Sunday, October 12, 2014

KEDISIPLINAN GURU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

LANDASAN TEORITIS
2.1 Pengertian dan Fungsi Disiplin 2.1.1 Pengertian Disiplin Disiplin bagi peserta didik adalah hal yang rumit dipelajari sebab merupakan hal yang kompleks dan banyak kaitannya, yaltu terkait dengan pengetahuan, sikap dan perilaku. Masalah disiplin yang dibahas dalam penelitian ini adalah disiplin yang dilakukan oleh para siswa dalam kegiatan belajarnya baik di rumah maupun di sekolah. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengertian disiplin, berikut ini penulis mengutip beberapa pendapat para ahli. Diantaranya adalah Andi Rasdiyanah (1995:28) yang mendefinisikan “disiplin dengan kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku". Dengan kata lain disiplin adalah kepatuhan mentaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Departemen Pendidikan Nasional (2003:3) memberikan arti disiplin sebagai “Tingkat konsistensi dan konsekuensi seseorang terhadap suatu komitmen atau kesepakatan bersama yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai”. Disiplin merupakan konsistensi kebersamaan terhadap suatu kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama. Soegeng Prijodarminto (2002:23) mengemukakan sebagai berikut: Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian perilaku dalam kehidupannya. Perilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman. Jadi, disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Menurut Maman Rachman (2000:97) menyatakan bahwa "Disiplin sebagai upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya". Disiplin merupakan pengontrol mental seseorang dalam menjalankan peraturan-peraturan untuk mencapai tujuan. Bertitik tolak dari berbagai pendapat di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa disiplin merupakan persesuaian antara sikap, tingkah laku dan perbuatan seseorang dengan suatu peraturan yang sedang diberlakukan. Sebab itulah guna mewujudkan disiplin dalam diri siswa diperlukan adanya peraturan atau tata tertib dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dengan adanya peraturan tersebut setiap sikap tindakan yang mencerminkan kedisiplinan dan dilaksanakan dengan baik dan benar. Seorang siswa perlu memiliki sikap disiplin dengan melakukan latihan yang memperkuat dirinya sendiri untuk selalu terbiasa patuh dan mempertinggi daya kendali diri. Sikap disiplin yang timbul dari kesadarannya sendiri akan dapat lebih memacu dan tahan lama, dibandingkan dengan sikap disiplin yang timbul karena adanya pengawasan dari orang lain. Seorang siswa yang bertindak disiplin karena ada pengawasan ia akan bertindak semaunya dalam proses belajarnya apabila tidak ada pengawas. Karena itu perlu ditegakkan di sekolah berupa koreksi dan sanksi. Apabila melanggar dapat dilakukan dua macam tindakan yaitu koreksi untuk memperbaiki kesalahan dan berupa sanksi. Keduanya harus dilaksanakan secara konsisten untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan pelanggaran terhadap norma dan kaidah yang telah disepakati bersama. Hal ini dilakukan mengingat orang cenderung berperilaku sesuka hati. Begitu pula di lingkungan keluarga. Disiplin perlu diajarkan kepada anak sejak kecil oleh orang tuanya. Anak yang dididik disiplin, perlu mendapatkan perlakuan yang sesuai sepatutnya bagi orang yang belajar. Apabila anak telah mengetahui kegunaan dari disiplin, maka siswa sebagai manifestasi dari tindakan disiplin akan timbul dari kesadarannya sendiri, bukan merupakan suatu keterpaksaan atau paksaan dari orang lain. Sehingga siswa akan berlaku tertib dan teratur dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah. Dan akan menghasilkan suatu sistem aturan tata laku. Dimana siswa selalu terikat kepada berbagai peraturan yang mengatur hubungan dengan lingkungan sekolahnya dan lingkungan keluarganya. Suatu hal yang menjadi titik tolak dalam disiplin adalah sikap dan tindakan yang senantiasa taat dan mau melaksanakan keteraturan dalam suatu peraturan atau tata tertib yang ada. Lingkungan pendidikan merupakan suatu wadah yang berperan dalam menyiapkan fasilitas-fasilitas atau bahkan menghambat seseorang dari pertumbuhan. Begitu pula dengan guru yang merupakan pelaku utama pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan. Guru merupakan pemegang tongkat estafet dalam membina akhlaq anak didik di sekolah. Tanpa guru maka tujuan pendidikan nasional tidak akan tercapai. oleh karena itu lingkungan sekolah memiliki peran mendasar dalam pembentukan kepribadian manusia akan tetapi bukan faktor penentu yang pasti karena manusia memiliki ikhtiar. Disiplin akan dapat menunjang tujuan pembelajaran di sebuah lembaga pendidikan. Jadi peranan guru dalam menerapkan disiplin merupakan serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu dalam menjalankan aturan serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan murid yang menjadi tujuannya. Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin sekolah. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. 2.1.2 Fungsi Disiplin Disiplin diperlukan oleh siapa pun dan di mana pun. Hal itu disebabkan di mana pun seseorang berada, di sana selalu ada peraturan atau tata tertib. Soegeng Prijodarminto (2002:33) mengatakan “di jalan, di kantor, di toko, swalayan, di rumah sakit, di stasiun, naik bus, naik lift, dan sebagainya, diperlukan adanya ketertiban dan keteraturan”. Jadi, manusia mustahil hidup tanpa disiplin. Manusia memerlukan disiplin dalam hidupnya di mana pun berada. Apabila manusia mengabaikan disiplin, akan menghadapi banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perilaku hidupnya tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku di tempat manusia berada dan yang menjadi harapan. Tulus Tu’u (2004:37) mengatakan “disiplin berperan penting dalam membentuk individu yang berciri keunggulan”. Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku ,dan tata kehidupan berdisiplin, yang akan mengantar seorang siswa sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Adapun fungsi disiplin menurut Tulus Tu’u (2004:38) yaitu sebagai berikut: a. Menata Kehidupan Bersama Fungsi disiplin adalah mengatur tata kehidupan manusia, dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Dengan begitu, hubungan antara individu satu dengan yang lain menjadi baik dan lancar. Kehidupan bersama akan lebih terarah dengan adanya disiplin. b. Membangun Kepribadian Lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Apalagi seorang siswa yang sedang tumbuh kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang, tenteram, sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik. c. Melatih Kepribadian Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak terbentuk serta-merta dalam waktu singkat. Namun, terbentuk melalui satu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satu proses untuk membentuk kepribadian tersebut dilakukan melalui latihan. d. Pemaksaan Dari pendapat itu, disiplin dapat terjadi karena dorongan kesadaran diri. Disiplin dengan motif kesadaran diri ini lebih baik dan kuat. Dengan melakukan kepatuhan dan ketaatan atas kesadaran diri, bermanfaat bagi kebaikan dan kemajuan diri. Sebaliknya, disiplin dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar. e. Hukuman Tata tertib sekolah biasanya berisi hal-ha1 positif yang harus dilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Ancaman sanksi / hukuman sangat penting karena dapat memberi dorongan dan kekuatan bagi siswa untuk menaati dan mematuhinya. Tanpa ancaman hukuman /sanksi, dorongan ketaatan dan kepatuhan dapat diperlemah. Motivasi untuk hidup mengikuti aturan yang berlaku menjadi lemah. f. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif Disiplin sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar. Ha1 itu dicapai dengan merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru, dan bagi para siswa, serta peraturan-peraturan lain yang dianggap perlu. Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen. Dengan demikian, sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang aman, tenang, tenteram, tertib dan teratur. Lingkungan seperti ini adalah lingkungan yang kondusif bagi pendidikan. Dengan adanya disiplin maka proses belajar mengajar akan lebih terarah dan dapat mencapai tujuan pendidikan secara maksimal. Menurut Surya Subroto ( 2001:95) disiplin sangat penting bagi perkembangan anak karena memenuhi beberapa kebutuhan tertentu antara lain : 1. Memberi rasa aman dengan memberi tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. 2. Sebagai pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya. 3. Persiapan mental yang kuat 4. Anak belajar menafsir, bahwa pujian sebagai tanda rasa kasih sayang dan penerimaan. 5. Memungkinkan hidup menurut standar yang disetujui kelompok siswa. 6. Membantu anak mengembangkan hati nurani, suara hati, membimbing dalam mengambilkeputusan dan pengembangan tingkah laku. Jadi, disiplin memiliki fungsi yang sangat sentral dalam mendukung terlaksananya proses belajar mengajar siswa di sekolah. Dengan adanya disiplin maka tujuan pendidikan nasional akan mudah dicapai. Berkenaan dengan tujuan disiplin sekolah, Maman Abdurrahman (2001:123) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah: 1. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang 2. Mendorong siswa melakukan yang baik dan benar 3. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah 4. Siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya. Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penerapan disiplin sekolah adalah untuk mengontrol prilaku siswa untuk tidak menyimpang dari nilai-nilai moral. Hal ini untuk mendapatkan hasil belajar yang baik. Berdisiplin sangat penting bagi setiap siswa. Berdisiplin akan membuat seorang siswa memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses ke arah pembentukan watak yang baik. Selanjutnya, Suherman (2001:65) mengemukakan pula tentang pentingnya disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut: 1) Rasa hormat terhadap otoritas/ kewenangan Disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang kedudukannya, baik di kelas maupun di luar kelas, misalnya kedudukannya sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah. 2) Upaya untuk menanamkan kerja sama Disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan lingkungannya. 3) Kebutuhan untuk berorganisasi Disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi. 4) Rasa hormat terhadap orang lain Dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar mengajar, setiap siswa akan tahu dan memahami tentang hak dan kewajibannya, serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain. 5) Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan Dalam kehidupan selalu dijumpai hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin siswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya. 6) Memperkenalkan contoh perilaku tidak disiplin Dengan memberikan contoh perilaku yang tidak disiplin diharapkan siswa dapat menghindarinya atau dapat membedakan mana perilaku disiplin dan yang tidak disiplin. Displin sangat penting dalam sebuah organisasi, terlebih dalam dunia pendidikan. Dengan adanya disiplin yang tinggi maka proses belajar mengajar akan lancer untuk dilaksanakan. 2.2 Bentuk-Bentuk Disiplin Hadisubrata (2002:102) menyatakan bahwa teknik disiplin dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu "otoritarian, permisif, demokratis”. Ketiga ha1 itu penulis uraikan sebagai berikut: 1. Disiplin otoritarian Dalam disiplin otoritarian, peraturan dibuat sangat ketat dan rinci. Orang yang berada dalam lingkungan disiplin ini diminta mematuhi dan menaati peraturan yang telah disusun dan berlaku di tempat itu. Apabila gagal mentaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, akan menerima sanksi atau hukuman berat. Sebaliknya, bila berhasil memenuhi peraturan, kurang mendapat penghargaan atau hal itu sudah dianggap sebagai kewajiban. Jadi, tidak perlu mendapat penghargaan lagi. Disiplin otoritarian sangat menekankan kepatuhan dan ketaatan serta sanksi bagi para pelanggarnya. 2. Disiplin permisif Menurut Hadisubrata (2002:103) pengertian disiplin permisif adalah "suatu disiplin yang hadir dari dalam dirinya menurut kemauannya". Dalam disiplin ini seseorang dibiarkan bertindak menurut keinginannya. Kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. Disiplin ini tidak terjadi karena paksaan pihak lain. Disiplin permisif memberi kebebasan kepada siswa untuk mengambil keputusan dan tindakan. 3. Disiplin demokratis Pengertian disiplin demokratis menurut Hadisubrata (2002:105) adalah "suatu disiplin yang hadir dari dalam dirinya menurut kemauannya akan tetapi harus diberikan nasehat dan semangat agar seseorang berdisiplin". Pendekatan disiplin demokratis dilakukan dengan memberi penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak memahami mengapa diharapkan mematuhi dan mentaati peraturan yang ada. Disiplin demokratis menekankan kesadaran dan tanggung jawab. Syamsu Yusuf (2001:29) mengatakan bahwa "Dalam proses belajar mengajar pada lembaga pendidikan, disiplin sangat diperlukan. Disiplin dalam mencapai keberhasilan belajar bagi siswa ada dua tempat yaitu disiplin belajar di sekolah dan disiplin belajar di rumah". Disiplin belajar di sekolah adalah merupakan hal yang wajib yang harus diperhatikan oleh pendidik. Disiplin belajar dirumah merupakan tugas orang tua dalam menjaga anaknya untuk belajar dengan penuh kedisiplinan. Tulus Tu'u (2004:69) mengatakan bahwa: Yang dimaksud disiplin belajar di sekolah adalah keseluruhan sikap dan perbuatan siswa yang timbul dari kesadaran dirinya untuk belajar, dengan mentaati dan melaksanakan sebagai siswa dalam berbagai kegiatan belajarnya di sekolah, sesuai dengan peraturan yang ada, yang didukung adanya kemampuan guru, fasilitas, sarana dan prasarana sekolah. Siswa sebagai input dalam suatu proses pendidikan perlu selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sikap disiplin belajar perlu ditimbulkan pada diri siswa, sehingga hal tersebut dapat membawa pengaruh yang baik dalam usaha pencapaian prestasi belajarnya. Ada beberapa macam disiplin belajar yang hendaknya dilakukan oleh para siswa dalam kegiatan belajarnya di sekolah. Perilaku disiplin belajar siswa di sekolah dapat dibedakan menjadi empat macam ialah: a. Disiplin siswa hadir ke sekolah Yang dimaksud disiplin siswa hadir ke sekolah menurut Slameto (2003:37) adalah “keaktifan, kepatuhan dan ketaatan dalam masuk dan hadir ke sekolah tepat pada waktunya”. Artinya seorang siswa dikatakan disiplin masuk sekolah jika ia selalu aktif masuk sekolah pada waktunya, tidak pernah terlambat serta tidak pernah membolos setiap hari. Kebalikan dari tindakan tersebut yaitu yang sering datang terlambat, tidak masuk sekolah, banyak melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah, dan hal ini menunjukkan bahwa siswa yang bersangkutan kurang memiliki disiplin masuk sekolah yang baik. b. Disiplin siswa dalam mengerjakan tugas Mengerjakan tugas merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam belajar, yang dilakukan di dalam maupun di luar jam pelajaran sekolah. Tujuan dan pemberian tugas biasanya untuk menunjang pemahaman dan penguasaan mata pelajaran yang disampaikan di sekolah, agar siswa berhasil dalam belajarnya. Agar siswa berhasil dalam belajarnya perlu mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tugas itu mencakup pengerjaan PR, menjawab soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, ulangan harian, ulangan umum dan ujian. c. Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah Slameto (2003:63) mengatakan bahwa "Siswa yang memiliki disiplin belajar dapat dilihat dari keteraturan dan ketekunan belajarnya". Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah menuntut adanya keaktifan, keteraturan, ketekunan dan ketertiban dalam mengikuti pelajaran, yang terarah pada suatu tujuan belajar. d. Disiplin siswa dalam menaati tata tertib di sekolah Disiplin siswa dalam menjalankan tata tertib di sekolah adalah kesesuaian tindakan siswa dengan tata tertib atau peraturan sekolah yang ditunjukkan dalam setiap perilakunya yang selalu taat dan mau melaksanakan tata tertib sekolah dengan penuh kesadaran. Maka bentuk-bentuk disiplin tersebut harus dterapkan dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan. Dengan adanya disiplin maka prestasi belajar siswa akan tercapai secara maksimal. Semakin tinggi disiplin yang diterapkan di sekolah, maka akan semakin tinggi pula hasil belajar yang akan dicapai oleh siswa. 2.3 Penerapan Disiplin Sekolah yang Efektif Disiplin sangat penting bagi perkembangan anak didik. Hal tersebut menurutt Slameto (2002:42) memenuhi beberapa kebutuhan tertentu antara lain : 1. Memberi rasa aman dengan memberi tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. 2. Sebagai pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya. 3. Persiapan mental yang kuat 4. Anak belajar menafsir, bahwa pujian sebagai tanda rasa kasih sayang dan penerimaan. 5. Memungkinkan hidup menurut standar yang disetujui kelompok siswa. 6. Membantu anak mengembangkan hati nurani, suara hati, membimbing dalam mengambilkeputusan dan pengembangan tingkah laku. Disiplin sangat dibutuhkan dalam sebuah lemabaga pendidikan dalam menunjang proses belajar mebgajar. Mastuhu (2003:113) mengemukakan bahwa: Disiplin diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Disiplin mempunyai empat unsur pokok yaitu: Peraturan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam peraturan, hukuman untuk pelanggaran peraturan, dan penghargaan untuk perilaku yang baik yang sejalan dengan peraturan yang berlaku. Untuk lebih mengefektifkan penerapan disiplin, maka ada beberapa faktor yang harus dilakukan pihak sekolah antara lain sebagai berikut: 1. Peraturan Pengertian peraturan menurut Mastuhu (2003:112) adalah “pola yang ditetapkan untuk tingkah laku”. Pola tersebut mungkin ditetapkan orang lain, guru atau teman bermain. Tujuannya membekali anak dengan perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu misalnya peraturan sekolah dan peraturan di rumah. Fungsi peraturan adalah mempunyai nilai pendidikan sebab peraturan memperkenalkan kepada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok. Anak belajar dari peraturan tentang memberi dan mendapatkan bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa menyerahkan tugas yang dibuat sendiri merupakan satu-satunya metode yang dapat diterima disekolah untuk menilai prestasinya. Fungsi peraturan menurut Mastuhu (2003:115) adalah membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan, dalam hal ini siswa harus dapat meningkatkan disiplin belajar dengan cara : 1) Hadir di sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai. 2) Mengikuti semua kegiatan belajar mengajar dengan baik dan aktif. 3) Mengerjakan tugas-tugas dengan baik. 4) Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang dipilihnya. 5) Memiliki kelengkapan belajar misalnya buku dan alat belajar lainnya. 6) Mengikuti upacara hari besar agama, nasional serta acara lain yang diselenggarakan sekolah. 7) Berperan serta melaksanakan 5K. 8) Tidak meninggalkan sekolah/kelas sebelum mendapat ijin kepala sekolah/guru yang bersangkutan. 9) Mengikuti senam yang diselenggarakan di sekolah. 10) Mematuhi tata tertib sekolah. Pembudayaan disiplin tidak cukup hanya melalui peraturan tata tertib yang dirumuskan secara lisan atau tertulis saja. Keteladanan, dorongan serta bimbingan dalam bentuk-bentuk kongkrit sangat diperlukan bahkan keikutsertaan semua warga sekolah secara langsung akan lebih tepat dan berhasil. 2. Hukuman Menurut Starawaji (online:19/4/2011) fungsi hukuman ada tiga macam, yaitu : 1) Menghalangi, maksudnya hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. 2) Mendidik, sebelum anak mengerti peraturan mereka akan dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolehkan. 3) Memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. Hukuman yang bersifat mendidik akan dapat mempengaruhi tegaknya disiplin di sekolah. Hukuman akan mempengaruhi watak siswa yang melanggar aturan yang telah disepakati oleh sekolah dan peserta didik. Untuk penegakan disiplin, menurut Starawaji (online:19/4/2011) hukuman harus memenuhi suatu persyaratan yang baik, yaitu: 1) Hukuman harus disesuaikan dengan pelanggaran, dan harus mengikuti pelanggaran sedini mungkin sehingga anak-anak akan mengasosiasikan keduanya. 2) Hukuman yang diberikan harus konsisten sehingga ank itu akan mengetahui kapan saja suatu peraturan dilanggar, hukuman tidak dapat dihindari. 3) Hukuman harus konstruktif sehingga memberi motivasi untuk yang disetujui secara sosial di masa mendatang. 4) Adapun bentuk hukuman yang diberikan, sifatnya hars impersonal sehingga anak itu tidak akan menginterpretasikannya sebagai “kejahatan” si pemberi hukuman. 5) Hukuman tidak boleh membuat anak merasa terhina atau menimbulkan rasa permusuhan. 6) Hukuman harus mengarah ke pembentukan hati nurani untuk menjamin pengendalian perilaku dari dalam di masa mendatang. 3. Penghargaan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:168), istilah penghargaan berarti “tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik”. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung. Fungsi penghargaan menurut Dalyono (2001:121) ada tiga macam yaitu : 1) Mempunyai nilai mendidik. Bila suatu tindakan disetujui, anak merasa hal itu baik. 2) Mempunyai nilai penghargaan yang berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. 3) Penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, tiada penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku ini. Berdasarkan uraian di atas betapa pentingnya penghargaan yaitu sebagai motivasi anak untuk lebih giat belajar dalam mencapai hasil belajar yang baik. dengan adanya pengahargaan maka minat belajar akan lebih tinggi hadir dalam diri siswa. 4. Konsistensi Pengertian konsistensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:256) adalah ”tingkat keseragaman atau stabilitas”. Bila disiplin itu konstan akan ada kebutuhan perkembangan yang berubah. Konsistensi ini harus menjadi ciri semua aspek disiplin. Harus ada konsistensi dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam cara peraturan yang diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak menyesuaikan pada standar, dan dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan. Fungsi konsistensi menurut Dalmono (2002: 36) ada tiga macam, yaitu: 1) Mempunyai nilai mendidik yang besar 2) Konsistensi mempunyai nilai motivasi yang kuat. 3) Konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa. Konsistensi sangat membantu siswa dalam mendorong minat siswa untuk belajar yang baik dan tekun. Hal ini dapat mendorong siswa untuk meraih prestasi. Penerapan disiplin yang efektif akan dapat melahirkan kesadaran siswa dalam berdisiplin di lembaga pendidikan. Dengan disiplin yang tinggi maka siswa akan dapat meraih prestasi yang lebih baik. 2.4 Pengertian Belajar dan Prestasi Belajar 2.4.1 Pengertian Belajar Untuk memahami tentang pengertian belajar maka akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa pendapat para ahli tentang detinisi tentang belajar. Menurut W. S. Winkel (dalam Max Darsono, 2000:4) mengemukakan bahwa "belajar adalah suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap". Belajar merupakan suatu usaha dalam menghasilkan suatu perubahan mental manusia. Menurut Slameto (2003:2), "belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya". Belajar merupakan suatu usaha yang berasal dari berbagai macam pengalaman yang lahir dari hasil interaksi antara lingkungan sekitar. Menurut Mc. Beach (dalam Lih Bugelski, 1956:56), "belajar merupakan pembawa perubahan dalam performance, dan pembahan itu sebagai akibat dan latihan". Belajar merupakan suatu usaha perubahan yang lahir dari pelatihan. Menurut Morgan, dkk (1984:69), mengatakan bahwa "belajar merupakan perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan (practice) atau karena pengalaman (experience)". Menurutnya belajar merupakan hasil pelatihan dan perjalanan pengalaman yang tertuang dalam perubahan tingkah laku seseorang. Menurut Hilgarde dan Bower (1975:54) mengemukakan bahwa: Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubaban tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan, pematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengarub obat, dan sebagainya). Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa yang dimaksud belajar dalam penelitian ini yaitu suatu proses yang menghasilkan suatu perubahan watak dan mental seseorang dari tingkah laku yang kurang baik menjadi lebih baik. 2.4.2 Pengertian Prestasi Belajar Menurut Tulus Tu’u (2004:75) menyatakan “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”. Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran di sekolah atau di perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Sementara prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Hasil evaluasi tersebut didokumentasikan dalam buku nilai guru dan wali kelas serta arsip yang ada di bagian administrasi kurikulum sekolah. Selain itu, hasil evaluasi juga disampaikan kepada siswa dan orang tua melalui buku yang disampaikan pada waktu pembagian rapor akhir semester, kenaikan atau kelulusan. Jadi, prestasi belajar siswa terfokus pada nilai atau angka yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut terutama dilihat dari sisi kognitif, karena aspek ini yang sering dinilai oleh guru untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai ukuran pencapaian hasil belajar siswa. Nana Sudjana (1990:23) mengatakan “diantara ketiga ranah ini, yakni kognitif, afektif, psikomotorik, maka ranah kognitiflah yang paling sering dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran”. Karena itu, unsur yang ada dalam prestasi siswa terdiri dari hasil belajar dan nilai siswa. 2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Membicarakan tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan, seperti: kehidupan sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Di lingkungan internal sekolah pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering ditemukan yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi, seperti : kasus bolos, perkelahian, nyontek, pemalakan, pencurian dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya.Tentu saja, semua itu membutuhkan upaya pencegahan dan penanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin sekolah. Disiplin sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi siswa menurut Merson U. Sangalang (2001:45) terdiri dari "kecerdasan, bakat, minat dan perhatian, motif, kesehatan, cara belajar, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, sekolah dan sarana pendukung belajar”. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi hasil dan prestasi belajar siswa pada sebuah lembaga pendidikan. Agar hal ini menjadi lebih jelas, diuraikan berikut ini: 1. Faktor kecerdasan Biasanya, kecerdasan hanya dianggap sebagai kemampuan rasional matematis. Rumusan di atas menunjukkan kecerdasan menyangkut kemampuan yang luas, tidak hanya kemampuan rasional memahami, mengerti, memecahkan problem, tetapi termasuk kemampuan mengatur perilaku berhadapan dengan lingkungan yang berubah dan kemampuan belajar dari pengalamannya. Slameto (2002:36) mengatakan bahwa "kecerdasan sangat mempengaruhi hasil belajar seseorang". 2. Faktor bakat Pengertian bakat menurut Winarno Surachman (2000:25) adalah "kemampuan yang ada pada seseorang yang dibawanya sejak lahir, yang diterima sebagai warisannya dari orang tua". Bagi seorang siswa, bakat bisa berbeda dengan siswa lain. Ada siswa yang berbakat dalam bidang ilmu sosial, ada yang di ilmu pasti. Karena itu, seorang siswa yang berbakat di bidang ilmu sosial akan sukar berprestasi tinggi di bidang ilmu pasti, dan sebaliknya. Bakat-bakat yang dimiliki siswa tersebut apabila diberi kesempatan dikembangkan dalam pembelajaran, akan dapat mencapai prestasi yang tinggi. Seorang siswa ketika akan memilih bidang pendidikannya, sebaiknya memperhatikan aspek bakat yang ada padanya. Untuk itu, sebaiknya bersama orang tuanya meminta jasa layanan psikotes untuk melihat dan mengetahui bakatnya. 3. Faktor minat dan perhatian Slameto (2002:37) mengartikan minat sebagai "kecenderungan yang besar terhadap sesuatu". Kecenderungan tersebut lahir dari jiwa dan kesadaran seseorang. Slameto (2002:38) juga mendevinisikan perhatian sebagai "melihat dan mendengar dengan baik dan teliti terhadap sesuatu". Minat dan perhatian biasanya berkaitan erat. Apabila seorang siswa menaruh minat pada satu pelajaran tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikannya dengan baik. Minat dan perhatian yang tinggi pada mata pelajaran akan memberi dampak yang baik bagi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, seorang siswa harus menaruh minat dan perhatian yang tinggi dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan minat dan perhatian yang tinggi, kita boleh yakin akan berhasil dalam pembelajaran. 4. Faktor motif Winarno Surachman (2000:25) mendefinisikan motif sebagai "dorongan yang membuat seseorang berbuat sesuatu". Motif selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam belajar, kalau siswa mempunyai motif yang baik dan kuat, hal itu akan memperbesar usaha dan kegiatannya mencapai prestasi yang tinggi. Siswa yang kehilangan motivasi dalam belajar akan memberi dampak kurang baik bagi prestasi belajarnya. 5. Faktor cara belajar Keberhasilan studi siswa dipengaruhi juga oleh cara belajarsiswa. Cara belajar yang efisien memungkinkan mencapai prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan cara belajar yang tidak efisien. Cara belajar yang efisien menurut Winarno Surachman (2000:30) sebagai berikut: a) Berkonsentrasi sebelum dan pada saat belajar. b) Segera mempelajari kembali bahan yang telah diterima. c) Membaca dengan teliti dan baik bahan yang sedang dipelajari, dan berusaha menguasainya dengan sebaikbaiknya. d) Mencoba menyelesaikan dan melatih mengerjakan soal-soal. 6. Faktor lingkungan keluarga Sebagian waktu seorang siswa berada di rumah. Orang tua, dan adik kakak siswa adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Winarno Surachman (2000:30) mengemukan bahwa "keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada prestasi siswa". Maka orang tua sudah sepatutnya mendorong, memberi semangat, membimbing dan memberi teladan yang baik kepada anaknya. Selain itu, perlu suasana hubungan dan komunikasi yang lancar antara orang tua dengan anak-anak serta keadaan keuangan keluarga yang tidak kekurangan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup dan kelengkapan belajar anak. Ha1-hal tersebut ikut mempengaruhi prestasi belajar siswa. 7. Faktor sekolah Slameto (2002:85) mengatakan bahwa "sekolah adalah lingkungan kedua yang berperan besar memberi pengaruh pada prestasi belajar siswa". Oleh karena itu, sekolah merupakan lingkungan pendidikan yang sudah terstruktur, memiliki sistem dan organisasi yang baik bagi penanaman nilai-nilai etik, moral, mental, spiritual, disiplin dan ilmu pengetahuan. Apalagi bila sekolah berhasil menciptakan suasana kondusif bagi pembelajaran, hubungan dan komunikasi per orang di sekolah berjalan baik, metode pembelajaran aktif interaktif, sarana penunjang cukup memadai, siswa tertib disiplin. Maka, kondisi kondusif tersebut mendorong siswa saling berkompetisi dalam pembelajaran. Keadaan ini diharapkan membuat hasil belajar siswa akan lebih tinggi. Jadi, keberhasilan siswa mencapai hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor itu terdiri dari tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai bakat yang dimiliki, ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran variatif yang dikembangkan guru. Suasana keluarga yang memberi dorongan anak untuk maju. Selain itu, lingkungan sekolah yang tertib, teratur, disiplin, yang kondusif bagi kegiatan kompetisi siswa dalam pembelajaran. Faktor penghambat kedisiplinan merupakan faktor yang harus dihindari pada sebuah lembaga pendidikan. Bila ada hambatan dalam penegakan kedisiplinan maka proses belajar mengajar akan berakibat fatal. Dan tujuan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan akan tidak dapat dicapai sebagaimana mestinya. Menurut Tulus Tu’u (2004:119) pelanggaran disiplin dapat terjadi karena tujuh hal yaitu: 1. Disiplin sekolah yang kurang direncanakan dengan baik dan mantap 2. Perencanaan yang baik, tetapi implementasinya kurang baik dan kurang dimonitor oleh kepala sekolah. 3. Penerapan disiplin yang tidak konsisten dan tidak konsekuen. 4. Kebijakan kepala sekolah yang belum memprioritaskan peningkatan dan pemantapan disiplin sekolah. 5. Kurang kerjasama dan dukungan guru-guru dalam perencanaan dan implementasi disiplin sekolah. 6. Kurangnya dukungan dan partisipasi orang tua dalam menangani disiplin sekolah, secara khusus siswa yang bermasalah. 7. Siswa di sekolah tersebut banyak yang berasal dari siswa bermasalah dalam disiplin diri. Mereka ini cenderung melanggar dan mengabaikan tata tertib sekolah”. Ketujuh hal tersebut harus dihindari oleh lembaga pendidikan, karena hal tersebut merupakan penghambat tujuan tegaknya kedisiplinan yang sangat berpengaruh pada tujuan pendidikan nasional. Dan hal tersebut tidak akan melahirkan kedisiplinan pada sebuah lembaga pendidikan. 2.6 Pengaruh Disiplin terhadap Prestasi Belajar Disiplin adalah sikap patuh terhadap peraturan yang berlaku, sikap disiplin sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sikap tersebut dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif untuk belajar, dengan bersikap disiplin siswa dapat mencapai tujuan belajar. Sardiman (2003:122) mengatakan bahwa “Disiplin merupakan kunci keberhasilan bagi orang-orang yang ingin sukses dan jembatan menuju cita-cita". Sikap disiplin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Apabila seorang siswa memiliki sikap disiplin dalam kegiatan belajarnya, maka kepatuhan dan ketekunan belajarnya akan terus meningkat sehingga membuat prestasi belajar meningkat. Jadi apabila siswa memiliki sikap disiplin yang tinggi dalam kegiatan belajar tentunya prestasi belajar yang diperoleh menjadi baik. Sebaliknya jika siswa tidak memiliki sikap disiplin dalam belajar maka kegiatan belajarnya tidak terencana dengan baik sehingga kegiatan belajarnya tidak teratur dan membuat prestasi belajar akan menurun. Intan Qurratul Ain (2007:96) mengatakan bahwa “Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor individual maupun sosial. Salah satu faktor individual yang sangat berperan dalam menentukan prestasi belajar siswa adalah disiplin belajar". Dan beberapa faktor sosial yang memberikan kontribusi yang besar terhadap pencapaian prestasi belajar adalah faktor lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku ,dan tata kehidupan berdisiplin, yang akan mengantar seorang siswa sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Disiplin dalam belajar bagi siswa merupakan keharusan bagi siswa yang ingin memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Disiplin belajar kaitannya dengan ketertiban dalam melakukan aktivitas siswa, dimana siswa diharapkan dapat mengerahkan energinya untuk belajar secara kontinu, melakukan belajar dengan kesungguhan dan tidak membiarkan waktu luang serta patuh terhadap peraturan yang ada di lingkungan belajar. Peraturan sekolah yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif untuk kegiatan belajar. Tanpa ketertiban, suasana kondusif bagi pembelajaran akan terganggu sehingga akan menghambat proses pencapaian prestasi belajar. Dalam mencapai suatu prestasi, siswa harus memiliki rasa disiplin yang tinggi khususnya disiplin individu yang dimulai dalam lingkungan kecil yaitu keluarga dan dibawa ke lingkungan yang lebih besar yaitu sekolah. Disiplin individu ini harus dilatih terus menerus yang pada akhirnya menjadi kebiasaan bukan suatu paksaan sehingga dapat memperlancar dalam mencapai suatu prestasi dan menuju kearah sikap yang lebih baik. Penerapan disiplin turut berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal ini dapat terlihat pada siswa yang memiliki disiplin yang tinggi akan belajar dengan baik dan teratur dan akan menghasilkan prestasi yang baik. Demikian sebaliknya faktor – faktor belajar turut berpengaruh terhadap tingkat disiplin individu. Jadi tingkat kedisiplinan suatu lembaga pendidikan akan berpengaruh pada tingkat hasil belajar siswa. Maka disiplin adalah kunci sukses dalam mencapai keberhasilan belajar. Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa hal, menurut Winarno Surachman (2000:30) diantaranya yaitu "disiplin belajar siswa, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah". Satu hal yang dapat dikatakan ketika seorang siswa banyak melanggar disiplin sekolah, pertumbuhan dan perkembangan potensi dan prestasinya akan terhambat. Terhambatnya potensi dan prestasi itu dikarenakan konsentrasi belajarnya terganggu karena banyak masalah dalam dirinya. Kegiatan dan waktu pembelajaran banyak terganggu dan tersita karena ia harus berurusan dengan guru-guru atau menjalani sanksi disiplin. Atau karena kegiatan yang dapat dilakukan siswa merupakan kegiatan yang kurang mendukung bagi perkembangan potensi dan prestasinya. Sebaliknya seorang siswa yang berusaha menata dirinya terbiasa dengan hidup tertib, teratur, menaati peraturan dan norma yang berlaku di sekolah maupun di rumah. Apalagi bila menambahnya dengan kegigihan dan kerja keras dalam belajar. Potensi dan prestasinya akan bertumbuh dan berkembang optimal. Oleh karena itu, disiplin yang diterapkan dengan baik di sekolah maupun di rumah akan memberi andil bagi pertumbuhan dan perkembangan prestasi siswa. Penerapan disiplin belajar di sekolah maupun di rumah akan mendorong, memotivasi dan memaksa para siswa bersaing meraih prestasi. Jadi, disiplin belajar di sekolah maupun di rumah menjadi factor dominan dalam mempengaruhi prestasi siswa. Bahkan memungkinkan siswa memiliki ciri keunggulan. Pengaruh pertama dan utama bagi kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan seseorang adalah pengaruh keluarga. Hal ini disebabkan keluarga merupakan orang-orang terdekat bagi seorang anak. Banyak sekali kesempatan dan waktu bagi seorang anak untuk berjumpa dan berinteraksi dengan keluarga. Perjumpaan dan interaksi tersebut sudah pasti sangat besar pengaruhnya bagi prestasi siswa. Kondisi lingkungan keluarga yang baik cenderung memberi stimulus dan respons yang baik dari anak sehingga prestasinya menjadi baik. Perhatian orang tua terhadap pendidikan anak sangat berarti. Sebaliknya, jika lingkungan keluarga tidak baik, kecenderungan besar akan berdampak negatif bagi perkembangan siswa. Prestasi cenderung terhambat. Disini, muncul siswa-siswa bermasalah dalam perilaku disiplin dan prestasinya. Lingkungan sekolah juga mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Keluarga tidak bisa hanya mendidik anak di lingkungan keluarga saja. Karena anak membutuhkan wadah untuk mengembangkan potensinya yaitu sekolah. Dengan adanya sekolah, siswa akan lebih luas pengetahuannya. Walaupun tidak bisa lepas dari dukungan keluarga. Sekolah dapat menciptakan suasana kondusif bagi proses pendidikan asalkan manajemen sekolah dikembangkan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang baik. Disiplin sekolah diorganisasikan oleh Kepala Sekolah bekerja sama dengan para guru dan mendapat dukungan orang tua. Hal ini berdampak besar bagi perkembangan prestasi siswa. Sebaliknya, sekolah yang kurang menekankan perencanaan dan implementasi disiplin, akan banyak ditemukan siswa yang bermasalah dalam perilaku sehingga prestasinya pun kurang memuaskan. Hal ini dapat dimengerti karena perhatian masalah disiplin yang kurang dari Kepala Sekolah dan para guru. Siswa yang bermasalah dalam disiplin kurang ditangani dengan baik. Kondisi tersebut menghambat perkembangan prestasi siswa. Sarana fisik dan fasilitas di lingkungan sekolah juga sangat mendukung kelancaran proses belajar dan mengajar. Dengan sarana dan fasilitas yang memadai siswa akan lebih bersemangat dalam belajar. Sehingga akan memacu dirinya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Faktor disiplin belajar memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap prestasi belajar siswa. Oleh karena itu peneliti menyarankan dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, hendaknya guru dapat lebih meningkatkan disiplin belajar siswa, melalui pemberian tugas rumah dengan frekuensi yang lebih sering dan dikoreksi agar siswa berusaha belajar di rumah secara mandiri. Selain itu siswa sebaiknya mengatur waktu belajar di rumah dan belajar secara teratur dengan cara mengulang kembali materi pelajaran di rumah, mempersiapkan materi pelajaran untuk esok harinya dan mengerjakan latihan di rumah.