﺘﻔﻜﺮﻮﻦ ﻓﻰ ﺨﻠﻖ ﺁﻠﺴﻤﻮﺍﺖ ﻮﺍﻷﺮﺽ ﺮﺑﻧﺎ ﻤﺎ ﺨﻠﻘﺖ ﻫﻨﺍ ﺒﻂﻼ ﺴﺑﺤﻨﻚ ﻔﻗﻨﺎ ﻋﻧﺍﺐ ﺁﻠﻨﺎﺮ
Artinya : "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."[4]
Ayat di atas menunjukkan perintah untuk meneliti apa saja yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada manusia. Dan penelitian memerlukan alat bantu yang dinamakan dengan kitab-kitab petunjuk atau buku-buku ilmu pengetahuan yang mengarahkan penelitian. Maka dalam pandangan islam perpustakaan adalah merupakan sebuah kebutuhan bagi para thaliban (mahasiswa) dalam menggali dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi beserta isinya untuk dapat mengetahui kekuatan dan kekuasaan Allah SWT.
Perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia. Karena, membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban. Ilmu, baik yang kasbiy (acquired knowledge) maupun yang ladunniy (abadi, parennial), tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira’at- bacaan dalam artinya luas.
Di kala Nabi Muhammad SAW harus memusatkan perhatiannya untuk melawan serangan-serangan Kafir Quraisy, sedetikpun beliau tidak pernah alpa terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. "Tawanan- tawanan perang Badar dibebaskan, apabila mereka dapat mengajarkan tulis baca bagi 10 orang anak muslim."[5]
"Nabi  Muhammad SAW mempunyai niat yang mulia yakni memelihara Ilmu Pengetahuan dan Kesusastraan. Sarjana-sarjana Islam mendirikan Perpustakaan Islam, Perpustakaan Masjid, Perpustakaan Madrasah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Pesantren."[6]
Dalam islam semua sependapat bahwa perpustakaan merupakan barometer kemajuan suatu bangsa, artinya maju dan mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari perpustakaannya. Telah menjadi keyakinan umum bahwa membaca itu adalah suatu hal yang baik. "Membaca akan membawa seseorang kepada tujuan-tujuan yang diinginkannya dan bahwa buku-buku itu mempunyai daya kekuatan yang dapat merubah keadaan masyarakat."[7] Membaca merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia serta menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Hingga arti penting buku kerap dilingkapkan melalui semboyan-semboyan, seperti "buku adalah guru yang tak pernah jemu, buku adalah jendela informasi dunia"[8]
            Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa dilaksanakan pada masa-masa kejayaan Islam. "Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang Jazirah Arab, Asia Barat hingga Eropa Timur."[9] Hal tersebut tidak terlepas dari pemberian dan penurunan ilmu pengetahuan melalui perpustakaan (darul-ilmi).
Di dalam Islam, perhatian yang tinggi terhadap pendidikan dan kemuliaan buku sebagai media pengetahuan menjadi asas tumbuhnya perpustakaan dalam peradaban Islam. Buku tidak saja diperlakukan semata-mata sebagai media, bahkan mempunyai nilai-nilai moral yang melandasi perhatian yang diberikan padanya.
Secara historis perpustakaan islam telah memberikan banyak kontribusi dalam sejarah perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, khususnya di kalangan masyrakat islam. "Isu perpustakaan islam yang sangat menarik dan controversial dalam perjalanan ummat islam misalnya perustakaan islam Baitul Hikmah di Baghdad pada masa abad ke-2 H."[10]
"Perpustakaan Baitul Hikmah dibangun pada masa Bani Abbasiyah dengan Spirit of Power dimiliki oleh seorang Khalifah yang bernama Al-Makmun."[11] Para cendikiawan dan intelektual muslim yang menterjemahkan tulisan-tulisan filsuf Yunani, Romawi kedalam bahasa arab mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari Al- Makmun seperti Al-Kindi (807-973 M) dan Musa Al Khawarizmi yang menemukan al-jabar "[12].
Perkembangan dunia Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa itu melalui ilmu pengetahuan. Baitul Hikmah telah mendorong perubahan yang sangat luar biasa di dunia Islam, seperti Ilmu Mantik, kedokteran, Fisika, ilmu kemasyakatan dan segala disiplin ilmu menjadi area diskusi publik umat saat itu. "Baitul Hikmah sebuah pustaka yang memiliki peran terhadap perubahan wacana umat"[13].
            Peran perpustakaan perpustakaan yang ada dalam pada masa peradaban masyarakat islam adalah sebagai berikut :
1.      Pusat belajar
            Setelah masa Khulafaur Rasyidin, peradaban Islam menampakkan perkembangan yang amat signifikan dalam masyarakat islam. "Perkembangan itu antara lain pada proses pendidikan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, terutama yang dapat dilihat pada masa Umaiyah dan Abbasiyah"[14]. Kedua masa ini menunjukkan suatu kecemerlangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
 2.      Pusat penelitian
            Sesungguhnya peran penelitian yang dilakukan oleh perpustakaan pada masa awal Islam sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa, misalnya "utusan khalifah-khalifah atau raja-raja untuk membahas suatu bidang ilmu tertentu di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah."[15] Disamping itu, para peneliti dan cendekiawan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan keahliannya. "Banyak di antara mereka yang melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan penemuan-penemuan baru."[16] Tentu saja aktivitas semacam ini tidak pernah terhenti sampai sekarang dan begitu pula pada masa datang selama perpustakaan menjalankan fungsinya sebagai sumber informasi.
 3.      Pusat penterjemahan
            Suatu hal yang amat menarik adalah di mana perpustakaan pada masa itu menjadi jembatan dari kebudayaan. Misalnya, "kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat. Dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan tersebut ."[17] Aktivitas semacam ini telah mendapatkan respon positif sehingga para penerjemah memperoleh status yang baik dalam masyarakat.
            Situasi ini mulai pada saat didirikannya perpustakaan yang pertama dalam dunia Islam. Menurut Kurd Ali, orang yang pertama kali menekuni bidang ini ialah Chalid Ibnu Jazid (meninggal tahun 656 M). Di lain sumber dikatakan bahwa Ibnu Jazid telah mencurahkan perhatiannya terhadap buku lama, terutama dalam ilmu kimia, kedokteran dan ilmu bintang.
4.      Pusat penyalinan
            "Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin yaitu sejak dari abad pertengahan telah dirasakan pentingnya bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu perpustakaan."[18] Oleh karena itu alat-alat percetakan sebagaimana yang kita lihat di abad modern ini belum ada di masa itu, maka untuk mengatasi hal ini mereka adakan seleksi penyalinan pada tiap-tiap perpustakaan. Penyalinan buku itu diselenggarakan oleh penyalin-penyalin yang terkenal kerapihan kerja dan tulisannya.
            Perpustakaan dalam dunia Pendidikan islam memiliki peran dan posisi yang tinggi dalam masyarakat. Hal ini telah dibuktikan pada masa kejayaan islam. Perpustakaan merupakan barometer kemajuan suatu bangsa dan negara dalam menggapai tujuan akhir pendidikan dalam Islam, yaitu proses pembentukan diri peserta didik (manusia) agar sesuai dengan fitrah keberadaannya untuk menggapai kebahagian duniawi dan ukhrawi.
Telah menjadi keyakinan umum bahwa membaca itu adalah suatu hal yang baik. Membaca akan membawa seseorang kepada tujuan-tujuan yang diinginkannya dan bahwa buku-buku itu mempunyai daya kekuatan yang dapat merubah keadaan masyarakat. Akhirnya perpustakaan juga dapat mengadakan ceramah dalam suatu topik tertentu atau diskusi yang referensi pembicaraannya kembali pada bahan-bahan yang ada di perpustakaan.



[1] M. Quraisy Shihab, “Membumikan Al-Quran”, (PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2004), hal. 12

[2] M. Khoirul Anam, Melacak Paradigma Pendidikan Islam, “sebuah upaya menuju pendidikan yang memberdayakan”, (online), http://www.pendidikannetwork.com diakses 6 juni 2009

[3] Surat al-Alaq ayat 1- 4

[4] Surat Ali Imran ayat 191

[5] Mangunhardjana, A.M. 1986. Teknik Menambah dan Mengembangkan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.hal 101
            [6] Rosidi, Ajip. 1983. Pembinaan Minat Baca, Bahasa, dan Sastera. Surabaya:PT Bina Ilmu hal 124

[7] M. Quraish Shihab : Wawasan Al-Qur’an : Ilmu Dan Teknologi, ( PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2007), hal 567
               
                [8] Habibullah AS; ”Kiprah Sebuah Buku Dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan”, Tabloid Online : Opini (online), (2009), www.tabloidinfo.com, diakses tanggal 04/06/2009 
               
                [9] Ibid, hal 2

                [10] Ahmad Manshur, “Perpustakaan Pada Masa Peradaban Masyrakat Islam, (online), Http://www.perfspot.com/blogs/71284, Diakses 2 Juni 2009
[11] Sulistiyo-Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta 1997: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 123
[12] Ibid, hal 124
[13] Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21 : Menjangkau Informasi, Bandung: Mizan 1993, hal. 141
               
                [14] Ahmad Manshur, Perpustakaan Pada Masa Peradaban Masyrakat Islam,jurnal pendidikan”, (2008), (online) http://www.Solar-Aid.org, diakses pada tanggal 4 juni 2009
               
[15] Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21…, hal 152

[16] Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21…, hal 153            
               
                [17] Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21…, hal 155

[18] Ahmad Manshur, “Perpustakaan Pada Masa Peradaban Masyarakat Islam…,hal 116