Sunday, October 12, 2014

KEONG MAS DAN KEGUNAANNYA

KEONG MAS DAN KEGUNAANNYA

         Keong Mas Keong mas atau keong murbai (Pomacea canaliculata lamarck) termasuk keong air tawar, dengan cangkang berbentuk bulat mengerucut berwarna kuning keemasan. Keong ini berasal dari daerah Amazon, Amerika Selatan dan diperkirakan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sekitar tahun 1984. “Keong mas saat ini banyak dijumpai dan sebagian besar belum dapat dimanfaatkan disebabkan perkembangan pupulasinya yang cepat” (Sihombing. 1999, Wardana, 2008:39).

     “Keong mas atau keong murbai (Pomacea canaliculata lamarck) merupakan salah satu hama utama yang dapat menimbulkan masalah dalam produksi padi” (Wardana, 2008:24). Badan Pangan Dunia (FAO) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNO) menduga kehilangan hasil yang disebabkan hama ini mencapai 40% dari areal padi sawah di Filipina pada tahun 1989 yang menyebabkan kehilangan hasil cukup besar. “Keong mas atau keong murbai (Pomacea canaliculata lamarck) merupakan salah satu jenis invertebrara dari kelas Gastropoda air tawar yang diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1981 sebagai hewan hias” (Lampung Pos,15-11-2011).
     Sejak awal introduksi ada dua pendapat yang bertentangan perihal keong mas. Satu pihak mendukung introduksi keong mas dan mengembangbiakkannya sebagai komoditas ekspor dan ekonomis, dan dipihak lain mengkhawatirkan keong mas akan menjadi hama tanaman dan pertanian. Keong mas atau keong murbai (Pomacea canaliculata lamarck) secara morfologi ditandai oleh karakteristik sebagai berikut: “rumah siput bundar, memiliki menara pendek, rumah siput besar, mulut besar dengan bentuk oval, overculum tebal rapat menutup mulut apabila diberikan gangguan, berwarna kuning muda, dagingnya lunak berwarna putih krem, terkadang ditemukan juga yang berwarna biru gelap” (Ghesquiere, 2007:36). Operculum betina cekung dan tepi mulut rumah ciput melengkung ke dalam, sebaliknya operculum jantan cembung dan tepi mulut rumah siput melengkung keluar. “Keong mas (Pomacea canaliculata lamarck) dapat menyebar dengan cepat karena setiap keong mas dewasa (60 hari setelah menetas hingga 3 tahun) menghasilkan telur berkisar antara 132 sampai 1.827 butir dan telur menetas setelah 7 sampai 14 hari dengan persentase menetas lebih 80%” (Musman, 2004:123). Telur keong mas sangat banyak sehingga setiap tahunnya keong mas mampu mengembangkan populasi yang sangat banyak. “Keong mas banyak ditemukan di lingkungan basah seperti persawahan dan rawa-rawa. 
        Siklus hidupnya cukup lama yaitu 2 hingga 6 tahun dengan kemampuan bertelur mencapai 1000 hingga 1200 butir dalam sebulan mengakibatkan pertumbuhan populasi yang tinggi” (Wardana 2008:29). Kemampuan bertelur tersebut akan dapat mengakibatkan ekosistem tumbuhan hancur menjadi makanan keong mas. Hal tersebut akan dapat menghancurkan tanaman penghasil oksigen. Segala tumbuhan yang lemah daunnya akan hancur dimakan oleh keong mas. Tak hanya di Indonesia, keong mas atau keong murbai (Pomacea canaliculata lamarck), setidaknya sejauh ini dari jenis itu yang terdeteksi secara ilmiah ternyata juga menginvasi sejumlah negara, seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Taiwan, China, Jepang, negara-negara di kawasan Amerika Utara, dan Amerika Selatan. “Sampai saat ini belum ditemukan obat yang efektif untuk membasmi hama keong mas di lahan sawah dengan cara alami” (Musman, 2004:129). 
       Membasmi keong mas dengan cara alami akan dapat menyelamatkan ekosistem yang dapat berguna bagi manusia. Selama ini, antisipasi yang dilakukan petani dalam mengendalikan serangan hama keong mas adalah dengan cara memberi bubuk racun pada lahan sawah sebelum masa tanam padi. Biasanya bubuk atau cairan racun itu dicampur pada pupuk urea dan disebarkan di seluruh lahan sawah sebelum penaman dilakukan. Tapi ini pun terkadang tidak efektif, karena kenyataan di lapangan keong mas hanya terbenam saja di tanah dan saat hujan datang, kembali datang dan menyerang tanaman. “Keong mas merupakan binatang yang dapat hidup mengendap ke dalam tanah selama berbulan-bulan” (Musman, 2004:130).
        Jadi keong mas merupakan hewan yang dapat mempertahankan hidup lebih lama di dalam tanah. Bisa dikatakan bahwa keong mas adalah hewan petapa yang mendiami tanah ketika kering. Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980 an dari Amerika Selatan sebagai makanan potensial bagi manusia. Namun, kemudian keong mas menjadi hama utama padi yang menyebar ke Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Dan kini keong mas menjadi hama yang sangat merugikan bagi para petani karena dapat menghancurkan dan menggagalkan penghasilan dari lahan pertanian. Dapat disimpulkan bahwa keong mas atau siput murbai merupakan hewan lunak (Mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan dengan perut. Keong emas biasa hidup di rawa, sawah irigasi, saluran air, dan areal yang selalu tergenang. 

       Meski demikian, bukan berarti keong emas tak bisa hidup di areal tanpa air. Saat musim kemarau, mereka mengubur diri di dalam tanah yang lembab. Mereka mampu berdiapause (fase dimana organisme berhenti berkembang dan terjadi pada siklus tahunan) selama 6 bulan, kemudian aktif kembali saat tanah mulai dialiri air. Mereka bahkan bisa hidup di lingkungan ganas, seperti air yang terkena polusi dan kurang kadar oksigen. Siklus hidup keong emas terbilang cukup pendek. Telur-telur keong emas dapat menetas hanya dalam waktu 7-14 hari. Keong emas juga mampu bereproduksi dengan sangat gesit. Seekor keong dapat menghasilkan 1000-1200 telur dalam satu bulan. 
        Adapun klasifikasi Keong Mas dapat dilihat pada Tabel di bawah ini: Tabel 2.1 klasifikasi Keong Mas Kingdom Animals Divisi Mollusca Kelas Gastropoda Ordo Pulmonata Famili Pomaceatidae Genus Pomacea Species Pomacea canaliculata lamarck. 2.2 Karakteristik Biduri